Mabur.co – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki sejumlah infrastruktur berupa jembatan ikonik yang tersebar di sejumlah wilayah. Salah satunya adalah Jembatan Kabanaran yang menghubungkan Kabupaten Kulon Progo dan Bantul.
Jembatan yang diresmikan November 2025 ini bahkan menjadi infrastruktur jembatan terpanjang sekaligus salah satu ikon infrastruktur serta destinasi wisata baru di pesisir selatan DIY.
Dibangun sejak November 2023 dengan anggaran lebih dari Rp863 miliar, jembatan ini dirancang mampu menghadapi berbagai risiko bencana alam yang mengancam wilayah pesisir selatan Jawa.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Kabanaran, Setiawan Nugroho, menjelaskan bahwa jembatan dengan total panjang 2,3 kilometer serta bentang utama sepanjang 675 meter dan lebar sekitar 24 meter ini dirancang tahan menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.
Terlebih lokasi jembatan ini berada di kawasan muara Pantai Trisik atau sekitar 10 kilometer dari Sesar Opak yang merupakan kawasan rawan bencana gempa bumi hingga tsunami.
“Pondasi jembatan dibuat hingga kedalaman sekitar 30 meter. Selain itu, struktur jembatan dilengkapi teknologi Lead Rubber Bearing (LRB) yang berfungsi menyerap getaran saat terjadi gempa,” ujarnya.
Teknologi tersebut membuat jembatan diklaim mampu bertahan terhadap guncangan gempa hingga magnitudo 9.

Ketahanan ini dinilai penting mengingat kawasan sekitar juga memiliki karakteristik tanah berpasir dan dangkal yang rentan mengalami likuefaksi atau pencairan tanah saat gempa besar terjadi.
Selain mengutamakan aspek keamanan, Jembatan Kabanaran juga hadir dengan sentuhan budaya lokal. Pada bagian tengah jembatan terdapat ornamen berbentuk gunungan, sementara area plaza pejalan kaki didesain menyerupai bangunan joglo. Lampu penerangan jalan juga dibuat dengan bentuk serupa sebagai representasi identitas budaya Yogyakarta.
Menjelang peresmian oleh Presiden Republik Indonesia, nama Jembatan Pandansimo resmi diubah menjadi Jembatan Kabanaran. Perubahan tersebut merupakan usulan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang menilai nama baru lebih mencerminkan sejarah dan identitas wilayah setempat.
Lurah Kalurahan Banaran, Galur, Haryanto mengatakan, nama Kabanaran diambil dari sejarah kawasan Banaran yang memiliki keterkaitan dengan cikal bakal berdirinya Keraton Yogyakarta.
“Nama Kabanaran memiliki nilai historis yang kuat. Kawasan ini dahulu dikenal sebagai lokasi padepokan yang memiliki peran penting dalam sejarah Yogyakarta,” katanya.

Menurutnya, penggunaan nama tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah sekaligus memperkuat identitas kawasan di sekitar jembatan.
Saat ini Jembatan Kabanaran sendiri sedikit banyak mulai memberikan dampak bagi perekonomian sekitar. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi kawasan ini mendorong munculnya warung-warung kuliner di sekitar jembatan.
Termasuk juga mulai munculnya sejumlah objek wisata baru seperti wisata perahu yang menawarkan jasa menyusur kawasan muara Sungai Progo dengan latar panorama jembatan Kabanaran yang memesona.
Kehadiran Jembatan Kabanaran ini pun diharapkan tidak hanya memperlancar akses menuju kawasan wisata dan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), tetapi juga meningkatkan pendapatan warga khususnya di jalur lintas selatan DIY.

