Mabur.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menuai sorotan tajam dari berbagai pihak.
Terbaru, survei dari lembaga Poltracking Indonesia pada Agustus 2026 lalu mencatat adanya penurunan kepuasan publik terhadap program MBG sebanyak 49,2%. Sementara yang masih merasa puas dengan MBG sebanyak 46,4%.
Hal ini dinilai sebagai “rapor merah” bagi pelaksanaan MBG sejauh ini, yang sudah berjalan hampir dua tahun, sejak pertama kali diperkenalkan secara serentak pada awal Januari 2025 lalu.
Selain itu, hasil survei ini juga dianggap menjadi sebuah alarm bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, untuk bisa memperbaiki seluruh aspek dalam program MBG. Mulai dari kinerja lembaga-lembaga terkait (BGN, SPPG, dan lain-lain), perbaikan kualitas makanan, distribusi, dan seterusnya.
“Publik menilai sangat tidak puas (terhadap program MBG), yang sekarang meningkat jadi 49,2%, sementara yang puas sebanyak 46,4%. Jadi bisa dikatakan bahwa MBG saat ini berada dalam rapor merah, sehingga menjadi peringatan penting bagi pemerintah, untuk memperbaiki dari sisi penyelenggaraan, implementasi, dan sebagainya.
Meskipun program awalnya cukup diapresiasi positif, tetapi karena penerjemahannya, implementasinya, eksekusinya yang kurang baik sampai sejauh ini, akhirnya membuat publik kemudian mempersepsikan program ini secara negatif,” ungkap Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR, seperti dilansir dari laman Kompas, Rabu (2/9/2026).
Usul Dihentikan Total

Survei ini juga mencatat satu hal menarik, bahwa untuk pertama kalinya sejak diluncurkan pada awal 2025 lalu, responden mulai menyerukan agar program MBG dapat dihentikan secara total.
Imbas dari berbagai masalah yang terus terjadi secara berulang-ulang, tanpa adanya komitmen yang kuat untuk memperbaiki.
“Ternyata (hasil survei) sudah cross. Sekarang publik yang menginginkan program ini tidak perlu dilanjutkan menjadi lebih besar sedikit, meskipun masih di rentang margin of errror. Ada 44,6% yang menginginkan (program MBG) tidak dilanjutkan, lalu yang masih ingin melanjutkan adalah 42,1%.
Alasan bagi mereka yang tidak ingin dilanjutkan, yakni kurangnya kualitas rasa dan gizi makanan, kurang cocoknya lauk yang disuguhkan, serta masih maraknya kasus keracunan makanan. Tiga isu inilah yang menjadi alasan utama publik untuk merekomendasikan agar (program MBG) tidak lagi dilanjutkan,” tambah Hanta Yuda.
Survei ini juga mendorong agar pemerintah bisa lebih berhati-hati dalam menjalankan program ini di kemudian hari, sekaligus bisa lebih memperhatikan berbagai masukan yang datang dari sejumlah lembaga independen.
Sehingga tingkat kepuasan terhadap MBG dapat kembali ditingkatkan, serta membuat kepercayaan publik terhadap program unggulan Presiden ini bisa kembali pulih seperti sedia kala. (*)
