Mabur.co- Matahari kian condong ke barat dan pengunjung semakin berjubel di halaman Taman Budaya Yogyakarta, tempat acara Pasar Kangen digelar.
Ratusan pengunjung terus mengalir menyusuri ratusan stan yang ditata menjadi semacam labirin. Kaki-kaki kecilku juga terus melangkah, kali ini tujuan langkahku adalah di salah satu stan penjual buku lawas Pasar Kangen Jogja.
Salah satu penjual buku lawas, Widodo mengatakan, di Pasar Kangen Jogja, menjual buku-buku lama, koran lama karena sesuai tema yang diangkat yaitu Pasar Kangen Ana Upaya, Ana Upa, Merawat Kenangan, Menjaga Warisan Budaya.
“Saya sudah lama ikut dalam gelaran Pasar Kangen sejak 2007 hingga sekarang. Kegiatan ini sangat bagus sekali dan bisa meningkatkan ekonomi rakyat. Barang-barang yang dulu tidak berharga, sekarang berharga,“ ucapnya, Jumat (26/6/2026).

Widodo mengatakan, pertama kali ikut sempat ditolak, alasannya sederhana, buku dianggap tidak punya nilai historis setinggi jam tangan tua, piringan hitam, atau kaset pita lawas. Namun ia tetap gigih menawarkan produk pada penyelenggara.
“Saya percaya, buku-buku antik justru menyimpan sejarah yang tak kalah berharga,” katanya.
Widodo menjelaskan, koleksinya memang berbeda. Mayoritas berupa edisi terbatas, cetakan lama, hingga buku berbahasa asing yang banyak mengulas kebudayaan Indonesia.
Aneka Buku
Sangat disayangkan jika buku-buku yang mengulas kebudayaan Indonesia justru tidak diturutsertakan dalam pagelaran budaya seperti ini.
“Bagi orang yang paham dan suka. Buku-buku ini punya nilai jual yang tinggi,” jelasnya.
Widodo menjelaskan, pernah sempat didatangi oleh sepasang suami istri yang mencari cetakan majalah lama. Ia menyimpan banyak edisi majalah tersebut di rumahnya.
Keesokan hari suami istri tersebut datang memberikan apa yang mereka cari. Usut punya usut ternyata buku tersebut adalah permintaan dari saudara pembeli yang berkebutuhan khusus.
Sepasang suami istri asal Godean, Sleman, tersebut sudah mencari ke mana-mana dan akhirnya menemukan di lapak buku loak miliknya.
“Ibunya sampai berulang-ulang bilang terima kasih ke saya, terharu sepertinya,” kenangnya.
Widodo mengatakan lagi, berdagang di Pasar Kangen TBY bukan hanya soal keuntungan. Lebih dari itu, ia merasa ikut menjaga ingatan kolektif lewat lembar-lembar buku lawas yang dibawanya.
Setiap cerita dari pengunjung yang menemukan kembali bacaan lama menjadi penguat keyakinannya bahwa buku antik tetap punya tempat istimewa di hati pecinta budaya.
Di tengah hiruk pikuk kuliner dan barang jadul lainnya, lapaknya menjadi pengingat bahwa nostalgia tak hanya bisa dinikmati lewat rasa dan benda, tetapi juga melalui pengetahuan yang tersimpan dalam halaman buku. ***

