Perayaan Hari Puisi Indonesia, Momentum Membangun Ekosistem Sastra Internasional

4 Min Read
Woman wearing a hijab and plaid shirt speaks passionately on a stage, holding papers in front of a dark background.
Ilustrasi. Pembacaan puisi. (Foto: YouTube @perpustakaanjakarta)

Mabur.co – Untuk pertama kalinya Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap 26 Juli, dirayakan secara nasional, setelah resmi masuk dalam agenda kebudayaan nasional.

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 ini digelar di Graha Utama, Kompleks Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senayan, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Mengusung tema “Menebalkan Makna pada Segala”, perayaan ini memiliki arti khusus. Dimana puisi dianggap tidak hanya menjadi rangkaian kata. Sebab di dalamnya terdapat ingatan, kritik, kegelisahan, dan cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan, pengakuan Hari Puisi Indonesia ini menjadi momentum untuk memperkuat posisi puisi dan sastra dalam kehidupan kebudayaan Indonesia.

Menurutnya, Hari Puisi Indonesia juga menjadi kesempatan untuk mengingat kembali peran besar penyair Chairil Anwar dalam perkembangan sastra modern Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi besar untuk melahirkan penyair-penyair baru di berbagai daerah,” kata Fadli dalam rilis yang diterima mabur.co, Senin (27/7/2026) pagi.

Karena itu, pemerintah tidak ingin perkembangan sastra hanya bertumpu pada nama-nama besar yang sudah dikenal. Namun juga meluas ke berbagai kalangan pelaku sastra.

Membangun Ekosistem Sastra

Kementerian Kebudayaan sendiri mengaku tengah mendorong berbagai program untuk memperkuat ekosistem sastra. 

Di antaranya melalui laboratorium penerjemahan sastra, pengembangan promotor sastra, penerjemahan karya Indonesia ke bahasa asing, penguatan festival dan komunitas sastra, hingga pengembangan talenta dan promosi sastra di tingkat internasional.

Tujuannya adalah membuka lebih banyak ruang bagi karya dan pelaku sastra Indonesia untuk berkembang.

“Kami ingin semakin banyak lahir para penyair, sastrawan, dan penulis baru yang bisa mencapai pencapaian artistik yang tinggi dan juga sampai ke tingkat internasional,” ujarnya.

Bagi Fadli, perkembangan sastra tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Sekolah, perguruan tinggi, komunitas, pemerintah daerah, pelaku budaya, hingga sektor swasta memiliki peran dalam membangun ekosistem kebudayaan.

Kolaborasi tersebut penting agar sastra tidak hanya hidup di ruang-ruang tertentu, tetapi bisa semakin dekat dengan masyarakat.

Semangat memperluas ruang bagi puisi juga disampaikan Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi, Danny Santoso.

Menurutnya, perayaan tahun ini menjadi istimewa setelah perjuangan lebih dari 13 tahun untuk memperkenalkan dan memperkuat posisi Hari Puisi Indonesia.

Perjuangan tersebut, kata Danny, bukan semata-mata untuk kepentingan yayasan, melainkan untuk menempatkan puisi sebagai bagian penting dari kebudayaan bangsa.

Ia berharap Hari Puisi Indonesia dapat menjadi perayaan milik seluruh masyarakat.

Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga dirayakan oleh komunitas sastra, sekolah, perguruan tinggi, sanggar budaya, perpustakaan, dan pemerintah daerah di berbagai wilayah Indonesia.

“Puisi harus menjadi ruang bersama yang memperkuat kebudayaan dan persahabatan lintas bangsa,” ujarnya.

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari pemutaran video sejarah Hari Puisi Indonesia, pembacaan puisi oleh penyair dari dalam dan luar negeri, musikalisasi puisi, hingga diskusi bertema “Chairil, Puisi dan Kebangsaan”.

Sejumlah penyair dari mancanegara juga menyampaikan ucapan melalui video.

Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026 

Salah satu momen penting dalam acara tersebut adalah penyerahan Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2026 kepada penyair asal Aceh, Lesik Kati Ara.

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam perkembangan sastra Indonesia.

Di tengah perubahan zaman dan dominasi budaya visual, puisi masih memiliki ruang untuk bertahan.

Bahkan, puisi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kemampuan masyarakat dalam membaca, merasakan, dan memahami berbagai persoalan secara lebih mendalam.

Melalui perayaan Hari Puisi Indonesia, pemerintah dan para pegiat sastra ingin memastikan puisi tidak hanya menjadi bagian dari buku-buku di perpustakaan.

Puisi diharapkan tetap hadir di sekolah, komunitas, panggung pertunjukan, ruang digital, hingga percakapan generasi muda.

Dengan semakin banyaknya orang berani menulis dan membaca puisi, maka akan semakin banyak pula cara bagi sebuah bangsa untuk memahami dirinya sendiri.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar