Aku Kuat? Ataukah Aku Hanya Tidak Punya Pilihan?

9 Min Read
Tea picker wearing a conical hat harvests tea leaves in a lush green plantation, basket on back.
Perempuan pemetik teh di pegunungan (Sumber: jelajahlangkah.com)

“Perempuan itu kuat.”

Kalimat itu sering terdengar seperti pujian. Diucapkan dengan kagum ketika seorang ibu membesarkan anak seorang diri. Diulang ketika seorang istri tetap bertahan menghadapi kesulitan ekonomi. Diberikan kepada perempuan yang tetap tersenyum meski sedang menyimpan luka yang tidak diketahui siapa pun.

Namun, semakin sering aku mendengarnya, semakin aku bertanya-tanya: benarkah semua perempuan yang terlihat kuat itu memang kuat? Ataukah mereka hanya tidak punya pilihan selain terus berjalan? Apakah perempuan itu benar-benar memilih, atau sebenarnya sedang dipaksa oleh struktur sosial, budaya, ekonomi, dan hukum yang membatasi pilihannya?

Ketangguhan perempuan sering kali merupakan manifestasi dari constrained agency, yaitu kemampuan bertindak yang dijalankan dalam ruang pilihan yang dibatasi oleh relasi kuasa, struktur patriarki, dan ketidaksetaraan sosial.

Oleh karena itu, yang perlu diubah bukan semata-mata kemampuan perempuan untuk bertahan, melainkan struktur yang membuat perempuan merasa tidak memiliki pilihan selain bertahan.

Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi pribadi yang tahan banting. Perempuan diajarkan untuk mengalah, memahami, dan berkorban. Perempuan diajarkan bahwa menjadi perempuan berarti harus siap menanggung banyak hal.

Saat seorang anak laki-laki menangis, orang mungkin berkata, “Sudahlah, jangan cengeng.” Tetapi ketika seorang anak perempuan menangis, sering kali ia mendengar kalimat yang lebih berat: “Kamu harus kuat.” Kata “kuat” menjadi beban yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa perempuan baik adalah perempuan yang mampu menahan sakit tanpa banyak mengeluh. Perempuan yang tetap tersenyum meski hatinya remuk. Perempuan yang mampu mengurus semua orang sebelum memikirkan dirinya sendiri.

Lambat laun, kita tidak lagi tahu perbedaan antara ketangguhan dan keterpaksaan.

Aku melihat banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga apapun sebab dan alasannya. Setiap hari semua pekerjaan rumah harus ia kerjakan seorang diri sebelum ia mencari nafkah. Ia bangun sebelum matahari terbit. Ia memasak, bekerja, mengurus anak, dan menyelesaikan berbagai urusan rumah tangga seorang diri.

Orang-orang memujinya. “Kamu hebat.” “Kamu perempuan kuat.” “Kami salut padamu.” Ia hanya tersenyum.

Namun suatu hari, ketika kami berbicara lebih lama, ia berkata pelan, “Aku sebenarnya capek.” Kalimat itu keluar seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah bertahun-tahun ditahan. “Aku tidak kuat. Aku hanya tidak punya pilihan. Kalau aku berhenti, anak-anak makan apa?”

Saat itu aku sadar bahwa banyak pujian yang kita berikan kepada perempuan sering kali menutupi kenyataan yang sebenarnya. Di balik ketangguhan yang dipuji, ada kelelahan yang tidak pernah mendapat ruang.

Di balik senyum yang dikagumi, ada kesedihan yang tidak pernah sempat dirasakan dengan utuh. Di balik keberhasilan bertahan, ada banyak mimpi yang terpaksa dikorbankan.

Masyarakat sering mengagungkan perempuan yang mampu menanggung semuanya. Ibu yang bekerja sekaligus mengurus rumah dianggap luar biasa. Perempuan yang tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan dianggap sabar. Anak perempuan yang memikul tanggung jawab keluarga sejak muda dianggap dewasa.

Tetapi jarang ada yang bertanya: mengapa mereka harus menanggung semuanya sendirian? Mengapa beban itu begitu berat hingga ketahanan menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup? Mengapa ketika perempuan kewalahan, yang diberikan justru pujian atas kekuatannya, bukan bantuan yang nyata?

Kadang-kadang, menyebut perempuan kuat menjadi cara paling mudah untuk mengabaikan penderitaan mereka. Karena jika kita mengakui bahwa mereka sebenarnya kelelahan, maka kita juga harus mengakui bahwa ada sistem, budaya, atau keadaan yang membuat mereka terus memikul beban yang tidak adil.

Dan itu jauh lebih sulit. Karena terasa seperti serangkaian kewajiban tanpa jeda. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada keluarga yang harus diperhatikan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.

Setiap hari harus dijalani semuanya seperti mesin. Orang-orang melihat produktivitas. Mereka melihat pencapaian. Mereka melihat perempuan yang terus bergerak. Tidak ada yang tahu bahwa sering kali ia hanya bertahan satu hari demi satu hari.

Perempuan tidak sedang menunjukkan kekuatan. Ia hanya sedang berusaha agar tidak runtuh. Perbedaannya sangat besar. Kekuatan adalah pilihan. Sedangkan bertahan karena keadaan adalah keterpaksaan. Namun dari luar, keduanya terlihat sama.

Perempuan sering kali tidak diberi kesempatan untuk menjadi lemah. Ketika seorang laki-laki kelelahan, masyarakat lebih mudah memahami. Ketika seorang perempuan kelelahan, ia justru ditanya mengapa tidak mampu mengatur semuanya dengan baik. Banyak perempuan akhirnya berupaya memendam semuanya sendiri.

Mereka belajar menyembunyikan air mata. Mereka belajar menutupi kecemasan. Mereka belajar berkata “aku baik-baik saja” bahkan ketika sebenarnya tidak baik-baik saja.

Lalu masyarakat melihat mereka dan berkata, “Lihat, perempuan memang kuat.” Padahal yang terjadi adalah hanya karena mereka tidak diberi ruang untuk menunjukkan bahwa mereka juga manusia.

Banyak pula perempuan yang harus bertahan dalam ketidakbahagiaan. Bukan karena ia kuat menghadapi luka. Melainkan karena ia tidak punya pilihan. Dari luar, orang melihat ketabahannya. Dari dalam, ia sedang berjuang melawan ketakutan setiap hari.

Apakah itu kekuatan? Mungkin. Tetapi sering kali itu adalah bentuk keterpaksaan yang tidak memiliki jalan keluar. Ketika pilihan-pilihan hidup begitu sempit, bertahan bukan lagi keputusan heroik. Bertahan hanyalah satu-satunya kemungkinan yang tersedia.

Aku percaya bahwa perempuan memang memiliki kemampuan luar biasa untuk bangkit dari berbagai kesulitan. Namun aku juga percaya bahwa tidak semua ketangguhan lahir dari pilihan yang bebas.

Banyak perempuan menjadi kuat karena keadaan memaksa mereka. Mereka menjadi mandiri karena tidak ada yang bisa diandalkan. Mereka menjadi sabar karena tidak ada ruang untuk marah. Mereka menjadi tahan banting karena hidup tidak memberi kesempatan untuk runtuh. Dan kita perlu jujur mengakui kenyataan itu.

Karena ketika kita terus-menerus memuja ketangguhan perempuan tanpa memahami sumbernya, kita berisiko menormalisasi penderitaan mereka. Kita mulai menganggap bahwa perempuan memang seharusnya mampu memikul semua beban. Salah satu hal paling membebaskan yang pernah aku pelajari adalah bahwa tidak apa-apa untuk mengakui kelelahan.

Tidak apa-apa mengatakan, “Aku tidak sanggup.” Tidak apa-apa meminta bantuan. Tidak apa-apa menangis. Tidak apa-apa beristirahat. Tidak ada yang menjadi kurang berharga hanya karena tidak mampu menanggung semuanya sendirian.

Sayangnya, banyak perempuan merasa bersalah ketika melakukan hal-hal tersebut. Mereka takut dianggap lemah. Takut dianggap gagal. Takut mengecewakan orang lain. Padahal menjadi manusia bukanlah tentang selalu kuat. Menjadi manusia adalah tentang mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus meminta pertolongan.

Hari ini, jika ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada perempuan-perempuan yang sedang memikul banyak hal, itu adalah ini:

Kamu tidak harus selalu kuat.

Kamu tidak harus selalu tersenyum.

Kamu tidak harus selalu terlihat baik-baik saja.

Kamu tidak harus membuktikan nilai dirimu melalui penderitaan yang kamu tahan.

Jika kamu lelah, akuilah bahwa kamu lelah.

Jika kamu sedih, izinkan dirimu bersedih.

Jika kamu membutuhkan bantuan, mintalah bantuan.

Karena keberanian terbesar bukan selalu tentang bertahan.

Kadang-kadang keberanian terbesar adalah mengakui bahwa kita sedang kewalahan.

Karena dunia yang adil bukanlah dunia yang dipenuhi perempuan-perempuan tangguh akibat keterpaksaan. Dunia yang adil adalah dunia yang memberi perempuan pilihan.

Pilihan untuk meminta bantuan.

Pilihan untuk mengatakan tidak.

Pilihan untuk hidup tanpa harus terus-menerus membuktikan kekuatannya.

Dari perspektif feminis, ketangguhan itu sering kali bukan hasil dari kebebasan memilih, melainkan hasil dari kondisi yang memaksanya untuk bertahan. 

Dan jika suatu hari seorang perempuan berkata, “Aku tidak kuat,” semoga kita tidak buru-buru membantahnya. Semoga kita tidak segera menjawab, “Tidak, kamu kuat.”

Semoga kita cukup bijak untuk mendengar. Karena mungkin yang sedang ia butuhkan bukan pengakuan atas ketangguhannya. Melainkan seseorang yang memahami bahwa selama ini ia bertahan bukan karena kuat. Melainkan karena ia tidak punya pilihan. ***

Share This Article
Dewi Sukma Kristianti
Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment