Mabur.co – Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengimplementasikan ajaran Tamansiswa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kepada generasi muda.
Salah satunya adalah mengajarkan tradisi patok lele, yakni permainan tradisional yang berasal dari Sumatra Barat.
Sejumlah mahasiswa dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) turut memperkenalkan tradisi ini kepada anak-anak Komunitas BMW 10, yang berkumpul di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Kehati (Keanekaragaman Hayati), yang berlokasi di Demangan, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, belum lama ini.
Permainan patok lele tidak diajarkan melalui cara yang biasa, melainkan diperkenalkan dengan mengusung pola Tri-N (Niteni, Nirokke, Nambahi) dan Tri-Nga (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni), yang dipadukan dengan dimensi VISTA (Visionary Insights for Student Transformation and Achievement).
Visionary, yaitu semangat menumbuhkan kreativitas lewat denah lapangan dan revitalisasi budaya. Insights adalah melatih literasi bilingual serta sportivitas melalui instruksi permainan.
Kemudian Student Transformation artinya mengasah numerasi dan sains kontekstual saat menghitung skor dan menjelaskan gaya momentum, Taman Integration yakni dengan menanamkan karakter Tetep–Antep–Mantep, melalui peran wasit dan pencatat skor.
Serta yang terakhir adalah Achievement, yakni mampu menghasilkan output kreatif berupa penulisan refleksi pengalaman dalam bentuk cerita dan komik strip, baik dalam versi bahasa Inggris maupun Indonesia.
Metode tersebut sejalan dengan nilai dan karakter Tamansiswa, yang digagas oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.
Lebih Mudah Menerima Materi
Melalui metode semacam ini, anak-anak bisa belajar tentang konsistensi, keberanian, dan kepercayaan diri melalui peran sebagai wasit, pencatat skor, sekaligus pemain secara bergiliran.
Awalnya anak-anak merasa ragu untuk menulis instruksi dalam bahasa Inggris, namun setelah dipraktikkan dalam bentuk permainan patok lele tersebut, mereka pun jadi lebih percaya diri.
Selain itu, dukungan moril dari masyarakat setempat juga ikut menguatkan mereka, untuk mengatasi setiap tantangan yang ada.
Anak-anak setempat pun mulai menggemari tradisi patok lele, di saat anak-anak seusia mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan “nunduk” (bermain hape). Apalagi permainan ini juga sanggup menjadi sarana belajar bahasa asing dan sains yang efektif serta mudah dipahami.
Dengan penerapan dimensi VISTA terhadap permainan tradisional seperti patok lele, ajaran Tamansiswa tetap mampu ditumbuhkan di lingkungan masyarakat sehari-hari, sekaligus sebagai bagian dari inovasi pendidikan berbasis budaya lokal, yang mampu menumbuhkan literasi bilingual, numerasi, IPA, dan seterusnya.
Dan tentu saja, seluruh metode di atas tetap mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa harus meninggalkan tradisi kearifan lokal di tiap-tiap daerah. (*)

