Mabur.co – Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia mengenal sosok Pangeran Diponegoro melalui sebuah gambar wajah ikonik yang sangat populer.
Dalam gambar tersebut, Pangeran Diponegoro selalu ditampilkan menyerupai sosok pria berjanggut, mengenakan sorban putih serta memiliki tatapan tajam. Salah satu yang paling mencolok adalah bentuk wajahnya yang tirus.
Tak hanya menghiasi buku-buku pelajaran di sekolah, gambar sosok Pangeran Diponegoro itu juga selalu dipakai di berbagai monumen dan karya seni lainnya di Indonesia.
Gambar Saat Sakit Malaria
Namun, di balik potret yang begitu ikonik itu tersimpan fakta sejarah yang belum banyak diketahui publik. Siapa sangka sosok Pangeran Diponegoro yang selama ini dikenal luas ternyata merupakan gambaran sang pangeran saat sedang ditawan Belanda dan menderita penyakit malaria.
Hal tersebut ada dalam sejumlah sumber termasuk dalam penelitian berjudul “Romantisisme Potret Pangeran Diponegoro: Sebuah Penciptaan Lukisan” karya Setyo Priyo Nugroho dan Amir Hamzah dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Penelitian itu menyebut bahwa wajah Diponegoro yang populer saat ini merupakan adaptasi dari sketsa karya A.J. Bik, seorang hakim Belanda yang menggambar langsung sang pangeran di Balai Kota Batavia setelah penangkapannya pada tahun 1830.
Potret tersebut kemudian dipopulerkan kembali oleh maestro seni lukis Indonesia Basoeki Abdullah. Dari sanalah wajah Diponegoro yang dikenal masyarakat Indonesia hingga kini berasal.
Yang menarik, menurut penelitian tersebut, saat sketsa itu dibuat kondisi fisik Pangeran Diponegoro sebenarnya sedang dalam kondisi tidak prima.
“Wajah Pangeran Diponegoro yang diketahui masyarakat saat ini merupakan adaptasi dari karya seorang hakim Belanda A.J. Bik yang dibuat secara langsung di Balai Kota Batavia. Wajah ketika sang pangeran sakit malaria itulah yang kemudian identik dengan wajah Diponegoro,” tulis peneliti dalam jurnal tersebut.
Artinya, wajah yang selama ini dianggap sebagai representasi paling autentik Pangeran Diponegoro sesungguhnya menggambarkan sang pahlawan pada fase akhir perjuangannya, ketika telah kalah, ditangkap Belanda, menjalani penahanan atau pengasingan, dan sedang mengalami gangguan kesehatan.
Menjadi Rujukan Resmi
Padahal, potret tersebut kemudian menjadi salah satu citra paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Sketsa karya A.J. Bik bahkan selalu menjadi rujukan berbagai ilustrasi resmi Diponegoro setelah Indonesia merdeka.
Wajah itulah yang kemudian dicetak dalam buku-buku pelajaran sejarah, digunakan sebagai referensi pada mata uang rupiah, menjadi lambang Kodam IV/Diponegoro, identitas Universitas Diponegoro, nama kapal perang TNI AL, hingga berbagai monumen dan media edukasi di seluruh Indonesia.
Dengan kata lain, satu sketsa yang dibuat hampir dua abad lalu telah membentuk ingatan kolektif bangsa mengenai sosok salah satu pahlawan nasional terbesar Indonesia. Padahal sangat penting memahami konteks sejarah di balik lahirnya potret tersebut.
Memang potret karya A.J. Bik bukanlah potret yang keliru. Sebaliknya, lukisan itu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena dibuat melalui pengamatan langsung terhadap Pangeran Diponegoro.
Hanya saja, publik perlu mengetahui bahwa potret tersebut menggambarkan kondisi Diponegoro pada satu fase tertentu dalam hidupnya, bukan keseluruhan perjalanan hidupnya.
Sementara banyak gambaran tentang sosok Pangeran Diponegoro dalam berbagai versi lain, termasuk pada masa ketika kondisi fisiknya masih prima dan belum mengalami penahanan oleh Belanda.
