Digempur Produk Modern, Perajin Besek Kulon Progo Tetap Bertahan

3 Min Read
Woman sits on a bench weaving colorful palm leaf baskets outside a brick-walled workshop.
Sejumlah alat rumah tangga yang dibuat menggunakan anyaman bambu atau besek. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co –  Sejumlah perajin besek anyaman bambu di Kulon Progo, masih mampu bertahan di tengah maraknya gempuran produk rumah tangga modern berbahan plastik dan barang pabrikan saat ini. 

Mereka bahkan terus berinovasi demi bisa bersaing dan mengikuti kebutuhan pasar, dengan membuat berbagai macam produk rumah tangga turunan dari bahan anyaman bambu atau besek.

Hal itu salah satunya terlihat dari usaha yang dijalankan Sugiharti, perajin anyaman bambu asal Dusun Penggung, Kalurahan Hargorejo, Kokap, Kulon Progo. 

Berbekal keterampilan menganyam yang telah ditekuni selama bertahun-tahun, ia kini memproduksi berbagai macam kebutuhan rumah tangga berbahan bambu yang diminati masyarakat.

Jika dahulu besek hanya sebatas digunakan sebagai wadah makanan tradisional, kini bentuk dan fungsinya pun semakin beragam. 

Berbagai Produk Rumah Tangga

Sugiharti  bahkan mampu membuat berbagai macam produk rumah tangga seperti hampers, besek transparan, tudung saji, alas makanan hingga kap lampu dekoratif yang banyak dicari konsumen.

“Sekarang tidak hanya besek yang dicari pembeli. Banyak yang pesan hampers, tudung saji, sampai kap lampu karena dianggap lebih ramah lingkungan dan tampilannya unik,” katanya, Kamis (25/6/2026).

Sugiharti sendiri rutin membuat besek dari bahan utama berupa bambu apus karena dinilai memiliki kualitas yang baik. Dibantu sejumlah warga sekitar, dalam sebulan ia mengaku mampu membuat 1000 lebih produk besek untuk dijual.

Smiling woman in a brown hijab and striped shirt holds a woven basket and a green hose outdoors beside a brick wall and wooden frame.
Sugiharti menunjukkan produk cup lampu dari bahan besek atau anyaman bambu. (Foto: JH Kusmargana)

Harganya bervariasi, mulai dari Rp3000 hingga belasan bahkan puluhan ribu rupiah tergantung jenis ukuran dan bentuknya. Semakin rumit produk besek yang dibuat maka akan semakin mahal harganya.

“Kalau untuk besek biasa itu sehari bisa dapat puluhan. Tapi kalau untuk produk-produk seperti cup lampu atau tudung saji sehari paling 2-3 biji,” katanya.

Menurut Sugiharti, meningkatnya minat masyarakat terhadap produk ramah lingkungan menjadi salah satu pendongkrak penjualan produk besek buatannya. Selain biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, banyak produknya kini juga kerap dipakai sebagai kemasan hantaran, suvenir hingga dekorasi rumah.

Keterbatasan Tenaga Produksi

Meski begitu, salah satu kendala yang harus dihadapi perajin besek seperti Sugiharti adalah keterbatasan tenaga produksi. Pasalnya pembuatan produk besek ini masih sepenuhnya dilakukan secara manual. Sehingga sangat membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran. 

“Karena proses pembuatannya sepenuhnya masih dilakukan menggunakan tangan, maka proses pembuatannya cukup lama,” ujarnya.

Selain itu, kendala lainnya yang juga dihadapi para perajin adalah terbatasnya jumlah tenaga kerja yang memiliki kemampuan menganyam. Kondisi ini terjadi karena mayoritas perajin besek didominasi para orang tua yang hanya bekerja secara sambilan.

“Kebanyakan perajin di sini sudah pada tua. Biasanya mereka membuat besek sekadar untuk mengisi waktu. Kalau anak-anak muda biasanya enggan membuat besek karena lebih memilih pekerjaan lainnya,” katanya.

Sugiharti pun berharap agar semakin banyak anak-anak muda di desanya mau belajar menganyam bambu sehingga kerajinan besek tidak punah begitu saja.

Terlebih peminat kerajinan anyaman bambu ini juga semakin meningkat seiring banyaknya masyarakat yang ingin memanfaatkan produk ramah lingkungan berbahan alam.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment