Hubungan dengan konten digital berbahasa daerah yang didorong oleh Komdigi dan Kemendikdasmen, kaitannya dengan viralitas sebagai salah satu hukum utama, maka sekali lagi, semakin banyak penutur bahasa daerah, maka semakin tinggi pula potensi untuk viral atau FYP, jika dikaitkan dengan algoritma media sosial.
Bahasa Mandar adalah salah satu bahasa dengan penutur terbanyak di Sulawesi Selatan di masa lalu (sekarang Sulawesi Barat).
Manusia Suku Bangsa Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar), ketika berada di Mandar atau di kampungnya sendiri, menganggap apa pun di sekitarnya biasa saja dan seolah tak berharga.
Manusia Mandar baru akan menyadari dan merasa butuh mengenali Mandar ketika mulai merantau meninggalkan kampung halaman dan jauh dari peradaban Mandar.
Di situlah Mandar serupa pacar pertama yang sulit dilupakan, kata Gen Z. Maka kita mulai melakukan pencarian, mencari identitas diri sebagai manusia Mandar.
Ingin menemukan ragam bahasa yang begitu kaya di Mandar. Dari enam kabupaten yang ada di Mandar-Sulbar sekarang, mungkin ada ratusan jenis dan dialek bahasa yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/
Hingga hari ini, Mandar memang tak pernah berhenti berdenyut. Penduduk lokal dan penduduk urban melakukan asimilasi budaya juga sekaligus asimilasi bahasa.
Bahasa Lokal Alami Perubahan
Bisa jadi bahasa-bahasa lokal yang lama dan berada di kampung-kampung Mandar di masa lalu mengalami perubahan atau hilang sama sekali dan dikalahkan oleh bahasa-bahasa baru atau bahasa pendatang.
Seperti yang terjadi di Pasangkayu, Semenanjung paling ujung utara di Mandar-Sulbar. Wilayah ini mungkin masih asing di telinga banyak orang.

(Foto: Bustan BM)
Hanya sebuah kecamatan kecil nan eksotik di ujung paling utara Kabupaten Mamuju-Provinsi Sulawesi Selatan.
Kecamatan kecil ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Donggala, batas paling selatan dari Provinsi Sulawesi Tengah.
Pasangkayu konon berasal dari kata Vova dan Sanggayu, berarti pohon bakau yang tumbuh di ujung Tanjung (Tanjong) Pasangkayu.
Dua bilah kata itu diambil dari bahasa para Nelayan Kaili Ledo atau orang sering pula menyebutnya Kaili Dolo yang sering menambatkan perahu mereka di Tanjung Pasangkayu.
Jauh sebelum kelahiran Provinsi Sulawesi Barat, ekspos dan penelitian terhadap bahasa di wilayah ini masih sangat kecil.
Menariknya dalam konteks kebahasaan misalnya, hingga hari ini hampir seluruh Pasangkayu menggunakan bahasa Bugis, tinggallah bahasa-bahasa Pasangkayu lama.
Seperti bahasa Bunggu, bahasa Mamuju, bahasa Pangiang semakin terpinggir dan hampir tidak digunakan. ***
