Bangunan Bekas Penjara Sjahrir dan Tan Malaka Siap Jadi Ikon Wisata Sejarah Madiun

4 Min Read
Abandoned white building with arched doorways around a dirt courtyard, a large tree in the foreground and a pile of branches in the center.
Rumah Tahanan Militer di Jalan A Yani Kota Madiun. (Foto: Azizah via Google Maps)

Mabur.co– Setelah bertahun-tahun dibiarkan mangkrak, Pemerintah Kota Madiun berencana menghidupkan kembali Rumah Tahanan Militer (RTM) yang terletak di Jl Ahmad Yani, Pangongangan, Manguharjo, sebagai destinasi wisata sejarah.

Bangunan peninggalan Belanda yang juga sering disebut Bekas Penjara kecil ini diketahui memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk digunakan sebagai lokasi penahanan sejumlah tokoh pergerakan nasional, seperti Sutan Sjahrir hingga Tan Malaka.

Selain menjadi daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas kawasan budaya kota Madiun, bangunan ini juga diharapkan dapat menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat khususnya generasi muda.  

Potensi Ikon Wisata Sejarah Madiun

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun, Bagus Panuntun mengatakan, RTM memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu ikon wisata sejarah di Kota Madiun.

Menurutnya, bangunan tersebut menyimpan kisah yang layak dikenalkan kepada generasi muda sekaligus menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang ingin menelusuri jejak sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

“RTM ini memiliki potensi besar untuk mendatangkan wisatawan karena memiliki cerita sejarah. RTM nantinya akan diintegrasikan dengan sejumlah bangunan cagar budaya lain dalam satu jalur wisata sejarah,” ujar Bagus dikutip Kompas, Kamis (2/7/2026).

Rencana pengembangan RTM ini merupakan bagian dari program walking tour heritage yang tengah disiapkan Pemerintah Kota Madiun.

Dalam konsep tersebut, wisatawan dapat berjalan kaki menyusuri berbagai bangunan bersejarah yang berada di pusat kota.

Selain Rumah Tahanan Militer, jalur wisata juga akan menghubungkan sejumlah bangunan cagar budaya lain yang ada di sekitar kawasan ini seperti Balai Kota Madiun, Bakorwil, Gereja Santo Cornelius, hingga SD Santo Bernardus.

Dengan jarak antarlokasi yang relatif berdekatan, kawasan ini diharapkan menjadi koridor wisata sejarah yang nyaman dinikmati wisatawan sambil mengenal perkembangan Kota Madiun dari masa ke masa baik sejak era kolonial hingga sekarang.

Pertahankan Corak Arsitektur Asli Bangunan

Dalam proses penataannya, Pemerintah Kota Madiun mengaku akan tetap mempertahankan bentuk maupun corak arsitektur asli bangunan untuk menjaga nilai sejarah yang ada.

Karena itu sebelum pemugaran dilakukan, Pemkot Madiun mengaku akan mempelajari berbagai dokumen terlebih dahulu untuk mengetahui bentuk asli Rumah Tahanan Militer tersebut seperti saat awal pembangunannya.

“Kami akan melihat terlebih dahulu dokumentasi dan foto-foto bangunan aslinya. Setelah itu baru ditentukan konsep penataan maupun fungsi tambahannya,” kata Bagus.

Selain menjadi ruang edukasi sejarah, kawasan RTM ini nantinya juga akan dirancang menjadi lokasi atau spot fotografi dengan nuansa bangunan kolonial yang autentik.

Gagasan menghidupkan kembali Rumah Tahanan Militer muncul setelah Bagus bersama sejumlah pegiat sejarah menelusuri kawasan Jalan Pahlawan yang dikenal memiliki banyak bangunan peninggalan kolonial.

Lokasi RTM yang berada tidak jauh dari Balai Kota dinilai sangat strategis untuk dikembangkan sebagai bagian dari kawasan heritage sekaligus memperkuat identitas sejarah Kota Madiun.

Pemerintah berharap keberadaan kawasan tersebut mampu memperpanjang lama kunjungan wisatawan dan membuka peluang tumbuhnya sektor ekonomi kreatif di sekitarnya.

Komandan Komando Resor Militer (Korem) 081/Dhirotsaha Jaya, Kolonel Arm. Untoro Hariyanto, mengaku menyambut baik rencana tersebut. 

Ia menilai pemanfaatan Rumah Tahanan Militer sebagai destinasi wisata sejarah merupakan langkah positif untuk menjaga warisan sejarah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Konsep yang disiapkan Pak Wali merupakan wisata sejarah yang sangat baik. Untuk itu kami mendukung penuh konsep tersebut,” ujarnya.

Menurut Untoro, pelestarian bangunan bersejarah bukan hanya menjaga memori masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi mengenai perjuangan bangsa sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.

Dengan dihidupkannya kembali Rumah Tahanan Militer Belanda, Kota Madiun diharapkan akan segera memiliki destinasi wisata baru yang tidak sekadar menawarkan bangunan tua, tetapi juga menghadirkan kisah perjuangan tokoh-tokoh bangsa demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia. *** 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar