Mabur.co — Museum Nasional Indonesia berupaya mengajak masyarakat secara luas agar dapat menikmati museum dengan cara yang berbeda.
Museum yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, kini diarahkan sebagai ruang ekspresi kebudayaan yang lebih terbuka bagi publik.
Hal itu salah satunya dilakukan dengan mengajak pengunjung datang ke museum. Tidak hanya untuk melihat koleksi sejarah, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan seni, lokakarya, hingga program yang melibatkan komunitas dan penyandang disabilitas.
Libatkan Masyarakat Secara Aktif
Penanggung Jawab Museum Nasional Indonesia, Muhammad Rasyid Ridlo, mengatakan museum modern seharusnya melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengelolaannya.
“Kalau kita menjawab apa sih museum modern itu, adalah museum yang dalam pengelolaannya melibatkan aktif publiknya,” ujar Rasyid dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI, sebagaimana dikutip Antara, Kamis (10/9/2026).
Ia mengatakan, salah satu perubahan yang dilakukan adalah dengan memperluas pemanfaatan ruang museum. Area museum nasional kini dapat digunakan untuk pertunjukan gamelan, tari dan berbagai kegiatan seni lainnya.
Selain itu museum nasional juga mengembangkan lokakarya yang disesuaikan dengan tema koleksi maupun ruang pamer.
Dengan konsep tersebut, museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkegiatan dan berinteraksi dengan kebudayaan.
Sejak beberapa waktu terakhir, program Museum Nasional juga mulai melibatkan lebih banyak kelompok masyarakat, termasuk komunitas, seniman, pelaku industri kreatif hingga penyandang disabilitas.
Salah satunya melalui program Mantra atau Musik, Nada dan Tradisi yang menjadi ruang pengembangan musik sekaligus memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri di lingkungan museum.
Waktu Berkunjung Lebih Panjang
Perubahan juga dilakukan dari sisi akses. Museum Nasional memperpanjang waktu kunjungan pada hari dan waktu tertentu sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk datang.
Selain itu pemanfaatan teknologi juga mulai diterapkan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung.
Pemanfaatannya mencakup pembelian tiket, akses informasi layanan, hingga mendukung proses konservasi serta pengelolaan dan perlindungan koleksi.
Tidak hanya aktivitasnya yang berubah. Museum Nasional juga memperkuat cara menyampaikan cerita di balik koleksi.
Informasi mengenai koleksi kini diarahkan agar lebih relevan dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.
“Koleksi ditempatkan dalam konteks yang relevan dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda,” kata Rasyid.
Lewat perubahan tersebut, Museum Nasional berharap masyarakat atau pengunjung dapat menjadi bagian penting dari kehidupan museum.
Dengan begitu museum tidak hanya menjadi tempat belajar sejarah, tetapi sekaligus juga sebagai ruang untuk pendidikan, seni, komunitas dan kegiatan kebudayaan yang lebih beragam.
