Mabur.co – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara resmi mengumumkan upaya revitalisasi kawasan cagar budaya nasional Ndalem Joyodipuran di Yogyakarta.
Kawasan yang sebelumnya difungsikan sebagai kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Yogyakarta tersebut akan dialihfungsikan sebagai Museum Mataram Kuno sekaligus pusat kebudayaan terpadu (cultural enclave) bagi masyarakat luas.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (10/9/2026), dijelaskan langkah strategis ini ditempuh seiring telah berpindahnya fungsi operasional perkantoran Balai Pelestarian Kebudayaan Yogyakarta ke lokasi baru, sehingga kawasan Ndalem Joyodipuran dapat dioptimalkan penuh sebagai sarana edukasi publik.
Kantong Budaya Masyarakat
Pendirian Museum Mataram Kuno memiliki signifikansi penting guna mempertegas lini masa peradaban Nusantara dan memberikan ruang pemahaman yang jelas bagi masyarakat dalam membedakan karakteristik peradaban Mataram Kuno dengan era Mataram Islam.
“Area ini merupakan aset Kementerian Kebudayaan yang sebelumnya difungsikan sebagai kantor Balai Pelestarian Kebudayaan. Karena kami telah memiliki kantor baru, kawasan ini akan direvitalisasi menjadi Museum Mataram Kuno. Koleksi artefak yang kami miliki, termasuk peninggalan era perunggu dan arca-arca, akan ditata agar dapat diakses publik secara edukatif, nyaman, dan informatif. Tempat ini kami siapkan menjadi cultural enclave atau kantong budaya bagi masyarakat,” ungkap Menbud.
Dalam proses revitalisasinya, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmen penuh terhadap kaidah konservasi cagar budaya.
Struktur asli bangunan Ndalem Joyodipuran akan dipertahankan semaksimal mungkin guna menjaga nilai historis dan keaslian arsitektur peninggalan masa lalu, sembari menghadirkan fasilitas tata pamer kontemporer yang aman dan ramah pengunjung.
Kaya Nilai Arkeologis
Selain kaya akan nilai arkeologis, Ndalem Joyodipuran memiliki jejak peristiwa historis kebangsaan yang sangat vital.
Kawasan ini tercatat pernah menjadi kantor sekretariat Jong Java generasi awal serta menjadi pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada 22 Desember 1928 di bagian Pendopo.
Peristiwa bersejarah inilah yang melahirkan tonggak peringatan Hari Ibu Nasional, yang tepat dua tahun mendatang akan memperingati momentum satu abad (100 tahun).
Selain meninjau Ndalem Joyodipuran, Menbud berkesempatan melihat Naskah Serat Centhini atau dikenal juga sebagai Suluk Tambangraras, salah satu mahakarya sastra terbesar dalam Kesusastraan Jawa Baru yang sering dijuluki sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, yang tersimpan di perpustakaan dalam kawasan Ndalem Joyodipuran.
Berdasarkan data, naskah-naskah tersebut berjumlah cukup banyak yakni 675, terdiri dari babat-babat, serat-serat, termasuk serat-serat suluk.
“Serat Centhini merupakan salah satu serat penting yang lahir di era Paku Buwono IV yang berisi segala macam hal tentang kebudayaan Jawa yang dibuat pada era tahun 1800-an. Naskah Centhini ini salah satu rujukan penting di dalam kajian tentang budaya Jawa, mulai dari yang berkaitan dengan keris, sampai hal-hal seperti wayang, cerita-cerita kehidupan masyarakat Jawa, filosofi dan segala macamnya ada di Serat Centhini,” tambah Menbud.
Menbud juga menerangkan rencana untuk menjadikan Serat Centhini sebagai salah satu koleksi perpustakaan Museum Nasional.
Hal tersebut dilakukan guna menjamin akses yang lebih mudah untuk publik, baik melalui bentuk fisik maupun setelah melalui proses digitalisasi.
Menteri Fadli menegaskan bahwa Serat Centhini dapan menjadi bagian penting atau ikon dari koleksi perpustakaan Museum Nasional mendatang.
