Ratusan Kata Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Resmi di Belanda

5 Min Read
Two Dutch flags fluttering on flagpoles against a clear blue sky.
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Hubungan panjang sejarah Indonesia dan Belanda ternyata tidak hanya meninggalkan jejak berupa bangunan, makanan, atau pun budaya. Pengaruh tersebut ternyata juga masuk ke dalam bahasa.

Sejumlah kata yang berasal dari bahasa Melayu atau Indonesia, termasuk beberapa bahasa daerah di Nusantara hingga kini bahkan tercatat digunakan dalam bahasa resmi Belanda.

Historiek, dikutip mabur.co, Kamis (24/9/2026), menyebutkan, situs sejarah asal Belanda itu mencatat sedikitnya terdapat 50 kata yang memiliki kaitan dengan bahasa Melayu dan Indonesia.

Beberapa di antaranya terdengar sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, seperti guru, pisang, sambal, nasi, amok, klamboe, toko, sarong hingga senang.

Salah seorang ahli bahasa asal Belanda, Nicoline van der Sijs, bahkan menyebut ada lebih dari 100 kata Melayu atau Indonesia dan sejumlah kata Jawa telah masuk ke dalam bahasa Belanda.

Sebagian besar kata tersebut masuk ke bahasa Belanda pada abad ke-19. Meski sebenarnya, pengaruh itu sudah berlangsung jauh sebelumnya, terutama melalui pelaut, tentara, pedagang dan pegawai VOC.

Dari Guru hingga Pisang

Beberapa kata mengalami perubahan bentuk atau pelafalan ketika digunakan dalam bahasa Belanda.

Kata “guru”, misalnya, berasal dari bahasa Melayu guru yang berarti guru atau pengajar. Dalam bahasa Belanda, istilah tersebut awalnya digunakan untuk menyebut pengajar agama pribumi di Hindia Belanda, sebelum maknanya meluas menjadi pengajar yang memiliki otoritas.

Ada pula “pisang” yang digunakan dalam bahasa Belanda dengan bentuk yang sama. Sementara kata “pienter” berkaitan dengan kata Melayu pintar, yang berarti cerdas atau pandai.

Kata “piekeren” juga memiliki hubungan dengan kata pikir dalam bahasa Melayu dan Jawa. Maknanya dalam bahasa Belanda berkaitan dengan merenung, memikirkan sesuatu atau merasa khawatir.

Sementara “amok” berasal dari amuk, yang dalam bahasa Melayu merujuk pada kondisi seseorang yang mengamuk atau diliputi kemarahan.

Pengaruh Bahasa Indonesia dalam Kosakata Makanan

“Ketjap” merupakan bentuk lama dari kecap dan digunakan dalam bahasa Belanda untuk menyebut saus kedelai. Ada pula “sambal”, “nasi”, “saté”, “kroepoek” dan “loempia”.

Dalam bahasa Belanda, nasi terutama dikenal melalui istilah nasi goreng. Sementara kroepoek berkaitan dengan kata Melayu kerupuk.

Kata loempia berasal dari lumpia, yang memiliki akar dari istilah Tionghoa Lun Pia. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan sebuah kata tidak selalu secara langsung dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi dapat melewati berbagai komunitas dan wilayah.

Sejumlah kosakata lainnya berkaitan dengan kehidupan maritim dan pengalaman orang Belanda di Asia.

“Prauw” berasal dari kata Jawa dan Melayu prahu atau perahu. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut jenis perahu yang dikenal di kawasan Nusantara.

“Jonk” berasal dari kata Melayu djong, yang digunakan untuk menyebut jenis kapal yang berlayar di Asia Tenggara.

Ada pula “klamboe” yang berasal dari kelambu, “sarong” dari sarung, serta “rimboe” yang berkaitan dengan rimbu yang berarti hutan atau belantara.

Kosakata seperti itu masuk ke bahasa Belanda karena digunakan dalam interaksi sehari-hari di wilayah Hindia Belanda, termasuk oleh pelaut dan orang-orang yang tinggal atau bepergian di Nusantara.

Sejumlah Kata Alami Perubahan Makna 

Menariknya, tidak semua kata mempertahankan arti persis seperti bahasa asalnya.

Kata pienter, misalnya, masih berkaitan dengan kepandaian. Namun beberapa kata mengalami perubahan makna atau digunakan dalam konteks yang berbeda.

Kata branieschopper berhubungan dengan berani. Dalam konteks Belanda, istilah tersebut kemudian digunakan untuk menyebut orang yang suka bertindak berani atau membuat masalah.

Sementara plopper pernah digunakan dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia untuk menyebut pejuang atau pemberontak. Kata tersebut kemudian dikenal dalam bahasa Belanda melalui pengalaman kolonial dan konflik di Indonesia.

Ada pula tempo doeloe, gabungan kata tempo dan doeloe, yang digunakan untuk merujuk pada masa lampau atau “zaman dahulu”.

Meski banyak kata Melayu dan Indonesia masuk ke bahasa Belanda, pengaruh bahasa Belanda terhadap bahasa Indonesia tetap jauh lebih besar.

Historiek mengutip perkiraan bahwa terdapat hampir 6.000 kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Belanda.

Contohnya antara lain kantor, buku, mesin, spanduk, asbak, knalpot dan senapan.

Karena itu, jejak hubungan Indonesia dan Belanda tidak hanya dapat ditemukan dalam arsip sejarah atau peninggalan bangunan kolonial.

Jejak tersebut juga masih terdengar setiap hari melalui kata-kata yang digunakan masyarakat di kedua negara meski berbeda benua.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar