Mabur.co- Yogyakarta merupakan daerah yang kaya akan budaya dan tradisi serta peninggalan sejarah yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini.
Salah satunya adalah Masjid Rotowijayan atau Masjid Keben yang menjadi salah satu saksi perkembangan Yogyakarta.
“Jika untuk melakukan ibadah, masjid ini bisa menampung sekitar 200-an jemaah,” kata Agus, penjaga masjid kepada mabur.co, Minggu (19/4/2026).
Agus menjelaskan, masjid tersebut memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kraton Mataram. Dalam catatan yang tertera di lingkungan masjid dipaparkan, masjid tersebut merupakan tempat pertahanan para prajurit pihak Inggris saat menyerang Kraton Yogyakarta yang kemudian dikenal dengan geger sepehi.
Dari serambi masjid inilah komandan pasukan Inggris, Kolonel Galapsy, tertembak pada bahunya.
“Masjid ini dibangun pada 2 April 1792 di masa pemerintahan HB II. Masjid ini juga pernah dipergunakan untuk menyemayamkan jenazah KGPA Mangkudiningrat,” katanya.
Agus kembali menjelaskan, pada masa silam, Masjid Keben digunakan untuk menyemayamkan jenazah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Mangkudiningrat yang merupakan putra kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Ia disemayamkan pada 17 Agustus 1826. Selain sarat jejak sejarah di sekitar lokasi Masjid Keben juga terdapat sebuah prasasti.
“Prasasti tersebut sengaja diberikan oleh masyarakat Tionghoa Yogyakarta di hari peringatan penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Oleh karena itu, Masjid Keben sangat penting keberadaannya sebagai tempat ibadah dan saksi sejarah masa lampau,” katanya. ***



