Mabur.co- Sekilas saat mendengar kata THR atau Purawisata, orang-orang di Yogyakarta akan langsung ingat pada sebuah bangunan di Jalan Brigjen Katamso.
Namun, tidak semuanya, sepertinya hanya orang-orang yang lahir sebelum era 1990 saja yang tahu. THR atau Taman Hiburan Rakyat atau yang juga dikenal dengan nama Purawisata tersebut adalah salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta yang pernah menjadi jujugan atau alternatif tujuan masyarakat yang butuh hiburan.
Di panggung dangdut, misalnya, THR juga telah mengantarkan Vivin Vania, Oky Ardila, dan Yayuk Parabola menjadi biduan ternama Tanah Air. Tempat ini sempat menjadi kiblat musik dangdut pada zamannya.
Beberapa Orkes Melayu (OM) yang setia manggung di sini antara lain OM Latanza, OM New Satria, hingga OM OBB.
Jauh sebelum menjadi THR dan kemudian berubah nama menjadi Purawisata, objek wisata di Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta ini, dulu merupakan sebuah kompleks pemakaman.
Orang zaman dulu menyebutnya dengan Kerkof, sementara lidah Jawa menyebutnya dengan nama Kerkop. Namun saat akan dibangun menjadi tempat hiburan, beberapa makam kemudian dipindahkan.
Menjelang tahun 2013, Purawisata memutuskan untuk tutup, undur diri dari ingar bingar panggung hiburan Kota Yogyakarta. Salah satu bangunan yang masih bertahan di area THR adalah Ramayana Ballet Purawisata.
Usia Setengah Abad
Memasuki usia setengah abad, Sendratari Ramayana Purawisata menegaskan eksistensinya sebagai salah satu ikon pertunjukan budaya di Kota Yogyakarta.
Lima dekade berkarya, Sendratari Ramayana Purawisata tidak hanya sekadar tontonan wisata, tapi juga sebagai tuntunan, sebagai penjaga denyut pelestarian seni tradisi di Kota Yogyakarta.
Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan bisa saja mewarnai panggung Purawisata di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Ratusan penonton dari berbagai latar belakang agama dan usia bisa tampak memadati area tribun untuk menyaksikan pertunjukan klasik Sendratari Ramayana (Ramayana Ballet).
Ketika pertunjukan suatu hari digelar, misalnya, maka antusiasme masyarakat sudah bisa terlihat sejak sore hari. Penonton yang hadir sangat beragam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia. Mereka tampak larut dalam setiap adegan epik yang dibawakan secara apik oleh para penari.

Pengelola Sendratari Ramayana Purawisata, Dahanan, mengatakan, pertunjukan Ramayana Ballet tersebut sudah dimulai sejak tahun 1976.
Atmosfer klasik Jawa yang terasa sejak memasuki area pertunjukan membuat pengunjung seolah dibawa kembali ke masa epos Ramayana.
“Purawisata mengemas sendratari Ramayana dalam tari, drama, dan musik dalam satu panggung. Lakon Ramayana diperankan secara mengagumkan oleh kelompok tari Ramayana Ballet Purawisata. Satu kali performance bisa diikuti oleh puluhan seniman dan penari,” ujarnya saat ditemui mabur.co, Kamis (28/5/2026).
Dahanan, mengatakan, selalu mengapresiasi penampilan para seniman Ramayana Ballet Purawisata. Menurutnya, interaksi pemain dengan penonton membuat suasana pertunjukan terasa hidup dan hangat.
“Penonton tertawa, gembira, bahkan ikut larut dalam cerita. Ini luar biasa. Para seniman mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan,” ujarnya.
Menjaga Warisan Budaya
Dahanan menilai, pentas budaya rutin tersebut mampu menjaga warisan budaya Jawa sekaligus menarik wisatawan datang ke Yogyakarta.
”Saya berharap generasi muda ikut melestarikan budaya melalui pertunjukan Ramayana Ballet Purawisata,” ujarnya.
Dahanan juga menganggap seni pertunjukan bisa menjadi media edukasi tentang kejujuran, keberanian, kesetiaan, dan tanggung jawab.
“Pertunjukan ini mengajarkan nilai kehidupan dan ajaran moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dahanan menuturkan pula, kisah Ramayana sendiri biasanya menggunakan tokoh Rama, Shinta, dan Rahwana yang memiliki filosofi kemakmuran, kesejahteraan, dan ketenteraman.
‘’Orang itu harus memiliki jiwa dari nilai-nilai Ramayana,” katanya.
Dahanan menuturkan lagi, Yogyakarta sebagai kota pariwisata banyak didatangi oleh wisatawan asing, membutuhkan sebuah tontonan. Yaitu berupa cerita yang bisa dipahami orang asing.
Oleh karena itu, Sendratari Ramayana dihadirkan sebagai seni drama yang ditampilkan melalui gerakan atau pertunjukan tarian.
‘’Jangan hanya mengunjungi Yogyakarta, tapi tidak ada apa-apanya. Harus mempunyai kesan!’’ ucapnya.
Salah satu warga yang pernah menonton pertunjukan Sendratari Ramayana, Ariani Yunianti, memaparkan, sangat bahagia dan mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut.
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting untuk menjaga nilai kearifan lokal sekaligus mempererat tali silaturahmi.
Ariani menjelaskan, pertunjukan Sendratari Ramayana bisa menjadi salah satu aset pariwisata unggulan Kota Yogyakarta. Pementasan tersebut penuh filosofi. Ada pesan tentang kebaikan melawan kejahatan, keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan.
“Saya berharap pertunjukan budaya ini bisa terus berkembang dan memberi dampak positif bagi pelaku seni dan masyarakat luas,” ucapnya. ***

