25 Arak-arakan Kelompok Masyarakat Ramaikan Tradisi Saparan Bekakak 

3 Min Read
Group of men in ceremonial outfits and uniformed officers performing a traditional ritual on a stage, while the crowd records with phones.
Ritual penyembelihan boneka Bekakak dalam tradisi Saparan Bekakak (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Sekitar 25 arak-arakan rombongan turut memeriahkan tradisi Saparan Bekakak di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang digelar Jumat (17/7/2026) sore.

Diikuti ribuan warga masyarakat dari berbagai daerah, tradisi ini dimulai dengan prosesi kirab dan pawai budaya yang terdiri dari pasukan bregada, gunungan berisi hasil bumi, boneka bekakak, hingga sejumlah ogoh-ogoh. 

Dimulai dari kantor Kalurahan Ambarketawang, rombongan kemudian berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju kompleks situs Gunung Gamping yang merupakan lokasi pesanggrahan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebelum membangun Keraton Yogyakarta. 

Penyembelihan Boneka Bekakak

Di lokasi inilah ritual penyembelihan boneka bekakak yang terbuat dari tepung beras, ketan, serta gula merah cair dilakukan. Yakni sebagai bentuk doa keselamatan sekaligus ungkapan syukur agar masyarakat terhindar dari bencana.

A man in a red ceremonial uniform leads a parade down a street with cheering spectators on both sides.
Kemeriahan warga dalam suasana tradisi Saparan Bekakak. (Foto: JH Kusmargana)

Masyarakat yang sejak siang memenuhi kawasan ini pun turut merayah atau memperebutkan beras ketan dari boneka bekakak, termasuk juga berbagai uba rampe gunungan berisi aneka macam hasil bumi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Ishadi Zayid, mengatakan, tradisi Saparan Bekakak digelar untuk mengenang jasa-jasa Ki Wirasuta yang merupakan abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I.  

Ia merupakan sosok Abdi Dalem yang selalu mendampingi Sri Sultan HB 1 termasuk memayungi raja pertama Kasultanan Yogyakarta itu saat berada di Pesanggrahan Ambarketawang sekitar tahun 1755 atau saat Keraton Yogyakarta masih dalam proses pembangunan. 

“Saat Keraton Yogyakarta akhirnya selesai dibangun, Sultan HB I kemudian meninggalkan Pesanggrahan Ambarketawang. Namun Ki Wirasuta dan istri tetap tinggal di sini,” katanya.

Tak lama setelah itu, sebuah bencana pun terjadi di kawasan Gunung Gamping yang merupakan kawasan pertambangan batu gamping. Terdapat seorang warga penambang yang tertimbun batu hingga meninggal. 

Colorful fruit pyramid float carried by a crowd during a street festival, with people taking photos under a clear blue sky.
Warga tumpah ruah merayakan tradisi Saparan Bekakak. (Foto: JH Kusmargana)

“Mengetahui berita itu Sri Sultan kemudian mengirimkan utusan. Beliau meminta dilakukan upacara selamatan salah satunya dengan menyembelih bekakak,” katanya.

Nilai Luhur Membersihkan Hal Negatif

Zayid mengatakan, selain sebagai bagian pelestarian budaya warisan leluhur, tradisi Saparan Bekakak ini juga menyimpan nilai luhur yakni untuk membersihkan hal-hal negatif atau tidak baik.

“Sehingga dengan adanya tradisi ini masyarakat diharapkan dapat rahmat keselamatan dan keberkahan dari Tuhan YME,” katanya.

Sementara itu, Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, mengatakan, tradisi Saparan Bekakak telah menjadi identitas budaya yang tak bisa dilepaskan dari masyarakat Ambarketawang Gamping.

Karena itu tradisi ini akan terus digelar rutin setiap tahun. Selain untuk melestarikan budaya leluhur, tradisi ini juga sangat penting dalam membangun rasa guyub, gotong royong, serta persatuan masyarakat Ambarketawang. 

“Mudah-mudahan tradisi ini bisa terus berjalan hingga generasi-generasi mendatang,” pungkasnya. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar