Permainan Tradisional Tidak Akan Pernah Punah, Inilah Sebabnya

4 Min Read
Two schoolgirls in white hijabs and red uniforms skip with sticks while a tire rolls nearby during a school event.
Permainan tradisional gelinding roda (Foto: infopublik.id)

Mabur.co – Di tengah kemajuan dan kecanggihan teknologi seperti saat ini, anak-anak era sekarang sudah begitu dimanjakan dengan banyaknya game online yang bisa diakses dari mana saja, dengan bentuk visual yang sangat canggih, dan mampu menghubungkan player dari seluruh dunia.

Dengan fenomena tersebut, tentunya permainan tradisional seperti Delikan, Gobak Sodor, Congklak, dan lain sebagainya menjadi semakin terpinggirkan, sehingga tidak lagi diminati oleh para generasi muda.

Hanya saja, meski tergolong kalah canggih dan modern dari permainan yang tersaji di gadget saat ini, permainan tradisional tetap memiliki daya tariknya tersendiri, yang tidak akan mampu ditiru oleh permainan secanggih apa pun di luar sana.

Bahkan, menurut laporan dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemenndikdasmen), Minggu (7/6/2026), permainan tradisional sejatinya tidak akan benar-benar punah dari negeri ini. Mengingat budaya interaksi sosial yang telah mengakar kuat di kalangan masyarakat, dan seterusnya.

Dilansir dari laman Kemenndikdasmen, Minggu (7/6/2026), berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa permainan tradisional sejatinya tidak akan pernah 100% punah, walaupun zaman sudah serba digital seperti saat ini.

1. Membangun Hubungan Sosial

Satu hal penting yang diajarkan dalam permainan tradisional adalah terciptanya hubungan sosial antar masyarakat yang cukup erat. Bahkan beberapa permainan seperti petak umpet atau engklek justru harus dimainkan secara beregu alias kolektif. Hal ini tentu saja membuat anak-anak akan lebih mudah mendapatkan teman baru.

Sebagai makhluk sosial, apalagi di Indonesia, interaksi yang tercipta dari permainan tradisional sangatlah efektif untuk membangun relasi baru, dan seterusnya.

Sementara dalam permainan digital, anak-anak biasanya cenderung mengurung diri di dalam kamar, dan menolak untuk diganggu oleh orang lain sedikitpun.

2. Mengedepankan Aktivitas Fisik

Selain soal hubungan sosial, permainan tradisional juga sangat mengandalkan aktivitas fisik. Mengingat beberapa permainannya membutuhkan mobilitas yang cukup tinggi, serta berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hal itu tentunya akan membuat tubuh lebih banyak bergerak dan berkeringat, ketimbang bermain game digital, yang hanya duduk di kursi atau rebahan selama berjam-jam, tanpa melakukan gerakan sama sekali (kecuali tangan/jari).

3. Mengajarkan Aturan dan Sikap yang Baik

Permainan tradisional juga mengandung banyak nilai kebaikan, di mana anak bisa belajar bekerjasama, bersikap jujur, dan menerima kekalahan.

Di sisi lain, dalam permainan digital, tidak ada kerjasama (tapi saling berkompetisi), berusaha menghalalkan segala cara, dan sering ngamuk sendiri ketika menderita kekalahan, dan seterusnya.

4. Gratis dan Mudah Dibuat

Material yang dibutuhkan dalam permainan tradisional juga tegolong gratis dan mudah dibuat. Contohnya adalah bambu atau batu kerikil, yang digunakan dalam permainan Bedil Jepret (senapan bambu) atau Pletokan.

Sementara untuk permainan digital, butuh ponsel pintar dengan spesifikasi tinggi (dan harga yang cukup mahal), untuk bisa memainkan game tersebut. Bahkan tak jarang game-game digital juga terus di-upgrade setiap tahunnya, sehingga mau tidak mau Anda harus kembali merogoh kocek, agar bisa membeli ponsel keluaran terbaru yang lebih canggih tersebut, demi bisa memainkan upgrade game digital sebelumnya, dan sebagainya.

 ***

Meski dianggap tidak akan punah, namun bukan berarti bahwa permainan tradisional itu lantas tidak dilestarikan begitu saja.

Dibutuhkan kesadaran kolektif dari berbagai pihak (terutama orang tua), untuk mulai mengenalkan kembali beberapa permainan tradisional yang mudah dilakukan, agar eksistensinya benar-benar terjaga dari waktu ke waktu, sekalipun zaman sudah berubah dengan begitu cepat. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment