Mabur.co – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (27/7/2026) lalu. Alasan yang dikemukakan adalah karena urusan pribadi, atau faktor kesehatan.
Meski kemundurannya sebagai Gubernur BI dilatarbelakangi oleh alasan personal atau faktor kesehatan, namun banyak pihak menilai bahwa alasan sebenarnya Perry Warjiyo mengundurkan diri adalah munculnya dugaan ketidaksinkronan antara BI dengan pemerintah, khususnya dari tim ekonomi yang dipimpin oleh Menteri keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Apalagi dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar juga terus meningkat, di mana saat ini masih menyentuh angka Rp 18 ribu per 1 dollar.
Belum lagi desakan dari berbagai pihak, seperti DPR dan juga masyarakat sipil, membuat posisi Perry Warjiyo terus berada dalam tekanan, sehingga membuat kondisi kesehatannya dikabarkan mulai terganggu, dan seterusnya.
Menanggapi kabar ini, ekonom dari lembaga InFast Bestari, Gede Sandra, melihat bahwa kemunduran Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, atau seperti “petir di siang bolong”.
Karena jika dilihat dari kondisi ekonomi nasional dalam beberapa waktu terakhir, mundurnya Perry adalah akumulasi dari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, khususnya terkait cara kerja BI dengan tim ekonomi di pemerintah pusat.
“Kemunduran dari Pak Perry Warjiyo ini sudah menjadi perbincangan di kabinet (Merah Putih) sejak enam bulan yang lalu. Jadi tim ekonomi di pemerintah itu kelihatannya sudah mengalami ketidaksinkronan antara tim ekonomi pemerintah dengan Bank Indonesia. Karena melihat banyak kebijakan yang terbilang tidak sinkron,” ucap Gede Sandra, seperti dilansir dari kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (29/7/2026).
Menghambat Kebijakan Pemerintah

Secara spesifik, Gede menilai bahwa BI seolah kerap menghambat atau mengerem kebijakan-kebijakan tertentu yang hendak dibuat oleh pemerintah. Hal itu dianggap Gede menjadi pemicu yang akhirnya membuat situasi ekonomi terus menerus berada dalam situasi yang tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir.
“Saya seperti melihat bahwa kebijakan di antara keduanya (tim ekonomi pemerintah dan BI) tidak saling menunjang satu sama lain. Jadi malah seperti menghambat kebijakan-kebijakan tertentu yang dibuat tim ekonomi pemerintah, atau seperti ‘direm’ begitu oleh sektor moneter, dan seterusnya,” tambah Gede Sandra.
Gede melihat, salah satu peristiwa besar yang menjadi penguat mundurnya Perry adalah ketika pemerintah sempat mengadakan pertemuan dengan pihak BI.
Namun di tengah usaha pemerintah untuk menggenjot ekonomi agar kondisi ekonomi bisa kembali membaik, pihak BI justru memilih untuk menaikkan suku bunga, sehingga yang terjadi adalah kondisi ekonomi Indonesia tidak kunjung membaik, namun malah semakin memburuk. (*)
