Mabur.co- Jembatan Kereta Api (KA) Pangukan yang terletak di Dusun Pangukan, Tridadi, Sleman, telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Keberadaannya bersebelahan dengan jembatan Jalan KRT Pringgodiningrat yang menghubungkan Beran dengan Cebongan dan Sleman.
Jembatan KA Pangukan yang berada di atas Sungai Bedog masih memiliki rel lengkap beserta bantalan, besi pengait, dan baut skrupnya. Jembatan ini konon menjadi saksi bisu kejayaan industri gula di wilayah Yogyakarta.
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Selasa (9/6/2026), industri gula di wilayah Yogyakarta berkembang sekitar era 1870-an.
Saat itu, pemerintah Hindia Belanda mengesahkan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) yang salah satunya berisi tentang aturan keterbukaan pihak swasta bagi perekonomian kolonial.

Para pengusaha swasta pun berbondong-bondong melakukan penanaman modal di wilayah Hindia Belanda, terutama di sektor pertanian dan perkebunan.
Dengan kondisi geologi dekat dengan Gunung Merapi, wilayah Yogyakarta memiliki kelebihan berupa tanah yang subur dan air melimpah.
Atas pertimbangan inilah Yogyakarta dianggap cocok untuk dijadikan lokasi dalam mengembangkan usaha di bidang pertanian dan perkebunan.
Selain karena pengesahan Agrarische Wet, pesatnya perkembangan industri gula di Yogyakarta diduga juga dilatarbelakangi oleh masa tanam paksa atau cultuur stelsel tahun 1830-1850. Salah satu komoditi yang laku di pasaran adalah tanaman tebu.
19 Pabrik Gula
Tak tanggung-tanggung, terdapat sekitar 19 pabrik gula yang berkembang di wilayah Yogyakarta pada masa itu.
Beberapa pabrik gula yang pernah berdiri di wilayah Yogyakarta adalah PG Medari, PG Cebongan, PG Sewugalur, PG Gesikan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Barongan, PG Padokan, PG Demakijo, PG Rewulu, PG Sedayu, PG Klaci, PG Sendangpitu, PG Kedaton Plered, PG Pundong, PG Kalasan, PG Randugunting, PG Wonocatur, dan PG Beran.
Sebagai upaya untuk melancarkan bisnis gula di wilayah Yogyakarta, diperlukan sistem transportasi yang memadai. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pun membuat sistem transportasi dengan kereta api (lori).

Tim Kerja Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPUPKP Sleman, Suparman, ST.MT, menjelaskan, Jembatan Pangukan ini sudah tak dilewati kereta sejak tahun 1970-an setelah jembatan KA di Sungai Krasak, Tempel putus dihantam banjir lahar Merapi.
“Ada banyak bangunan stasiun kecil di wilayah Sleman yang sudah tak ada bekasnya. Jalur ini juga menghubungkan wilayah Magelang, Parakan Temanggung, Secang hingga Ambarawa dan Semarang. Sebagian besar rel kereta juga sudah hilang,” ujarnya saat diwawancarai mabur.co via telepon, Selasa (9/6/2026).
Sistem Sendi dan Rol
Suparman mengatakan pula, jembatan ini memiliki keunikan yaitu pada empat sudut ujung bawah jembatan terdapat Sistem Sendi dan Rol.
Sendi dan rol memiliki tinggi 52 cm dengan penampang persegi berukuran 60 cm x 60 cm. Pada Rol terdapat enam roda masing-masing berdiameter 15 cm, yang dihubungkan dengan plang besi sepanjang 68 cm.
“Sistem rol terdapat di ujung bawah sisi timur sedangkan sistem sendi berada di ujung bawah sisi barat. Konstruksi rol dan sendi yang terletak di ujung-ujung jembatan, yang berfungsi untuk mengatasi stabilitas konstruksi jembatan dari gaya tekan dan geser, getaran saat kereta api melintas,” katanya.
Suparman mengatakan pula, sistem konstruksi tersebut merupakan inisiatif dari Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) atau Perusahaan Kereta Api Swasta pada masa Pemerintahan Belanda, sistem ini ditujukan untuk menghindari patah atau lengkung pada jembatan pada saat dilewati beban berat.
Dengan sistem tersebut Jembatan Rel Kereta Api Pangukan tidak akan mengalami masalah ketika dilewati kereta api dengan beban yang lebih besar dari jembatan itu sendiri.
“Secara konstruksi, merupakan satu-satunya tinggalan dengan sistem rol di ujung timur dan sistem sendi di ujung barat,” katanya.
Salah satu warga yang tinggal di dekat jembatan, Nugroho mengatakan, banyak mahasiswa yang datang untuk mempelajari jembatan ini.
“Mereka yang datang sering memotret bagian atas jembatan dan tembok di pinggir sungai. Yang dipelajari selain tembok fondasi bawah juga bangunan lengkung yang jadi penyangga,” katanya.

