Maneges: Ketika Difabel Ajari Kita Temukan Kejelasan Diri (Bagian 4-Selesai)

3 Min Read
Pintu gerbang ruang pameran Maneges. (Foto: Bustan Basir Maras)

Mabur.co – Di dinding Galeri Taman Budaya Yogyakarta, sebuah teks kuratorial ditempel tidak tinggi, mungkin sengaja disejajarkan dengan mata pengguna kursi roda.

Judulnya satu kata, Maneges. Berakar dari kata teges (jelas). Maneges dalam bahasa Jawa bermakna ikhtiar menemukan kejelasan diri lewat laku spiritual, sehingga sampai pada kesadaran penuh tentang siapa aku atau kita sesungguhnya.

Baca juga: https://mabur.co/budaya/temu-karya-taman-budaya-xxv-di-yogyakarta-persatukan-spirit-kolaborasi-mantra-nusantara-bagian-1/

Tidak terpisah dari laku manekung, maneges, manunggal, merenung untuk menemukan kesejatian diri. Itulah tema Suluh Sumurup Art Festival 2026, khusus untuk pameran lukisan seniman difabel yang menjadi pembuka Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia XXV.

Jika tema tahun sebelumnya Gegandengan (menggandeng), Jumangkah (melangkah), Jejer (berdiri tegak), tahun ini panitia memilih Maneges, meneguhkan.

Ruang pameran Maneges karya para seniman perupa difabel. (Foto: Bustan Basir Maras)

Secara angka, festival ini besar. Rilis panitia melaporkan pameran menghadirkan 196 karya 132 seniman difabel dari 14 provinsi, melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah.

Ruang.id yang meliput pembukaan pada 24 September 2026 mencatat acara dibuka GKR Bendara bersama Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi.

Bukti Karya Difabel Luar Biasa

“Teman-teman disabilitas tidak untuk dikasihani, tetapi untuk diapresiasi, sebagai bukti dari karya mereka yang luar biasa,” kata GKR Bendara.

Untuk itu, PT Pos Indonesia bahkan meluncurkan perangko edisi khusus hasil kolaborasi yang dirancang kurator Sukri Budi Dharma.

Baca juga: https://mabur.co/budaya/gemuruh-di-taman-budaya-yogyakarta-ketika-orkestra-ndarboy-genk-dan-menteri-kebudayaan-bertemu-di-satu-panggung-bagian-2/

Sementara itu kurator Nano Warsono, dikutip Solidernews.com, menjelaskan, tema Maneges menjadi pemantik agar seniman difabel dinilai secara profesional berdasarkan bobot karyanya.

“Ini menjadi penting untuk melihat seniman difabel secara komprehensif, melalui karyanya. Mereka berjuang mendapatkan kesetaraannya di situ,” ujarnya.

Baca juga: https://mabur.co/budaya/temu-karya-taman-budaya-se-indonesia-tak-mau-berhenti-di-gedung-bagian-3/

Kepala TBY, Purwiati, menambahkan detail yang jarang diperhatikan media dan banyak pengunjung: rata-rata karya yang dipajang di dinding ketinggiannya 120-125 cm dari lantai agar pengguna kursi roda bisa menikmati dengan nyaman.

TBY sebagai Ruang Inklusif

Sebab itu ramp, kursi roda, dan toilet akses disiapkan dengan serius. Komitmen ini sebagai upaya menjadikan TBY ruang inklusif untuk semuanya.

Dalam kepercayaan Jawa, maneges adalah laku kedua setelah manekung (perenungan). Orang Jawa percaya setelah seseorang mampu manekung menahan diri, ia akan maneges melihat jelas jalan hidupnya.

Itulah yang terlihat di galeri, lukisan-lukisan tanpa judul besar, warna-warna yang berani, garis-garis yang jujur.

Di sinilah makna itu berbalik. Bukan kita yang melihat mereka. Mereka yang sedang maneges, dan mengajari kita  (yang katanya normal) untuk bertanya ulang, siapa aku dan kita sesungguhnya. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar