Mabur.co- Keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat Ahmad Roby untuk berwirausaha. Penyandang tuna rungu ini bahkan bisa menciptakan peluang kerja bagi orang lain.
Ahmad Roby mengatakan, awal buka usaha dulu dibantu beberapa teman tuli lainnya.
“Saat pandemi, kami sempat tutup dan sekarang berjalan kembali. Namun baru saya sendiri yang mengelola, menjadi owner sekaligus barista,” jelas Roby melalui Kurnelia Sukmawati sebagai juru bahasa isyarat, Kamis (9/7/2026).

Roby mengatakan, teman-teman tuna rungu juga seharusnya dianggap setara dengan teman-teman pada umumnya.
Jika diapresiasi, maka itu semua sebagai penghargaan atas karya atau usaha. Bukan karena rasa belas kasihan.
“Saya lebih nyaman dengan sebutan tuli dibandingkan tuna rungu. Ini karena menurut pemahaman, tuna rungu itu kondisi kerusakan yang masih bisa disembuhkan. Sementara tuli tidak. Saya pun sudah berusaha berdamai dengan situasi tersebut. Saya mengalami kondisi tuli sejak usia 10 bulan. Penyebabnya, waktu itu panas tinggi setelah jatuh dari tempat tidur hingga menyebabkan kehilangan pendengaran pada diri saya,” ungkapnya.

Robi mengatakan pula, pelanggan bisa memesan produk usahanya berupa susu murni, susu dengan berbagai varian rasa, susu blended, serta kopi, dan teh.
Selain itu, ada pula sejumlah menu camilan yang ditawarkan. Harga menu susunya cukup terjangkau mulai dari Rp8.000.
Menu Kasuli juga bisa dipesan melalui sejumlah aplikasi pengantaran makanan.
“Ke depan pengin inovasi, seperti pengembangan menu latte. Sekarang masih keterbatasan alat, jadi masih cari ide baru dengan alat manual,” katanya.

