Mabur.co- Masjid Pathok Negoro Mlangi di Gamping, Sleman, Yogyakarta, juga menyuguhkan menu khas yang berbeda dari kebanyakan tempat pada acara tertentu.
Bukan olahan daging kambing atau sapi, melainkan kupat jangan atau ketupat yang disajikan dengan sayur tempe dan kini dilengkapi dengan sambal goreng krecek.

Menurut Wakil Ketua 1 Takmir Masjid Jami Pathok Negoro Mlangi, Muhammad Mustafid, tradisi kupatan/ketupat Jawa, kemungkinan sudah berakar sejak masa Islamisasi Jawa abad ke-15 sampai ke-16. Bahkan bahan dan bentuk ketupat mungkin lebih tua dari itu.
“Tradisi ini hidup sebagai adat kampung, masjid, atau pesantren di beberapa wilayah Jawa, terutama sebagai bentuk slametan, sedekah makanan, silaturahmi, dan syukur pada Bodo Besar atau Iduladha,” ujarnya, saat ditemui mabur.co, Kamis (28/5/2026).
Menurut Muhammad Mustafid pula, dalam konteks Jawa, Iduladha sering disebut Bodo Besar tersebut. Karena itu, kupat jangan di acara Iduladha bisa dibaca sebagai kuliner komunal hari raya.
Tidak selalu berkaitan langsung dengan daging kurban. Justru di beberapa tempat, kupat jangan menjadi makanan bersama yang lebih sederhana, merakyat, dan mudah dibagikan. Tradisi tersebut mempertemukan tiga unsur sekaligus yakni hari raya Islam, slametan Jawa, dan etika sosial berupa ater-ater atau berbagi makanan kepada tetangga.
Sejarah Ketupat
Ketupat sudah lama hadir dalam kebudayaan agraris Nusantara. Dalam beberapa penjelasan budaya, ketupat dikaitkan dengan masyarakat agraris, simbol syukur atas hasil bumi, dan penghormatan pada kesuburan.
Setelah Islam berkembang di Jawa, tradisi itu mengalami perubahan makna. Unsur lama tidak dibuang total, tetapi diberi tafsir baru sebagai syukur kepada Allah, silaturahmi, sedekah makanan, dan permohonan maaf.
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan DIY) misalnya, bahkan menyebut Lebaran Ketupat sebagai tradisi yang terkait dengan budaya agraris lama, lalu mengalami desakralisasi dan demitologisasi dalam konteks Islam.
Menurut Muhammad Mustafid, dalam tradisi Jawa-Islam, ketupat sering dikaitkan dengan Sunan Kalijaga dan masa Demak abad ke-15 sampai ke-16. Banyak sumber tradisi menyebut ketupat dipakai sebagai media dakwah karena dekat dengan kebiasaan masyarakat Jawa.
Maknanya kemudian dibaca sebagai kupat atau ngaku lepat, mengakui kesalahan. Ada juga tafsir laku papat, yang biasanya dikaitkan dengan empat tindakan setelah Ramadan dan Lebaran. Seperti lebaran, luberan, leburan, dan laburan.
Tradisi kupatan juga dikenal sebagai kenduri komunal. Dalam banyak kampung Jawa, kupatan bukan cuma makan ketupat. Ia adalah mekanisme sosial. Orang membawa berkat, berkumpul di masjid atau langgar, membaca doa, tahlil, lalu makanan dibagi.
Biasanya isinya ketupat dan jangan krecek. Dari sini muncul istilah seperti kupat jangan, karena dalam bahasa Jawa jangan berarti sayur. Jadi kupat jangan berarti ketupat dengan sayur. Salah satu catatan tentang Riyadin Kupat menggambarkan orang datang ke masjid membawa berkat berisi ketupat dan lepet dengan jangan krecek.
Pergeseran dari Idulfitri ke Iduladha. Yang paling populer memang Lebaran Ketupat setelah Idulfitri, biasanya sekitar tanggal 8 Syawal. Tetapi di beberapa daerah, tradisi kupatan juga hidup pada Iduladha atau Bodo Besar.
Ini masuk akal dalam logika Jawa. Iduladha juga hari raya besar, ada salat Id, ada kumpul jemaah, ada ziarah, ada sedekah, ada makan bersama. Karena itu, pola kupatan bisa ikut hadir di Bodo Besar. Dalam konteks Yogyakarta, khususnya Mlangi, kupat jangan tampak sebagai tradisi lokal Iduladha yang cukup khas.
Masyarakat Jawa sendiri sudah mengenal makanan berbasis beras, janur, dan tradisi sedekah makanan dalam lingkungan agraris, ketika Islam berkembang, terutama melalui dakwah kultural para wali.
Ketupat diberi makna baru. Kupat menjadi simbol pengakuan salah, kesucian hati, syukur, dan kebersamaan. Dalam masyarakat kampung dan pesantren, ketupat masuk ke ruang masjid, langgar, kenduri, tahlil, ziarah, dan silaturahmi. Ketupat tidak berdiri sendiri, tetapi hadir bersama sayur. Dari praktik itulah istilah kupat jangan menjadi masuk akal.
Suguhan Kuliner Tradisi Ketupat
Suguhan kuliner tradisi ketupat berupa kupat jangan biasanya isinya sederhana. Kupat sebagai bahan utama, lalu disajikan dengan jangan atau sayur. Dalam bahasa Jawa, jangan berarti sayur, jadi bukan “jangan” sebagai larangan. Sayurnya bisa yang umum adalah sayur tempe, sayur lodeh, atau sayur santan dengan bumbu gurih-pedas ringan.
Di beberapa tempat, kupat jangan juga dilengkapi tahu, tempe, kacang panjang, labu siam, nangka muda, atau sambal goreng. Kalau dalam suasana Iduladha, kadang ada tambahan lauk dari daging kurban, tetapi itu bukan unsur wajib. Intinya tetap kupat dan sayur. Daging hanya “bonus hari raya”, bukan pusat tradisi.
Ketupat secara umum melambangkan kebersamaan, syukur, sayur menjadi lambang rezeki yang dibagi dan dinikmati bersama. Jadi kupat jangan bukan cuma makanan, tapi semacam bahasa sosial orang Jawa.
Setelah salat Id, ziarah, atau kumpul warga, semua duduk dan makan. Sederhana, tapi guyubnya dapat. Makna di balik kupat jangan adalah syukur dan kebersamaan. Kupat melambangkan rezeki yang dibungkus rapi, kesederhanaan, dan pengakuan diri di hadapan Allah.
Dalam tafsir Jawa-Islam, kupat sering dimaknai sebagai ngaku lepat, yakni kesadaran bahwa manusia punya salah dan perlu kembali pada kebaikan.
Jangan atau sayur melambangkan rezeki yang cair, mengalir, dan bisa dinikmati bersama. Dalam suasana Iduladha, kupat jangan menjadi simbol bahwa hari raya bukan cuma soal ibadah personal, tapi juga berbagi, guyub, ziarah, silaturahmi, dan menyambung rasa antarwarga.
Diharapkan generasi muda tidak memandang kupat jangan sebagai tradisi kuno yang tinggal dimakan lalu dilupakan. Di dalamnya ada nilai syukur, gotong royong, ziarah, silaturahmi, dan cara orang Jawa merayakan Islam dengan hangat. Tradisi ini perlu dikenali, diceritakan ulang, dan dirawat agar tidak putus dari akar kampung, masjid, pesantren, dan keluarga.
Generasi muda tentu juga bisa melestarikan dengan cara yang lebih segar yakni ikut menyiapkan acara, mendokumentasikan sejarah, membuat konten edukatif, menulis cerita para sesepuh, dan mengajak teman-teman lainnya hadir tanpa menghilangkan roh kebersamaan.
Jadi bukan cuma viral, tapi juga bernilai. Jangan sampai kupatnya masih ada, tapi maknanya sudah minggat. ***

