Sastra, Rekreasi Intelektual, dan Pentingnya Konsistensi Menghasilkan Karya

3 Min Read
Latief Noor Rochmans (kanan) berbicara mengenai pentingnya konsistensi dalam aktivitas kepenulisan, karena itulah yang menjadi kunci sukses profesi penulis. (Foto: Kanal YouTube Bang Tedi Way)

Mabur.co – Dunia kepenulisan karya sastra ibarat ruang alternatif bagi rekreasi intelektual.

Dalam rekreasi intelektual khususnya dalam proses penulisan karya sastra, bisa saja tidak lepas dari yang namanya stuck atau buntu. Penulis seringkali mengalami rasa bosan, jenuh, kehilangan motivasi, atau sulit menemukan ide baru ketika menjalani proses menulis.

Namun untuk mengatasi hal tersebut, semuanya harus kembali pada diri sendiri. Karena diri sendirilah yang mengetahui seberapa stuck dirinya di dalam proses penulisan karya sastra, dan bagaimana ia melewati setiap hambatan tersebut.

Bagi sastrawan asal Sleman, Latief Noor Rochmans, aktivitas menulis adalah bagaimana memacu diri sendiri untuk selalu konsisten, dan tidak pernah menyerah dengan keadaan apa pun, meskipun di tengah perjalanan kadangkala menemukan rasa bosan dan lain sebagainya.

Jangan Menunda Eksekusi Gagasan

“Jadi kuncinya kalau ingin jadi penulis yang bagus itu ya berproses sejak awal, dinikmati, dan jangan mengeluh, lalu tidak putus asa. Dan yang pasti juga dilakukan (segera menulis), jangan ditunda,” ungkap Latief Noor Rochmans, saat mengisi sesi diskusi bertajuk “Quo Vadis Sastrawan Jogja” dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Jogja 2026, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Latief menambahkan, satu hal lain yang tak kalah penting dari proses menulis adalah rajin membaca. Karena setiap penulis hebat pasti juga rajin membaca, sekaligus mempraktikkan apa yang dibacanya tersebut, untuk diterapkan dalam gaya kepenulisannya di kesempatan berikutnya.

“Yang tak kalah penting juga harus banyak membaca. Buku apa saja boleh (untuk dibaca), buku ‘sampah’ pun nggak papa. Kan nanti kalau sudah terbiasa (membaca), maka buku ‘sampah’ pasti akan ditinggalkan. Dan jangan lupa isi buku tersebut diimplementasikan, dan mengimplementasikannya kalau bisa jangan di medsos, tapi di media. Misalnya media online, supaya nama kita nanti nyantol di Google pas dicari,” tambah Latief.

Latief juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis, untuk bisa belajar darinya dan teman-teman sastrawan lainnya, agar bisa menerapkan konsistensi tersebut dalam setiap aktivitas kepenulisan yang dilakukan.

Sehingga ketika benar-benar ditekuni dan diseriusi dengan sungguh-sungguh, hasil yang diperoleh akan benar-benar menakjubkan, bahkan di luar ekspektasi awal, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar