Mabur.co- Sebagai bagian komitmen dalam pelestarian, pengkajian, dan pengembangan budaya Indonesia, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi lahirnya dialog dan apresiasi terhadap karya budaya, Sanggar Tari Wanita Tama bersama Sanggar Budaya Ambar Rukma, menggelar acara Tari Kebaya Anggun Serumpun karya RM Condroyono, Jumat (24/7/2026) di Museum Ullen Sentalu, Kaliurang, Yogyakarta.
Pencipta Tari Kebaya Anggun Serumpun, RM Condroyono menuturkan, proses penciptaan Tari Kebaya Serumpun agar menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dengan melibatkan seniman muda bersama para praktisi seni dan budaya lainnya yang melimpah ruah.
“Melalui proses kreatif ini, generasi muda tidak hanya mempelajari warisan budaya, tetapi juga ikut menghidupkan dan meneruskan melalui karya, seperti pada Tari Kebaya Anggun Serumpun,” katanya.
Mengakrabkan Kebaya dengan Masyarakat
RM Condroyono juga menuturkan, cara terbaik mencintai kebaya adalah dengan mengalami sehingga terasa semakin akrab. Karya Tari Kebaya Anggun Serumpun hanya salah satu cara untuk semakin mengakrabkan saja.
“Kebaya bukan sekadar pakaian. Kebaya adalah pengalaman budaya yang terus hidup bersama kita. Ketika kebaya dikenakan untuk menari, yang bergerak bukan hanya tubuh. Tetapi juga ingatan, identitas, dan kebanggaan sebagai bagian dari perjalanan budaya Indonesia. Begitu juga ketika menjelma ke dalam karya Tari Kebaya Anggun Serumpun,” katanya.
Di sisi lain, perwakilan dari Sanggar Budaya Ambarukma & Sanggar Wanita Tama, Sayuri Faraswa mengatakan, berawal dari pengalaman menari bersama pada peringatan Hari Kebaya di Borobudur tahun 2024, lahirlah keyakinan bahwa kebaya tidak hanya indah untuk dikenakan. Tetapi memang memiliki makna yang lebih dalam ketika dialami melalui gerak.
“Melalui Tari Kebaya Anggun Serumpun, kita mengajak masyarakat mengalami kebaya, bukan sekadar memakai. Ketika kebaya dikenakan untuk menari, ia menghadirkan rasa bagi yang memakai, anggun, percaya diri, fleksibel, sekaligus mempunyai kedekatan dengan identitas budaya yang dimiliki,” ujarnya senada dengan yang disampaikan RM Condroyono.

Menurut Sayuri, kebaya sendiri merupakan hasil dari budaya, jadi wajib dilestarikan. Kebaya tumbuh melalui perjalanan panjang di kawasan Asia Tenggara.
Kekayaan Kebaya yang Beragam
“Di antara negara-negara yang mengakui kebaya sebagai warisan budaya bersama, Indonesia memiliki kekayaan kebaya yang sangat beragam. Tercermin dalam bentuk, material, dan Wastra Nusantara dari berbagai daerah,” urainya.
Sayuri menuturkan, melalui Tari Kebaya Anggun Serumpun, keberagaman diperkenalkan sebagai kekuatan budaya yang patut terus dicintai, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Tari Kebaya Anggun Serumpun dirancang sebagai tari komunal yang inklusif sehingga dapat dipelajari dan ditarikan oleh siapa saja, tanpa batas usia maupun latar belakang,” katanya.
Menurut Sayuri pula, selain menjadi karya pertunjukan, tari tersebut diharapkan dapat hadir dalam ruang-ruang tertentu di masyarakat, komunitas, pendidikan, maupun berbagai kegiatan budaya sebagai media untuk semakin mendekatkan masyarakat dengan kebaya.
Proses penciptaan karya Tari Kebaya Anggun Serumpun melibatkan kolaborasi lintas generasi dengan menghadirkan koreografer, perancang busana, serta talenta muda dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi pelaku budaya agar warisan budaya terus hidup melalui kreativitas generasi muda,” ucapnya. ***
