Harga Plastik Naik Gila-gilaan, Pakar UMY Sebut Fenomena Cost-Push Inflation - Mabur.co

Harga Plastik Naik Gila-gilaan, Pakar UMY Sebut Fenomena Cost-Push Inflation

Mabur.co- Kenaikan harga plastik secara nasional mulai terjadi akibat terbatasnya pasokan bahan baku di tingkat produsen. Kondisi ini dipicu oleh gangguan distribusi dan keterbatasan suplai resin plastik yang menjadi komponen utama dalam industri tersebut.

Sejumlah pelaku usaha di berbagai daerah mengeluhkan lonjakan harga yang mulai dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, kenaikan tersebut dikhawatirkan berdampak pada sektor industri kecil dan menengah yang bergantung pada bahan plastik, termasuk pelaku usaha kemasan dan rumah tangga.

Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si., mnjelaskan bahwa kenaikan harga plastik saat ini merupakan bagian dari fenomena cost-push inflation, yaitu tekanan inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya pada sektor berbasis energi.

“Plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga secara lebih luas, tidak hanya pada industri manufaktur, tetapi juga sektor lain yang memiliki keterkaitan,” jelasnya, Kamis (16/4/2026).

Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si (Foto: Istimewa)

Dessy mengatakan, dinamika global menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga plastik. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi stabilitas distribusi energi dunia.

Gangguan pada jalur strategis perdagangan minyak, seperti Selat Hormuz, menyebabkan terganggunya pasokan bahan baku dan meningkatnya biaya distribusi.

“Kenaikan harga plastik sangat erat kaitannya dengan dinamika global, khususnya harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Dampaknya adalah terganggunya pasokan bahan baku plastik dan meningkatnya harga secara global,” ungkapnya.

Dessy menyoroti persoalan mendasar dalam struktur industri nasional, yakni tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan bahan baku masih dipenuhi dari luar negeri.

“Ketergantungan pada impor bahan baku industri membuat kita sangat mudah terdampak oleh fluktuasi global. Ketika harga plastik naik hingga 30–100 persen, ini bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan sudah berimplikasi pada stabilitas ekonomi secara lebih luas, termasuk daya beli masyarakat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *