Pemerintah Resmikan Perpustakaan Ranggawarsita, Apa Saja Koleksinya?

5 Min Read
Pujangga besar Nusantara, Ranggawarsita. Foto: bloranews

Mabur.co – Selama puluhan tahun, ribuan buku, hasil penelitian, katalog, hingga transliterasi naskah kuno tentang kebudayaan Indonesia diterbitkan pemerintah. 

Namun, sebagian besar koleksi berharga itu tersebar di berbagai unit kerja, tersimpan di rak-rak arsip, bahkan sulit diakses oleh masyarakat maupun peneliti.

Menyikapi hal itu, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan akhirnya mendirikan perpustakaan khusus yang diproyeksikan menjadi pusat dokumentasi sekaligus rujukan utama berbagai publikasi kebudayaan Indonesia yang selama ini belum terhimpun dalam satu tempat.

Perpustakaan Ranggawarsita di Kantor Kementerian Kebudayaan

Perpustakaan khusus tersebut diberi nama Perpustakaan Ranggawarsita dan berlokasi di Gedung E Lantai 1, Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. 

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan, gagasan pendirian Perpustakaan Ranggawarsita muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya karya intelektual tentang kebudayaan yang belum dikelola secara terpadu.

Four men in batik shirts cut a white floral ribbon during a ceremonial opening, flanked by two large flower arrangements in a modern lobby.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat meresmikan Perpustakaan Ranggawarsita. (Foto: X @fadlizon)

Sehingga diperlukan wadah untuk bisa mengakses semua karya intelektual baik buku, hasil penelitian, transliterasi naskah, maupun berbagai publikasi kebudayaan lainnya dalam satu lokas

“Karena itu kami menghimpunnya dalam Perpustakaan Ranggawarsita agar tidak berhenti menjadi arsip yang tersimpan. Tetapi menjadi pengetahuan yang hidup, mudah diakses masyarakat, serta terus memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang,” kata Fadli dilansir dari rilis resmi yang diterima mabur.co, Senin (20/7/2026) malam.

Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan budaya yang sangat besar. Sayangnya, banyak hasil penelitian, dokumentasi, hingga katalog yang selama ini belum mudah dijangkau publik karena tersimpan di berbagai lembaga maupun unit pelaksana teknis di daerah.

Melalui Perpustakaan Ranggawarsita, seluruh publikasi tersebut secara bertahap akan dihimpun dalam satu ekosistem pengetahuan yang saling terhubung. Tidak hanya koleksi fisik, Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan digitalisasi berbagai koleksi agar dapat diakses lebih luas.

“Kami ingin memastikan seluruh produk pengetahuan yang dihasilkan Kementerian Kebudayaan, baik buku, katalog, hasil penelitian maupun publikasi lainnya, dapat diakses publik secara berkelanjutan. Perpustakaan ini kami harapkan menjadi ruang belajar, ruang riset, sekaligus pusat referensi kebudayaan Indonesia yang terus berkembang,” ujarnya.

Pujangga Besar Nusantara

Nama Ranggawarsita sendiri dipilih sebagai penghormatan kepada Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga besar Nusantara yang dikenal sebagai salah satu intelektual paling berpengaruh dalam sejarah Jawa. 

Melalui penamaan tersebut, pemerintah berharap semangat literasi, penelitian, dan pelestarian ilmu pengetahuan dapat terus hidup di tengah masyarakat.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Aminudin Aziz, menilai kehadiran perpustakaan khusus ini menjadi langkah penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan kebudayaan.

Menurutnya, perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, melainkan menjadi ruang kolaborasi dan pusat lahirnya berbagai gagasan baru.

“Perpustakaan adalah ruang yang menyimpan khazanah pengetahuan yang harus dapat diakses masyarakat untuk memahami masa lalu dan membangun masa depan. Kami meyakini Perpustakaan Ranggawarsita tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar, ruang kolaborasi, dan pusat layanan pengetahuan kebudayaan,” ujarnya.

Perpusnas juga menyatakan siap memberikan pendampingan dalam pengelolaan perpustakaan, mulai dari pembinaan kelembagaan, peningkatan kompetensi pustakawan hingga pengembangan layanan agar keberadaannya memberi manfaat yang semakin luas.

Hal senada disampaikan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mego Pinandito. Ia menilai perpustakaan dan arsip merupakan dua elemen yang saling melengkapi dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Menurut Mego, buku, naskah, dan arsip tidak boleh hanya disimpan sebagai dokumen sejarah, tetapi harus dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Arsip tidak hanya disimpan, tetapi harus terus dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kami siap mendukung pengembangan Perpustakaan Ranggawarsita melalui penyediaan sumber-sumber arsip yang relevan untuk memperkaya khazanah pengetahuan kebudayaan Indonesia,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan juga menerima Sertifikat Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) dari Perpustakaan Nasional. 

Sertifikat tersebut menjadi pengakuan resmi atas keberadaan Perpustakaan Ranggawarsita sekaligus menjadi dasar penguatan tata kelola, pengembangan jejaring, dan peningkatan kualitas layanan perpustakaan.

Ke depan, Perpustakaan Ranggawarsita diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat riset, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan kebudayaan Indonesia. 

Dengan menghimpun berbagai publikasi yang selama ini tersebar, perpustakaan ini diharapkan mampu memastikan warisan intelektual bangsa tetap terjaga sekaligus lebih mudah diakses oleh masyarakat, akademisi, hingga generasi muda yang ingin mengenal kekayaan budaya Indonesia lebih dalam.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar