Gengsi Jika Tidak Membaca, Gaya Hidup Anak Muda Cina dan Korea

3 Min Read
)
Megahnya perpustakaan di Korea. (Foto: visitorkorea.or.id)

Di depan Perpustakaan Tsinghua, Beijing, antrean mulai jam lima pagi mengular. Bukan antre sembako, bukan tiket konser.

“Ini bukan antrean rebutan sembako, melainkan antrean mahasiswa di Cina yang berebut untuk masuk ke perpustakaan,” tulis situs Dunia Perpustakaan.

Mahasiswa rela datang pukul 5 pagi, antre ratusan meter demi mendapatkan tempat duduk di ruang baca. Aplikasi digital pemesanan tempat belajar bahkan sering crash karena tingginya permintaan.

Antrean Tas

Di TikTok Cina fenomena ini disebut “antrean tas”. Jam 6 pagi mereka lempar tas untuk booking meja, lalu lari sarapan, lalu kembali belajar 14 jam.

Istilahnya “ji xue”, darah ayam, semangat yang membara. Korea punya versinya sendiri yang lebih estetik.

Starfield Library di COEX Mall Gangnam, luasnya 2.800 meter persegi dengan rak setinggi 13 meter, tiap hari dipenuhi anak muda yang bukan mau belanja, tapi mau “ngonten” sambil baca.

Perpustakaan yang juga jadi lokasi syuting drama ini, menawarkan suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota besar.

Park Ji-woo (23), mahasiswi Yonsei yang tiap Sabtu antre di Starfield, bilang: “Di sini tidak ada yang menghakimi. Kamu bisa baca webtoon, naskah tesis, atau cuma duduk lihat orang lain baca. Rasanya kami semua sedang healing, tapi pintar.”

Budaya semacam itu bukanlah mistik.

Pendidikan adalah Panglima

Di Korea, pendidikan adalah panglima, memandang literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca, tetapi sebuah fondasi yang menopang kemajuan.

Hampir seluruh warga melek huruf. Di Cina, negara membangun toko buku seperti Zhongshuge yang didesain bak film Inception: hening, magis, meriah, sehingga “membaca jadi gaya hidup yang mewah dan prestisius.”

Historisnya, keduanya punya trauma yang sama: perang dan kelaparan buku. Korea pernah dijajah Jepang dan buku dibakar.

Cina melewati Revolusi Kebudayaan yang membakar naskah. Kini mereka membalasnya dengan membangun perpustakaan tercantik di dunia.

Mitos baru pun muncul.

“Kalau kamu bisa dapat kursi di lantai 3 Perpustakaan Peking University saat ujian akhir, IPK-mu aman,” kata salah seorang mahasiswa.

Di Seoul, mitosnya: foto di Starfield dengan buku yang belum dibaca akan membuatmu terlihat pintar di Instagram.

Padahal yang rendah sering kali bukan minatnya, tapi akses dan kualitas layanan literasi. Cina maupun Korea sudah membuktikan: beri mereka perpustakaan keren, anak muda akan berebut masuk. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar