AI Tak Dianjurkan Jadi Metode Praktis Penulisan Karya Sastra

2 Min Read
Sastrawan Satmoko Budi Santoso (tengah) dan sastrawan Latief Noor Rochmans (kanan) dengan moderator Afifah Abasrin (kiri) berbicara tentang pengaruh AI terhadap karya sastra bagi sastrawan muda masa kini. (Foto: Kanal YouTube Bang Tedi Way)

Mabur.co – Kehadiran teknologi informasi yang begitu masif di era saat ini, seperti misalnya AI (Artificial Intelligence), rupanya telah ikut mengubah cara manusia dalam beraktivitas, termasuk dalam membuat karya sastra.

Banyak sastrawan muda yang kini menggantungkan AI sebagai tools dalam men-generate ide-ide baru, sekaligus sebagai alat untuk menghasilkan karya sastra itu sendiri, sebagai hasil akhir yang akan dibaca atau diperlihatkan kepada masyarakat luas.

Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, karena teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia.

Namun penggunaannya tetap harus dengan kehati-hatian yang sangat tinggi. Karena AI tidak didesain untuk benar-benar menggantikan pekerjaan manusia seutuhnya, apalagi pekerjaan dalam menghasilkan karya sastra.

“Kalau menurut saya AI tetap bisa saja difungsikan, tapi hanya sebagai alat bantu, untuk merangsang tumbuhnya ide-ide. Tapi tidak untuk membuatkan (hasil akhir karya sastra), gitu loh. Jadi batasannya di situ,” papar sastrawan asal Bantul, Satmoko Budi Santoso, dalam sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Muda Jogja”, yang merupakan salah satu bagian dari Festival Literasi Jogja 2026, yang digelar di halaman depan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Haram AI

Sementara bagi Latief Noor Rochmans, yang juga hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi tersebut, justru mengharamkan total penggunaan AI, sekalipun hanya sebagai pemantik ide atau semacamnya.

“Kalau saya sama sekali mengharamkan (penggunaan AI). Karena saya sebagai redaktur dan juga penulis, tidak pernah menggunakan itu (AI) sama sekali. Kenapa? Banyak data yang salah. Dan kenyataannya, banyak teman penulis yang juga nulis pakai AI, dan datanya itu selalu salah, padahal cuman hal-hal sepele loh,” ucap Latief di kesempatan yang sama.

Bagi Latief, keaslian atau orisinalitas sebuah karya sangatlah penting bagi sastrawan muda. Karena dari sanalah namanya akan dikenal luas oleh masyarakat, dan tentu saja bukan karena hasil bantuan dari AI dan semacamnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar