Kenapa Budaya 10 Tahun Lalu Bisa Kembali Viral?

2 Min Read
Woman in a red sweater sits at a table, looking at her smartphone and smiling as she takes a selfie.
Belakangan istilah 2026 is the new 2016 ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan kembalinya budaya populer era 2016 ke ruang digital masa kini. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co-  Belakangan ini, Istilah 2026 is the new 2016, ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan kembalinya budaya populer era 2016 ke ruang digital masa kini.

Mulai dari gaya berpakaian, musik, meme, hingga pola interaksi di internet, banyak hal yang terasa seperti mengulang satu dekade ke belakang.

Salah satu pemicu awal tren ini datang dari video TikTok milik pengguna @taybrafang.

Dalam video tersebut, ia menulis kalimat, “Sepuluh tahun lalu, malam ini.” Kalimat singkat itu ternyata menyentuh banyak orang.

Di kolom komentar, seorang pengguna menulis, “Aku berkomentar supaya bisa tetap tinggal di 2016.” Ungkapan ini pun langsung diamini oleh banyak netizen lain.

Siklus Budaya

Fenomena ini bukan sekadar nostalgia spontan, melainkan bagian dari siklus budaya yang berulang dan dipercepat oleh media sosial.

Secara sederhana, frasa ini digunakan untuk menyebut kondisi ketika tren, gaya hidup, dan budaya digital tahun 2016 kembali populer di 2026.

Ungkapan tersebut sering muncul di TikTok, X, dan Instagram sebagai komentar atau caption yang menyoroti kemiripan suasana budaya dua era tersebut.

Yang dimaksud bukan situasi sosial atau politik yang sama persis, melainkan nuansa pop culture dan internet culture yang terasa familiar.

Nostalgia

Tren sering berulang dalam siklus sekitar 10–20 tahun. Jarak waktu ini cukup untuk membuat generasi baru menemukan kembali sesuatu yang dianggap “lama”, sementara generasi sebelumnya merasakan nostalgia.

Tahun 2016 kini berada di jarak ideal untuk diromantisasi kembali. Platform seperti TikTok mempercepat daur ulang tren. Lagu, meme, atau gaya lama dapat viral kembali hanya karena, potongan video pendek, algoritma yang memprioritaskan konten emosional, efek “ingat masa itu” yang mudah memicu interaksi.

Konten nostalgia cenderung memiliki tingkat engagement tinggi, sehingga terus didorong algoritma. Bagi banyak pengguna, 2016 dikenang sebagai masa, media sosial belum terlalu dipenuhi iklan, tren terasa lebih organik, meme dan humor internet lebih spontan.

Pandangan ini membuat 2016 sering dianggap sebagai era internet yang lebih ringan dan menyenangkan, meskipun realitasnya tidak selalu sesederhana itu.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar