Kaset Pita, Cakram Digital, hingga Vinyl Jadul Masih Diburu Kolektor

6 Min Read
Cluttered room with shelves holding old electronics, cassette tapes, and CDs scattered on tables and shelves.
Ratusan barang elektronik jadul terlihat berada di stan pameran Pasar Kangen Jogja. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Ratusan barang elektronik  jadul terlihat berada di stan pameran Pasar Kangen Jogja.  Kaset pita maupun cakram digital hingga kini masih tetap eksis di tengah gempuran platform musik digital. Bagi para penggemarnya, koleksi rilisan fisik itu bukan sekadar mengenang memori masa lalu.

Sejumlah pemusik, termasuk pemusik indie dan pendatang baru, hingga kini masih terus memproduksi rilisan fisik seperti kaset pita, cakram digital hingga vinyl. Di kalangan kolektor, rilisan fisik ini menjadi buruan dengan harga gaib.

Stack of vinyl records in a display rack, with a large black LP at the front in a shop window/standuee context.
Kaset pita maupun cakram digital hingga kini masih tetap eksis di tengah gempuran platform musik digital. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mendengarkan musik kini serba praktis dan taktis. Berbagai format bisa diputar melalui satu alat saja, ponsel pintar.

Kondisi ini tentu berbeda dengan puluhan tahun silam. Pada saat itu, orang yang ingin mendengarkan musik perlu memiliki rilisan fisik, kaset pita, salah satunya. 

Di tengah kemudahan akses memutar musik seperti itu, terdapat beberapa orang yang tetap setia pada kaset pita.

Alasannya beragam, mulai dari kepuasan memegang rilisan fisik hingga ajang nostalgia. Di bawah ini beberapa alasan asyiknya menjadi kolektor kaset pita: 

Secara kualitas, suara kaset pita memang tidak sebagus dengan suara yang diputar di berbagai platform pemutar musik. Namun, ada kesan khas dan organik dari kaset pita. Hal ini yang banyak dirindukan orang. 

Inside a bright market stall with tables and racks of magazines and compact discs; a man in a black shirt browses the items while others browse in the background, colorful pennant banners overhead.
Sejumlah pemusik, termasuk pemusik indie dan pendatang baru, hingga kini masih terus memproduksi rilisan fisik seperti kaset pita, cakram digital hingga vinyl. Di kalangan kolektor, rilisan fisik ini menjadi buruan dengan harga gaib. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Selain itu, ternyata banyak orang rindu mendengarkan musik dengan alat pemutar. Mereka kangen dan menekan tombol play. Mereka juga rindu menunggu giliran trek lagu kesukaan di antara banyak trek yang ada.

Man wearing a black T-shirt browses vinyl records at a booth, with shelves of records and colorful pennant banners above.
Di tengah kemudahan akses memutar musik, terdapat beberapa orang yang tetap setia pada kaset pita. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Era memutar musik mungkin sudah serba digital, tapi masih ada beberapa musisi yang mencetak rilisan fisik. Bahkan jumlahnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Kanal distribusinya pun kian menggeliat dengan bangkitnya toko-toko rilisan fisik maupun penjualan online. 

Membeli dan mengoleksi rilisan fisik bisa menjadi bentuk apresiasi penggemar kepada musisi atau band. Termasuk, mendukung ekosistem musik yang melingkupinya. 

Man wearing a Nirvana T-shirt stands in a cluttered shop with shelves of CDs and vintage items in the background.
 Pemilik Dcell Jogja Store, Asriyadi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Pemilik Dcell Jogja Store, Asriyadi, mengatakan, usaha ini lahir dari rasa kecintaannya terhadap musik sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Akan tetapi, dikarenakan dulu masih memiliki keterbatasan ekonomi, sehingga tidak bisa memiliki walk man dan compact cassette atau kaset.

Padahal, memiliki barang tersebut pada zaman dulu tergolong mewah, dikarenakan harga jual yang juga mahal.

“Lulus SMA, saya mulai cari-cari kerja dan mulai ngumpulin alat-alat sekitar tahun 2015-2016. Saya dulu kerja di toko handphone dan ada basic untuk servis handphone, jadi mulai otak-atik di sana. Tapi, saya mulai jenuh otak-atik handphone. Ketika ada waktu luang selesai kerja mulai otak-atik walk man sendiri,” terangnya, Jumat (26/6/2026).

Usaha Mandiri

Asriyadi mengatakan pula, sekitar tahun 2017-2018, ia mulai terjun membuka toko konter handphone mandiri di Kota Yogyakarta.

Namun, saat pulang ke rumah, ia tetap menyempatkan waktu untuk mengotak-atik barang walk man miliknya. Ternyata, kegiatannya  diketahui oleh teman-temannya.

Apalagi, ia  kerap mencari walk man dan perangkat digital jadul lainnya.

“Tiba-tiba ada teman yang coba perbaiki walk man dan lainnya di tempat saya. Permintaan teman untuk perbaiki walk man, piringan hitam, dan sebagainya itu, ternyata semakin banyak,” katanya.

Row of vintage portable radios and cassette players lined up on a display shelf in a store.
Walk man pada zaman dulu tergolong mewah, dikarenakan harga jual yang mahal. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Asriyadi mengatakan pula, kebanyakan pelanggannya adalah Gen Z atau mahasiswa khususnya di jurusan tertentu.

Misalnya, mahasiswa perfilman atau Ilmu Komunikasi. Beberapa milenial juga datang untuk membeli walk man atau memperbaiki tape recorder.

“Ada juga yang sewa buat syuting atau mengerjakan tugas. Mulai dari anak Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), DOES University, banyak pokoknya,” ucapnya.

Asriyadi menuturkan juga, menjual kaset pita atau piringan hitam (vinyl). Beberapa lagu yang sering dibeli dan dicari berasal dari band Oasis, Radio Head, Pumpkin, Pink Floyd, hingga ABBA.

“Harganya mulai dari Rp20 ribu tapi tergantung juga karena biasanya ada barang yang sulit dicari,” jelasnya.

Asriyadi menjelaskan, sedangkan untuk walk man ia jual dengan range harga Rp125 ribu hingga Rp200 ribu.

Biasanya, walk man dengan harga Rp125 ribu kualitasnya sudah standar karena barangnya sudah lawas, biasanya harus ditunggu dulu hingga benar-benar menyala.

“Ibaratnya motor itu harus dipanasi dulu. Tapi kalau yang harganya Rp200 ribu, aku jamin kualitasnya sudah bagus,” katanya.

Asriyadi memaparkan, beberapa orang mulai menganggap walk man atau tape recorder bukan hanya media pemutar musik, tapi pintu menuju kenangan untuk kembali ke masa lalu.

“Aku pun mulai mengenal musik analog dari paman dan ibuku saat SMP. Aku masih ingat, mereka suka play lagu-lagunya Westlife, Bryan Adams, sampai Michael Jackson. Dari situ referensi musik-musikku makin banyak, serta punya keinginan mengoleksi.

Untuk koleksi saya mencapai 200 radio dan tape recorder, 1.000 lebih kaset pita dengan berbagai genre dan lintas tahun. Ia juga menyediakan musik analog seperti compact disc, piringan hitam, dan amplifier,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment