Fenomena Embun Upas, Daya Tarik Wisatawan Musim Kemarau di Dieng

3 Min Read
Frost-covered grass in a field with hills and a line of trees in the distance at dawn.
Fenomena Dieng bersalju biasanya terjadi pada puncak musim kemarau, yaitu antara bulan Juli hingga Agustus. (Foto: Istimewa)

Mabur.co-  Mungkin terdengar mustahil, tapi di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, fenomena seperti salju benar-benar bisa kamu saksikan setiap tahunnya. Masyarakat setempat menyebutnya “Embun Upas”, yaitu embun beku yang muncul saat suhu udara di bawah nol derajat Celcius.

Fenomena ini membuat permukaan tanah, rumput, hingga atap rumah tampak berkilau putih seperti diselimuti salju. Pemandangan ini hanya bisa ditemukan di negeri atas awan, yaitu Dieng Plateau.

Dieng Bersalju

Fenomena Dieng bersalju biasanya terjadi pada puncak musim kemarau, yaitu antara bulan Juli hingga Agustus. Pada periode ini, langit cerah tanpa awan membuat panas matahari di siang hari cepat hilang pada malam harinya, menyebabkan suhu turun drastis.

Embun upas berasal dari kata Jawa “upas” yang berarti racun. Warga menyebutnya begitu karena embun beku ini bisa merusak tanaman seperti kentang dan kubis yang menjadi komoditas utama Dieng. Meski begitu, bagi wisatawan, embun upas justru menjadi daya tarik utama musim kemarau di Dieng.

Bila terkena sinar matahari pagi, butiran embun membeku tampak seperti kristal salju berkilau di atas rumput dan daun. Fenomena inilah yang membuat banyak orang menyebutnya “salju Dieng”.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, fenomena embus es (frost) di Dieng merupakan salah satu aspek cuaca yang menyita perhatian serius bagi kalangan ilmuwan, praktisi cuaca, dan masyarakat.

“Cuaca dan iklim merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari, dan peristiwa-peristiwa ekstrem seperti embun es (frost) memiliki dampak yang signifikan pada berbagai sektor kehidupan,” katanya dilansir dari BMKG, Rabu (10/6/2026).

Ardhasena menjelaskan, fenomena embun es muncul saat suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Akibatnya, lapisan es yang muncul akan menutupi tumbuhan dan permukaan tanah.

Walaupun Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat (warm climate), frost dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi apabila beberapa kondisi cuaca terpenuhi.

“Fluktuasi kejadian fenomena embun es Dieng ini diperkirakan juga dipengaruhi oleh adanya fenomena iklim global seperti El Nino dan La Nina serta adanya perubahan iklim,” ujarnya.

Ardhasena mengatakan, di sisi lain, akibat cuaca ekstrem yang menghasilkan embun es di dataran tinggi Dieng, fenomena ini memiliki dampak negatif yang perlu dipertimbangkan. Pada sektor pertanian, menyebabkan tanaman menjadi layu, mati dan mengering.

“Fenomena ini juga berdampak pada kondisi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah setempat,” katanya.

Ardhasena mengatakan lagi, di balik dampak buruknya, fenomena frost meninggalkan keunikan yang dapat dijadikan wisata bagi masyarakat.

“Jika fenomena kemunculan embun es ini dapat dikelola dan dipromosikan dengan baik, dapat menjadi potensi wisata unik di Dieng yang dapat mendatangkan lonjakan kunjungan wisatawan signifikan dan meningkatkan perekonomian lokal,” ungkapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment