Mabur.co– Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk permainan tradisional atau permainan “jadul” (jaman dulu).
Sebelum era gadget dan teknologi canggih, anak-anak Indonesia tumbuh dengan permainan sederhana namun penuh makna.
Permainan ini bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat sosialisasi, pengembangan motorik, serta pelestarian nilai-nilai budaya dan kebersamaan. Sayangnya, banyak dari permainan tersebut mulai terlupakan seiring perkembangan zaman.

Di tengah gempuran gadget dan permainan modern, permainan tradisional Indonesia tetap memiliki daya tarik yang tak tergantikan.
Setiap daerah di Nusantara memiliki permainan khas yang bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga sarana melatih ketangkasan, kreativitas, dan kebersamaan.
Dari Sabang sampai Merauke, anak-anak zaman dulu akrab dengan permainan seperti congklak, engklek, bentengan, hingga egrang yang semuanya memiliki filosofi dan nilai budaya masing-masing.

Permainan tradisional ini lahir dari kearifan lokal, menggunakan peralatan sederhana yang memanfaatkan alam sekitar, namun mampu menciptakan kegembiraan luar biasa.
Lebih dari sekedar bermain, di dalamnya terkandung nilai gotong royong, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Inilah warisan leluhur yang sebaiknya kita kenalkan kembali pada generasi muda, agar mereka tidak melupakan akar budaya sendiri.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos, MM, mengatakan, guna mengenalkan kembali permainan tradisional agar tidak tergurus zaman, maka pihaknya selalu memberikan edukasi tentang dolanan-dolanan anak.
Mudah Diakses Masyarakat
Supaya masyarakat juga mengenal tentang permainan-permainan tradisional yang ada di Kota Yogyakarta. Karena selama ini, kalau tidak dikenalkan di ruang-ruang yang mudah diakses masyarakat, anak-anak tidak tahu, apa itu permainan anak, bagaimana cara permainannya.
“Kami dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, kalau mengadakan kegiatan festival yang diadakan di Kota Yogyakarta, selalu bikin materi yang berkaitan dengan dolanan anak atau pun permainan tradisional,” katanya saat ditemui, Sabtu (6/6/2026) di kawasan Malioboro.

Yetty mengatakan pula, permainan tradisional selalu diadakan agar masyarakat tetap mengerti dan mengenal, di sekitar kita banyak potensi terkait dengan permainan tradisional.
Tidak hanya bicara kaitannya dengan budaya, tapi sebenarnya permainan tradisional atau pun dolanan anak juga mengajarkan berkaitan dengan kebersamaan, gotong-royong, disiplin. Kemudian juga bagaimana menghargai satu dengan yang lain.
Nilai Filosofi
Jadi banyak hal, nilai-nilai filosofi yang bisa kemudian diajarkan dalam permainan tradisional atau pun dolanan anak ini.
“Sebagai generasi senior masih tahu, masih menyimpan memori dan memahami, bahkan juga bisa mengajarkan. Peran-peran kita semua harus menghadirkan permainan tradisional ini, agar bisa dikenal dan diketahui, juga dipelajari oleh anak-anak maupun generasi muda saat ini. Melalui kegiatan yang relate dan juga bisa mudah diakses oleh mereka. Jangan sampai kemudian kita merasa bahwa kita sudah kenalkan, kita sudah menghadirkan, tapi mungkin ruang-ruangnya tidak terbaca atau pun bisa dipahami oleh anak-anak saat ini,” tuturnya.

Yetty menuturkan, untuk mengenalkan permainan tradisional, bisa seperti mem-branding sebuah kampung untuk melakukan aktivitas-aktivitas budaya yang kemudian bisa diaktualisasi melalui kehidupan sehari-hari.
“Lebih bagus begitu dan masyarakat bisa lebih cepat tahu untuk kemudian juga melakukan hal seperti itu. Misalnya ada Kampung Bahasa Jawa, Kampung Aksara atau kampung lain yang kemudian fokus pada permainan tradisional, dolanan anak begitu. Sebenarnya juga otomatis warga sekitar, warga setempat, bisa nguri-nguri permainan tradisional, dan belajar melestarikan agar tidak tergerus zaman. Saya berharap nantinya kampung-kampung di Kota Yogyakarta bisa terus berkonsentrasi dalam pelestarian kebudayaan berkaitan dengan pelestarian permainan tradisional,” ucapnya. ***

