Iyut Fitra, sastrawan tersohor asal Sumatra Barat itu, sehari sebelum Hari Puisi Nasional tiba pada 28 April 2026, sudah lebih dulu berpulang.
Seperti mengisyaratkan bahwa tepat di Hari Puisi Nasional seluruh warga negara puisi akan khidmat mengirimkan wangi doa terbaik dari mana pun penjuru negeri.
Tiba-tiba saya juga teringat puisi Iyut Fitra yang tayang di tatkala.co 5 Desember 2021, media tokcer yang pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Kebudayaan Indonesia dan diasuh pujangga Bali kharismatik, siapa lagi kalau bukan Made Adnyana Ole.
Puisi Iyut Fitra itu berjudul Hari Tua Sebuah Kelewang.
Kelewang itu tergeletak di tepi sungai. Telah lama bekas darah di tubuhnya mengering.
Begitulah narasi pembuka puisi itu. Pastilah puisi itu menceritakan adanya korban mayat-mayat yang mengambang di sebuah sungai. Ya, kelewang yang memang menjadi saksi kematian.
Setidaknya impresi puitik itulah yang bisa saya maknai dari paparan puisi Iyut tersebut.
Kelewang telah menjadi perbendaharaan kata yang mengantar kematian. Kelewang menjadi bagian dari tamasya ilusi indah tentang kematian.
Tapi kelewang tidak ada kaitannya dengan kematian Iyut. Ia meninggal wajar saja, karena penyakit lever sejak 2025. Sampai obituari ini ditulis, sayangnya saya tidak menemukan puisi Iyut yang menjadi bagian dari catatan penting tentang lever dan dirinya.
Boleh jadi Anda semua, pembaca yang budiman sudah menemukannya, dan saya memang terlambat tahu.
Tidak hanya bagi sastrawan, bagi siapa pun saja kematian tetaplah sebuah misteri. Apakah yang sebenarnya terjadi dengan ingatan kita saat napas terakhir berakhir? Benarkah tujuh menit setelah kematian tiba maka otak akan memberikan rangkuman terindah tentang perjalanan hidup kita?
Benarkah tujuh menit setelah kematian tiba maka otak akan menyodorkan kaleidoskop perjalanan terindah dalam hidup kita? Jika itu memang terjadi, maka kematian bisakah bernilai menggembirakan? Karena closing hidup itu sendiri adalah keindahan?
Apakah hal itu juga yang menyebabkan kadang-kadang kita jumpai orang yang meninggal namun wajahnya seperti tersenyum?
Penelitian sains tentang itu bisa saja tidak dipercaya, bahkan cerita mengenai orang mati suri, yang hanya sebentar mati kemudian hidup lagi juga bisa saja tetap disangkal.
Namun kepada Iyut kita tetap saja memaknai nilai sebuah kematian. Apa pun nilai itu. Terdeskripsikan ataukah tidak pastilah diam-diam kita tetap akan mencari jawab.
Jawaban itu ternyata hanya bisa kita temukan jika kita menjalani sendiri. Sampai saatnya tiba nanti kita akan menyusul Iyut. Menyamai Iyut. Hanya tinggal menjadi nama.
Misteri tujuh menit memori terindah dalam otak usai kematian tiba itu pun bisa saja terjawab sesuai penelitian sains.
Saya berharap jika itu terjadi pada Iyut, maka saya salah satu yang masuk dalam memori terindah tujuh menit tersebut.
Saya berjumpa dengannya di acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di Bali pada 2011.
Iyut adalah salah satu kurator yang menyeleksi penulis peserta UWRF 2011 dan alhamdulilah saya ikut terpilih. Waktu itu yang mengajukan sebagai peserta baru kisaran 300-an orang dan dipilih hanya 15 orang.
Selain Iyut kuratornya adalah Dorothea Rosa Herliany yang baru saja mendapatkan penghargaan SEA Write Award di Thailand, Kurnia Effendi sastrawan alumni ITB yang menginformasikan pada saya bahwa pendaratan Apollo 11 di Bulan era jadul dulu adalah benar, dan sastrawan Made Adnyana Ole.
Waktu itu saya senang bisa bertemu Iyut dan tetap merasa malu dengan pencapaian karya-karya saya sendiri.
Selamat jalan, Iyut Fitra. Semoga rahasia semesta kenangan tujuh menit pasca-kematian itu sungguh ada saya di dalam benak Anda. ***



