Mabur.co- Desa Basen dikenal luas sebagai kampung wisata kerajinan perak yang menjadi identitas sekaligus sumber penghidupan sebagian besar warganya.
Aktivitas mengolah perak telah diwariskan dari generasi ke generasi dan hingga kini tetap bertahan sebagai ciri khas Desa Basen.
Selain itu, suasana kampung juga diperkaya oleh keberagaman agama dan mata pencaharian masyarakat, mulai dari wiraswasta, buruh harian lepas, karyawan swasta, hingga pelajar, dan mahasiswa yang menjadi harapan masa depan kampung.
Desa Basen menjadi bagian dari Kotagede. Sebagai ibu kota kerajaan, Kotagede berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian yang mendukung rakyat di Kerajaan Mataram Islam.
Potensi Kerajinan Perak
Selain dikenal sebagai pusat perkembangan Mataram Islam, Kotagede juga memiliki potensi kerajinan berupa perak. Perak digunakan sebagai bahan membuat perhiasan untuk menggantikan emas yang harganya lebih mahal.
Meskipun harganya terjangkau, perak merupakan salah satu barang investasi yang bernilai tinggi dan diminati banyak orang karena keistimewaan warna dan kekhasan desainnya.
Perak Kotagede mulai muncul saat wilayah ini mulai dibangun pada abad XVI Masehi sebagai pusat kerajaan yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga serta perdagangan, juga salah satu simbol kemewahan.
Perajin perak di kampung Basen Kotagede, Priyo Salim, mengatakan, ukiran perak Kotagede terinspirasi dari ukiran bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa seperti di Candi Mantingan, Candi Prambanan, dan lain-lain.
Hal tersebut yang kemudian menjadikan perak Kotagede unik dan khas dengan gaya seni ukir perak berbeda dengan wilayah lain.
“Kecintaan saya terhadap perak tak lepas dari peran ayah yang merupakan salah satu pengusaha perak di Kotagede,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Priyo menggeluti kerajinan perak dan meneruskan usaha yang telah dirintis ayahnya.
“Perak Kotagede merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang wajib dilestarikan,” ujarnya. ***

