Mabur.co — SLB Bhakti Wiyata di Graulan, Giripeni, Wates, Kulon Progo, terpaksa menolak sejumlah calon siswa pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Penyebabnya, sekolah kekurangan tenaga guru untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Dari 14 calon siswa yang mendaftar, sekolah hanya menerima 10 siswa. Sementara empat calon siswa lainnya belum dapat diterima karena keterbatasan jumlah guru.
Kepala SLB Bhakti Wiyata, Tresnaning Putri, mengatakan keputusan tersebut bukan karena para calon siswa tidak memenuhi syarat, melainkan demi memastikan seluruh siswa tetap mendapatkan layanan pendidikan dan pendampingan yang optimal.
“Kami harus menyesuaikan jumlah siswa dengan kemampuan sekolah dalam memberikan layanan. Kalau dipaksakan menerima semuanya, pendampingan kepada anak-anak justru tidak maksimal,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Tantangan Berbeda
Menurut Tresnaning, pendidikan di sekolah luar biasa memiliki tantangan yang berbeda dengan sekolah reguler. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga membutuhkan perhatian dan metode pembelajaran yang juga berbeda.
Hal itu membuat rasio guru dan siswa di SLB harus lebih kecil dibanding sekolah umum.

Sebagai contoh, siswa dengan autisme sering kali membutuhkan pendampingan lebih intensif. Dalam kondisi tertentu, satu siswa bahkan bisa memerlukan dua hingga tiga guru untuk mendukung proses belajar sesuai kebutuhannya.
Keterbatasan Guru
Sementara itu, saat ini SLB Bhakti Wiyata hanya memiliki 15 guru, tiga tenaga kependidikan, dan tiga guru kunjung. Dengan jumlah tersebut, sekolah harus melayani 59 siswa yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan.
Mayoritas siswa di sekolah tersebut merupakan anak dengan autisme dan tunagrahita yang membutuhkan pendampingan khusus selama proses pembelajaran.
Kondisi itu membuat beban kerja guru cukup tinggi. Karena itu, sekolah memilih membatasi penerimaan siswa baru daripada mengorbankan kualitas layanan pendidikan.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus meningkat. Hal itu terlihat dari jumlah pendaftar yang selalu melebihi daya tampung sekolah.
Menurut Tresnaning, penambahan tenaga pendidik menjadi kebutuhan yang mendesak. Dengan jumlah guru yang lebih memadai, sekolah akan mampu menerima lebih banyak siswa sekaligus memberikan layanan yang lebih optimal.
Pada tahun ajaran ini, SLB Bhakti Wiyata juga meluluskan 10 siswa. Meski demikian, jumlah siswa aktif yang masih belajar mencapai 59 orang, sehingga kebutuhan guru tetap menjadi tantangan utama.
