Mabur.co – Di tengah situasi perang di Timur Tengah yang semakin panas, bahkan kini sudah mulai meluas ke beberapa negara lainnya, seperti Lebanon, Irak, Yaman, dan wilayah Teluk lainnya, membuat dunia berada dalam situasi yang semakin “tidak aman”.
Sementara itu, dalam hitungan dua bulan lagi, pesta sepakbola dunia akan tersaji di salah satu negara yang kebetulan sedang melakukan agresi ke Timur Tengah, yakni Amerika Serikat (AS).
Tentu saja tidak elok, apabila Piala Dunia tetap berlangsung di tengah situasi dunia yang sedang “tidak baik-baik saja” seperti saat ini. Apalagi jika pelakunya justru adalah salah satu tuan rumah Piala Dunia itu sendiri.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, selaku induk yang menaungi kompetisi Piala Dunia ini, berulang kali menyatakan bahwa Piala Dunia adalah kesempatan yang sangat baik untuk mempersatukan dunia internasional, sekaligus sebagai momen perdamaian bagi negara-negara yang sedang berkonflik saat ini.
Hanya saja, statement itu sama sekali tidak mengubah ancaman nyata yang sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat, yakni adanya boikot dari negara-negara peserta Piala Dunia, khususnya negara yang berkonflik langsung dengan AS, seperti Iran (dan mungkin juga Irak).
Jangan sampai kompetisi akbar sekelas Piala Dunia justru berubah jadi “Perang Dunia”, lantaran setiap negara memiliki kepentingannya masing-masing, dan tidak bersedia untuk “diserang” oleh negara-negara peserta lainnya.
Meskipun Piala Dunia sendiri sejatinya juga merupakan “perang”, yakni perang dalam pertandingan sepakbola, yang dimainkan selama 90 menit di lapangan hijau.
Sekilas narasi “Piala Dunia sebagai momen mewujudkan perdamaian dunia” tampak begitu indah didengarkan, apalagi jika diucapkan oleh presiden federasi sepakbola dunia.
Namun realita yang terjadi tidaklah semudah ucapan manis itu. Karena konflik kepentingan negara-negara peserta (yang merasa keamanannya terancam) bisa jadi membuat ajang Piala Dunia kemudian berubah menjadi “Perang Dunia” (ketiga) dalam waktu dekat, apalagi dengan penambahan peserta hingga 48 negara pada tahun ini.
Jadi, apakah “Piala Dunia” sudah benar-benar layak disebut sebagai “Perang Dunia”? (*)



