Setelah Gestapu 1965, nama Haji Hammadia benar-benar hilang dari sejarah, bersama nama-nama besar sahabat Soekarno lainnya.
Itu yang diungkap Munir, Pustakawan Rumpita Mandar, Sulbar, yang pernah mewawancarai keluarga besar Haji Hammadia di Jakarta.
Menurut Munir, Haji Hammadia (kadang ditulis Ahmadiyah) adalah pemilik PT. Air Baja, salah satu perusahaan peleburan besi baja terbesar di Indonesia sebelum Krakatau Steel berdiri.
“PT. Air Baja bangkrut dan akhirnya tutup. Haji Hammadia jatuh sakit dan meninggal dunia setelah berulang kali berobat bolak-balik ke Jerman. Terjadi PHK besar-besaran pada seluruh karyawan,” kata Munir menirukan kesaksian keluarga.
Baca juga: Soekarno, PT. Air Baja, Istiqlal, Haji Hammadia, dan Kemiripan Nama Ahmadiyah (Bagian 2)
Brandoke.com mencatat sejarah industri baja nasional memang terbelah pada 1965. Proyek Baja Trikora yang dicanangkan Soekarno pada 1960 dengan Cilegon Steel Mill kerja sama Uni Soviet sempat terhenti akibat gejolak politik dan ekonomi parah.
Baru dilanjutkan awal 1970-an dan diresmikan sebagai Krakatau Steel pada 31 Agustus 1970 di masa Orde Baru.
Di masa vakum itulah perusahaan swasta seperti Air Baja kolaps, asetnya diambil alih, pemiliknya disingkirkan sebagai “Orde Lama”.
Baca juga: Jejak Haji Hammadia, Pemasok Besi Istiqlal dan Monas yang Hilang dalam Sejarah (Bagian 1)
Haji Hammadia, Ibu Maemuna-Pahlawan Mandar, dan Songkok Soekarno
Di Kampung Santri Baruga-Majene, Haji Hammadia bukan orang biasa. Ia masih bertalian keluarga dengan Ibu Maemunah, pelopor pejuang wanita dari Mandar-Baruga di masa penjajahan.
Tesis Museum Mandar Majene yang diliput jurnal jumanji.workers.dev menyebut, Majene sejak 1984 merintis museum untuk mengenang pejuang melawan kolonial, dan nama Maemunah hidup dalam tradisi lisan sebagai penyambung logistik pejuang Tanah Mandar.
Tentang Haji Hammadia, di Teluk Gong Jakarta, masih ada dua anaknya yang hidup: Ibu Nurjannah dan Bang Faisal.
Di rumah Bu Nurjannah, masih menyimpan rapi songkok hitam kesayangan Soekarno. Bukan warisan biasa.
“Songkok itu dilelang Ruslan Abdul Gani saat Soekarno butuh dana perjuangan di masa awal pertumbuhan kemerdekaan. Bahkan konon, songkok hitam itu dilelang saat bulan puasa-jelang Lebaran, sebab istana ingin berlebaran. Tapi Soekarno dan negara tidak punya anggaran untuk menjamu tetamu,” ungkap Munir berdasarkan cerita Bu Nurjannah dan Khalik, anak muda Baruga yang pernah mengunjungi rumah Bang Faisal.
Lelang itu dimenangkan Haji Hammadia. Jumlahnya berapa rupiah tidak pernah disebut. Bagi orang Mandar, melelang songkok di bulan puasa bukan aib, tapi ini siriq, harga diri kita sebagai bangsa: pemimpin rela menanggalkan simbol demi rakyatnya agar bisa berlebaran bersama.
“Wajar jika Haji Hammadia sering diduga pengusaha dari Sumatra-Jawa. Sebab pada mulanya keluarga besar mereka adalah pedagang Sutra Mandar yang berlayar mengarungi Selat Malaka, memasuki kota-kota di Sumatra, Minangkabau pada umumnya,” kata Khalik.
Sayangnya kain sutra Mandar lebih dikenal sebagai kain Bugis di Sumatra dan memiliki nilai tinggi.
TribunJualBeli.com dalam ulasan wastra Sulbar menulis, Lipaq Saqbe adalah produk unggulan yang dipromosikan sebagai warisan budaya, dulu hanya dipakai bangsawan.
Mahyuddin, orang Mandar-Majene yang pernah jadi pedagang sutra di pasar Jakarta era 1960-1970-an, mengenang: kain Mandar selalu jadi pakaian kehormatan.
Romantisme Kain Sutra Mandar
Puncaknya ada di sastra. Renville Siagian, pemerhati budaya asal Sumatra Utara yang lama memimpin perkebunan Astra di pesisir Mandar, menuturkan: “Dalam film Siti Nurbaya yang diangkat dari roman Marah Roesli, Datuk Maringgih sebagai tokoh antagonis kaum elit selalu menggunakan kain sutra Mandar di pinggangnya. Bahkan dalam tradisi nikah elit Minangkabau salah satu syarat seserahan adalah kain sutra Mandar yang diberikan calon pengantin laki-laki. Itulah seserahan Datuk Maringgih kepada Siti Nurbaya.”
Blog kajian budaya di scholar.unand.ac.id menyebut, legenda Siti Nurbaya memang tentang kawin paksa karena utang, simbol harga kain, dan harga diri perempuan Minang.
Bagi orang Mandar, kain itu adalah bukti pelayaran, dan bukan hanya kain. Meski Haji Hammadia meninggal sudah melampaui karir sebagai pedagang kain Sutra Mandar, ia adalah bos besar dari PT. Air Baja.
Namun ia berpulang dan kejayaan Air Baja pun berakhir. Tetapi songkok Soekarno dan cerita sutra itu masih disimpan di Teluk Gong, di antara foto-foto tumpukan besi tua yang dulu pernah ia lebur untuk pembangunan Istiqlal, Monas, dan proyek-proyek mercusuar lainnya di era Soekarno. (Bersambung).
