Batik, Ruang Tanpa Batas Berkreasi dan Berinovasi

8 Min Read
Bincang Wastra “Kreasi dan Inovasi dalam Batik Yogyakarta”, Rabu (22/7/2026) di Gedung Panji Lt. 2, Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co– Batik bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga ruang tanpa batas untuk terus berkreasi dan berinovasi.

Dari motif-motif klasik Yogyakarta hingga lahirnya batik-batik baru yang terinspirasi dari alam sekitar dan iluminasi naskah-naskah kuno, setiap helai kain menyimpan kisah, filosofi, dan jejak kreativitas yang terus hidup.

Ketua Umum Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, GBPH. H. Prabukusumo, S.Psi, menuturkan, batik hidup di tengah perkembangan zaman.

Sekitar 20 tahun yang lalu, bisa saja orang bingung, bagaimana eksistensi batik ke depan. Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad yang sudah berdiri 27 tahun pun akhirnya mempunyai program memberikan fasilitas dan apresiasi.

Lima hingga enam tahun pertama memberikan motivasi dan fasilitasi bekerja sama dengan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).

Bentuk pemberian fasilitasi yaitu membantu pengadaan mori gratis. Kemudian canting dan lain sebagainya. Ada juga program keliling ke kabupaten/kota se-Jawa. Bertemu Bupati, Walikota, misalnya.

“Banyak pejabat yang mengatakan, batik di tempatnya sendiri tidak bagus atau kurang bagus. Bahkan ada yang sampai mengatakan jelek. Lalu saya menyampaikan kepada Bupati, Walikota, bapak jangan seperti itu. Motif daerah itu sangat luar biasa. Pasti ada filosofinya juga zaman dulu,” ujar Prabukusumo usai menghadiri Bincang Wastra “Kreasi dan Inovasi dalam Batik Yogyakarta”, Rabu (22/7/2026) di Gedung Panji Lt. 2, Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta.

Portrait of an older man with white hair and mustache wearing a brown-and-cream batik shirt, indoors with wood-paneled walls.
Ketua Umum Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad, GBPH.H. Prabukusumo, S.Psi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Gusti Prabu pula, harus selalu dilihat juga produktivitas pembatik tradisional. Didampingi proses pengerjaannya. Kepada Bupati atau Walikota juga disampaikan Sekar Jagad selalu siap memberikan tutorial. Apalagi di Sekar Jagad ada laboratorium batik.

Oleh sebab itu, bagi yang ingin membatik, bisa dikirim pelatih sekitar 5 sampai 6 orang untuk berkeliling ke berbagai daerah. Bahkan sempat juga ada program tur untuk memborong banyak produk batik di daerah.

“Sebenarnya 15 tahun terakhir perkembangannya luar biasa. Oleh sebab itu kita berikan apresiasi dengan cara diborong,” ucapnya.

Anggota 1.000 Lebih

Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad sendiri mempunyai anggota lebih dari 1.000. Program pembelian batik ke daerah itu pun terus saja berjalan. Sambil tetap berkampanye tentang pentingnya pakem dalam pembuatan batik.

Misalnya ada kekhasan motif kerompol, truntung, parang, dan lain-lain. Kemudian juga dimodifikasi. Ada yang dikasih gambar burung, dan macam-macam lainnya.

“Perkembangan batik-batik modern kontemporer memang berkembang luar biasa. Di Yogyakarta ada toko batik, mungkin sekitar 100-an toko ada. Jadi saya kira kita tidak perlu takut dengan perkembangan zaman. Apalagi setiap orang sekarang baik anak kecil sampai orang tua, semua pasti punya batik, minimal printing untuk di sekolah,” ucapnya.

Gusti Prabu berharap, khusus untuk generasi muda, terus berkarya terkait dengan batik. Kalau bisa sampai mendapat penghargaan MURI. Sebagaimana yang dilakukan pelajar SMP Stella Duce 1 Kota Yogyakarta.

Edukasi Batik

Hingga saat ini, SMP Stella Duce 1 Yogyakarta tetap setia memberikan pelajaran tentang membatik sehingga ketekunan, ketelatenan, dan serta kesabaran siswa-siswi bisa terus diasah.

Sekolah ingin mengajarkan spirit kebaikan bagi siswa-siswi. Siswa-siswi dari kelas VII hingga kelas IX diberikan pelajaran membatik dengan proses berjenjang.

“Pelajaran membatik bagi siswa kelas VII yakni pengenalan batik teknik celup sibori. Proses ini belum menggunakan malam (nyanthing).  Setelah terbentuk kain sibori, maka mereka diminta untuk menjahit menjadi baju, dan dikenakan di hari Jumat,” katanya.

Sementara itu, bagi siswa-siswi kelas VIII, siswa dikenalkan pembuatan batik teknik cap.

“Uniknya bahan cap yang digunakan juga cap buatan siswa sendiri yang bahan utamanya dari kertas bekas (limbah) kardus atau karton. Setelah proses pencelupan, siswa membuat menjadi baju batik cap buatan sendiri,” katanya lagi. Intinya, belajar untuk membuat batik yang bukan printing.

Gusti Prabu menyarankan agar sekolah mempunyai laboratorium batik sendiri. Lebih menarik lagi jika Pemerintah Daerah Provinsi DIY mempunyai kebijakan bahwa setiap pelajar yang lulus SMA harus pernah membuat batik. Jadi harus punya sertifikat penghargaan pernah membatik karena DIY sebagai kota batik dunia.

Bahkan idealnya setiap kabupaten/kota mempunyai komitmen seperti itu. Jadi setiap daerah harus punya laboratorium batik yang berkapasitas ratusan orang. Pengurus kampung seperti dukuh, lurah, camat atau penewu, bisa juga terlibat dalam kursus batik. Setidaknya memberi contoh aktif.

Efeknya, sebagai konsekuensi kota batik dunia, jika ada orang luar kota berkunjung akan mudah menjumpai tempat kursus pembuatan batik. Akan lebih bagus lagi jika dinas-dinas, bupati, walikota, gubernur, semua bisa membatik.

Termasuk juga hotel-hotel, kantor-kantor, mestinya ada sentuhan batik tradisional gaya Yogyakarta agar orang melihat batik Yogyakarta ternyata memang bisa hadir di mana-mana, banyak tempat. Mudah sebagai rujukan belajar dan membeli.

Inovasi Batik Tradisional

Untuk terus menumbuhkan semangat inovasi, maka wawasan pembatik tradisional harus selalu dibangun. Bahkan bisa bersinergi dengan kerajinan topeng dan lainnya. Termasuk misalnya saja di caping, kipas, dan lain-lain.

Inovasi-inovasi batik itu cukup banyak, cuma kadang dalam membuat kurang profesional, kurang bagus. Pembatik harus mempunyai inovasi yang bagus dan berusaha bagus agar pasarnya stabil.

“Kalau bikinnya kurang bagus, asal-asalan, lari-lari nanti bisa berhenti. Saya menyarankan untuk pembatik pertama dan utama adalah kualitas, quality. Bisa juga dengan mengadakan lomba batik berkala. Pemenangnya mendapat hak paten. Pengalaman kami saat mengadakan tur ke Banyuwangi, waktu tur memberikan apresiasi. Paling hebat di sana adalah justru pembatik di Lapas Banyuwangi. Desainnya bagus-bagus. Ada yang masih didesain memakai pensil. Wah, luar biasa, karena desain-desainnya memang bagus-bagus. Terus kombinasi pewarnaannya, warnanya dan semua bagus, bagus-bagus banget di sana,” katanya.

Menurut Gusti Prabu, Sekar Jagad sendiri artinya bunga dan dunia. Jadi filosofinya juga mengharapkan bahwa siapa pun yang memakai batik Sekar Jagad, diharapkan menjadi orang yang terkenal. Orang yang baik, orang yang bijaksana, orang yang jadi bunga dunia. Jadi kebanggaan keluarga.

Setiap Negara Punya Wastra

Ketua Umum Tradisional Textile Art Society East Asia, GKBRAA Pakualam X, mengatakan, setiap negara punya wastra sendiri-sendiri.

Indonesia punya batik, itu pun batik yang cap dan batik tulis. Punya kain songket, punya tenun. Dia juga mencontohkan, Yogyakarta memiliki wastra yang sangat kaya dan sudah cukup dikenal di sejumlah negara. Salah satunya di Jepang.

“Di Jepang kain batik sudah bisa dikembangkan untuk ragam kerajinan. Ini yang juga menjadi keinginan kami agar kreativitas wastra terus muncul,” jelasnya.

Smiling woman in a teal patterned blouse holds a small RODE microphone during a talk.
GKBRAA Pakualam X. (Foto: Istimewa)

GKBRAA Pakualam X menuturkan, sejak tahun 2011 batik Pakualaman mulai dikenalkan kepada seluruh pecinta batik dan perkembangannya terus menggembirakan.

“Batik Pakualaman tidak hanya terbatas pada inspirasi naskah tetapi juga meliputi inspirasi berbagai tradisi Jawa yang tumbuh di lingkungan istana,” ucapnya.

Menurut GKBRAA Pakualam X, sampai saat ini motif batik Pakualaman sudah mencapai seratus motif. Batik Puspawicitra merupakan motif yang ke-193 dalam seri batik Pakualaman.

“Hal ini menunjukkan bahwa kami di Puro Pakualaman tetap berkreasi untuk memajukan budaya Puro Pakualaman dalam ranah budaya Yogyakarta,” jelasnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar