Mabur.co- Yesita Vera Saraswati, gadis asal Klaten, dinobatkan menjadi wisudawati termuda dengan predikat Cumlaude di usia 27 tahun 10 bulan 8 hari untuk Program Doktor pada wisuda pascasarjana periode IV UGM pada Rabu (23/7/2026) lalu di Grha Sabha Pramana.
Yesita Vera Saraswati, menuturkan, selama menyelesaikan studi, banyak menghabiskan emosi, energi, dan tenaga sehingga perjuangan tersebut tidaklah mudah.
“Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulu terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus,” ungkapnya, Rabu (29/7/2026).
Yesita Vera Saraswati mengungkapkan, selama melakukan penelitian disertasi yang harus dilakukan di lapangan, ia juga meng-handle sekitar 70-80 mahasiswa S1 dan S2 yang dikelola sejak awal masuk tim sampai sekarang.
“Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya,” terangnya.
Tak Terlintas Studi Doktor
Yesita Vera Saraswati, menuturkan, dalam pikirannya tidak terlintas untuk melanjutkan studi melalui program ini, sebab pada waktu itu masih masa pandemi.
“Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM,” jelasnya.
Yesita Vera Saraswati, menuntaskan studi dengan disertasi berjudul “Studi Karakteristik Eksterior Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya”.
Fokus penelitiannya adalah mengenai pembentukan ayam lokal Galur Baru. Dalam riset tersebut, tim melihat potensi genetik ayam-ayam lokal di Indonesia yang saat ini mempunyai segmen pasar tersendiri yang bisa dimanfaatkan.
Karena menjadi salah satu sumber protein hewani dibandingkan dengan daging lain, sehingga ke depan mampu membantu program pemerintah dalam menyokong kebutuhan protein hewani di Indonesia.
Perbaikan Mutu Genetik Ayam Lokal
“Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima,” jelasnya.
Yesita Vera Saraswati berharap, melalui penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan hilirisasi untuk dikomersialisasikan di masyarakat.
Penelitian tersebut bukanlah suatu hal yang mudah. Data penelitian yang sangat banyak serta berbagai trial and error yang terjadi merupakan kesulitan yang harus dihadapi selama masa penelitian.
Ia mengungkapkan bahwa proses pengambilan data juga cukup panjang.
”Saya dan tim harus mengawinkan dan menyilangkan ayam, memelihara sampai umur sekitar 32 minggu, lalu mengawinkan kembali untuk generasi selanjutnya. Proses dari telur hingga ayam dewasa ini dilakukan sampai generasi kedua untuk kebutuhan datanya. Selain itu, tantangan lainnya adalah manajerial tim dari berbagai minat lain, seperti daging, telur, susu, dan nutrisi yang turut diambil datanya. Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi, mencari pendanaan, dan sebagainya,” ungkapnya.
Yesita Vera Saraswati, menuturkan, untuk rencana ke depan, berkeinginan menjadi akademisi atau dosen. Ia mengungkapkan bahwa keinginan tersebut telah muncul sejak SMA.
“Sebab, di lingkungan kampung halamannya banyak anak kecil dan ia senang mengumpulkan serta mengajak mereka belajar bersama. Dari situlah keinginannya untuk menjadi pengajar tumbuh,” katanya.
Yesita Vera Saraswati berharap setelah mendapat gelar doktor ini, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, mampu menjaga integritas dan loyalitas saat mendaftar menjadi dosen, serta terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3,” pungkasnya. ***
