Menyempurnakan AI agar Menjadi “Tidak Sempurna” - Mabur.co

Menyempurnakan AI agar Menjadi “Tidak Sempurna”

Mabur.co – Memasuki dekade kedua di milenium kedua ini, kemunculan AI (Artificial Intelligence) telah mengubah lanskap kehidupan secara perlahan-lahan.

AI bahkan bisa dianalogikan sebagai sosok kartun fiksi “Doraemon” dalam wujud digital versi modern.

Bagi Anda pencinta tokoh kartun Doraemon, Anda pasti sudah familiar dengan sosok gemoy bulat berwarna biru ini, yang bisa menolong Nobita keluar dari segala macam kesulitan di dalam hidupnya, yang tidak pernah naik dari kelas 5 SD, sekaligus dianggap bodoh dan kerap mengalami perbuatan yang tidak menyenangkan dari Giant maupun Suneo.

Bisa dibilang, AI menjadi sosok “Doraemon” tersebut dalam kehidupan modern saat ini, yang mampu mengatasi berbagai persoalan hidup manusia, khususnya di ranah digital.

Jika Doraemon merupakan “asisten” bagi Nobita dalam kehidupan fiksi di Jepang, maka AI adalah “asisten” manusia dalam kehidupan di era modern saat ini.

Secara tidak langsung, manusia akan mulai merasa ketergantungan terhadap kehadiran AI, sama halnya seperti Nobita yang sangat bergantung terhadap Doraemon.

Sehingga AI bisa dianggap sebagai “kesempurnaan”, yang mampu mengiringi kehidupan manusia, yang sama sekali jauh dari kata sempurna.

Namun baru-baru ini, dikutip dari laman Media Indonesia, Selasa (28/4/2026), seorang pengusaha di Amerika Serikat bernama Ben Horwitz, berupaya melepaskan predikat “kesempurnaan” tersebut dalam citra AI.

Melalui sebuah terobosan unik yakni plugin browser bernama “Sinceerly”, Horwitz berusaha menjadikan AI sebagai tools yang “tidak sempurna”, sama seperti kehidupan manusia pada umumnya.

Alih-alih memperbaiki kesalahan dan menyempurnakannya, alat ini justru secara sengaja menambahkan salah ketik (typo) ke dalam email buatan AI, sehingga hasil akhirnya akan terlihat lebih “manusiawi” (seolah-olah dikerjakan oleh manusia). 

Horwitz bahkan menyebut karyanya ini sebagai “antitesis” dari alat pemeriksa ejaan populer, yang sangat menuntut kesempurnaan di dalamnya.

“Saya berani membuat anti-Grammarly, untuk mengacaukan email Anda dengan AI,” ucap Horwitz dalam unggahan di sosial media X pribadinya.

Horwitz, yang membuat alat ini dengan bantuan AI Claude, terinspirasi dari pengalamannya sendiri sebagai pengetik yang buruk dan penyandang disleksia ringan. Ia merasa bahwa di tengah kepungan “sampah AI” (AI slop) yang memenuhi kotak masuk, sentuhan ketidakteraturan alias “ketidaksempurnaan” manusia menjadi sangat berharga.

Semua itu murni untuk menekankan bahwa memang di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan semua manusia juga tidak ada yang sempurna. Jika ada suatu projek atau karya yang teramat sempurna, maka itu sudah pasti buatan AI.  

Uniknya, plugin Sinceerly menawarkan tiga tingkatan kekacauan yang bisa dipilih oleh pengguna.

1. Subtle

Menghapus kata-kata pengisi dan menggunakan singkatan untuk membuat teks lebih ringkas. Biasanya menyisipkan satu kesalahan ketik di kalimat pertama.

2. Human

Memberikan nada bicara yang lebih santai dan percakapan yang biasa dilakukan sehari-hari, dengan frekuensi kesalahan yang lebih banyak dari biasanya (seperti manusia pada umumnya).

3. CEO

Mode ini adalah yang paling ekstrem. Teks akan berubah menjadi huruf kecil semua (all-lowercase), sangat singkat, dan terkadang ditambahkan keterangan otomatis “dikirim dari iPhone saya” untuk memberikan kesan kesibukan dan kekuasaan sang pengirim pesan.

***

Jika dahulu manusia seringkali mengutuk kesalahan penulisan (human error), namun dengan hadirnya AI yang menawarkan kesempurnaan layaknya sosok Doraemon, indikasi human error tersebut justru dirindukan kembali oleh sebagian kalangan.

Mereka dengan rendah hati menganggap bahwa human error adalah bagian dari keseharian manusia, dan itu sangat bisa dimaklumi.

Fenomena ini juga sekaligus menandai pergeseran norma dalam komunikasi digital. Dimana tulisan yang “berantakan” atau typo, kini mulai dianggap sebagai simbol status baru, yang menunjukkan bahwa sebuah pesan benar-benar harus dibuat dengan jari-jemari manusia sungguhan, bukan hasil cetakan atau bantuan teknologi.

Kalau sudah seperti ini, rasanya manusia memang perlu mengembangkan lagi bentuk komunikasi yang alami, dan tidak lagi berlindung di balik sekat teknologi.

Karena teknologi secanggih apapun, tidak akan pernah mampu mengalahkan “teknologi” komunikasi secara tatap muka, yang menjadi landasan awal dimulainya komunikasi antar makhluk hidup di tingkat paling dasar.

Dan satu hal lain yang tidak kalah penting adalah, tidak semua kecanggihan teknologi itu pasti baik, dan tidak semua hal yang jadul itu pasti buruk. Sama seperti nature hidup seorang manusia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *