Mabur.co – Ribuan telur rebus diarak dan dibagi-bagikan kepada warga dalam Pawai Tradisi Endhog-endhogan di Banyuwangi, Jawa Timur, baru-baru ini.
Digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tradisi yang digelar rutin setiap tahun ini berlangsung meriah dengan diramaikan ribuan warga.
Telur-telur yang telah dihias menjadi kembang endhog nampak ditancapkan pada batang pohon pisang atau disebut jodhang untuk kemudian diarak sejauh sekitar 3 kilometer di tengah kota.
Warga Menunggu Berebut Telur
Suasana semakin meriah saat iring-iringan becak dan sepeda pembawa jodhang yang telah dihias sedemikian rupa, nampak berjalan dengan lantunan suara rebana, musik Islami, hingga lantunan salawat.
Ribuan warga yang telah menunggu di sepanjang rute akan saling berebut untuk mendapatkan kembang endhog yang dibawa dan dibagikan setiap peserta.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan, endhog-endhogan memang salah satu tradisi yang dijalankan untuk menggerakkan kearifan lokal masyarakat Banyuwangi.
Menurut dia, tradisi ini juga memiliki nilai sosial karena menjadi ruang untuk saling berbagi dan mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
“Ini bagian dari konsep berbagi. Serta ruang untuk mempererat kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai unsur yang terlibat dalam perayaan,” ujarnya dilansir situs resmi Pemkab Banyuwangi, Sabtu (12/9/2026).
Tradisi Sejak 1911
Sementara itu, Banyuwangi Tourism menyebut, tradisi endhog-endhogan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mencatat tradisi ini bahkan telah ada sejak 1911.
Dalam cerita lisan masyarakat Banyuwangi, tradisi endhog-endhogan dipercaya pertama kali digelar oleh KH Abdullah Faqih, seorang santri murid Kiai Syaikhona Kholil, Bangkalan.
Sepulang berguru kepada Syaikhona Kholil, ia melakukan dakwah ke masyarakat dengan cara menghias telur dan menancapkannya pada batang pisang sebagai simbol atau perumpamaan prinsip Islam.
Dari situlah tradisi endhog-endhogan kemudian berkembang di tengah masyarakat Banyuwangi dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Telur sendiri menjadi bagian penting dalam tradisi ini karena memiliki makna simbolis. Di mana tiga bagian telur yakni kulit, putih telur, dan kuning telur dimaknai sebagai simbol iman, Islam, dan ihsan.
Meski telah berlangsung secara turun-temurun di tengah masyarakat, khususnya komunitas masyarakat Osing, tradisi endhog-endhogan ini baru berkembang menjadi pawai dalam skala yang lebih besar sekitar tahun 1990-an.
Hal itu setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memasukkan tradisi ini dalam agenda atau kalender pariwisata daerah.
Kini tradisi endhog-endhogan telah berkembang sebagai festival budaya yang menjadi daya tarik wisata di Banyuwangi.
Tak sedikit warga dari berbagai daerah hadir untuk menyaksikan pawai endhog-endhogan ini. Baik itu masyarakat lokal Banyuwangi dan sekitarnya, hingga wisatawan dari luar daerah termasuk dari luar negeri.
