Mabur.co – Permainan sepakbola menjadi budaya tersendiri di level internasional. Pelaksanaan turnamen sepakbola terakbar Piala Dunia 2026 akan berlangsung mulai 11 Juni 2026 waktu setempat, atau 12 Juni dinihari waktu Indonesia, di mana pertandingan pertama akan mempertemukan salah satu tuan rumah, Meksiko, yang akan menjamu Afrika Selatan di Stadion Azteca, Mexico City.
Dalam setiap pelaksanaan turnamen akbar semacam ini, pertemuan antar-negara akan menjadi sangat krusial. Karena selain berebut kemenangan, pertemuan antar-negara juga bisa menjadi ajang kebanggaan suatu bangsa, sekaligus membawa nama baik mereka di dunia internasional.
Sebagai ajang yang mempertemukan negara-negara terbaik yang telah berjuang melalui babak kualifikasi, tentu saja momentum pertandingan sebesar ini tidak ingin dilewatkan begitu saja, khususnya bagi masyarakat di negara peserta yang bersangkutan.
Maka dari itu, untuk memeriahkan suasana saat negaranya bertanding, sekaligus sebagai bentuk dukungan, beberapa pihak, perusahaan, bahkan termasuk kantor tertentu, biasanya akan menyelenggarakan nonton bareng (nobar) di beberapa titik keramaian tertentu, seperti di kafe, lapangan terbuka, mall, halaman parkir, dan seterusnya.
Dengan tingginya animo masyarakat demi menyaksikan negaranya bertanding, seluruh masyarakat rela mengalihkan fokusnya selama 90 menit untuk menyaksikan layar kaca, dan mendukung negaranya bertanding di ajang Piala Dunia.
Sehingga bisa dibilang, kegiatan nobar adalah semacam “new normal” (budaya baru) yang rutin dilakukan oleh masyarakat selama satu bulan lebih pelaksanaan Piala Dunia tahun ini, yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan juga Kanada.
Sayangnya Tidak Ada Indonesia

Sebagai salah satu negara pecinta sepakbola terbesar di seluruh dunia, Indonesia sejatinya juga kerap menyelenggarakan acara nobar di berbagai tempat, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, usia, dan latar belakang, rela berkumpul di titik-titik nobar tertentu, untuk menyaksikan kemeriahan pertandingan demi pertandingan yang berlangsung setiap harinya.
Sayangnya memang, euforia itu sepertinya tidak akan semeriah biasanya. Khususnya akibat ketiadaan timnas Indonesia di ajang empat tahunan tersebut.
Indonesia harus mengubur impiannya menjadi salah satu peserta di Piala Dunia 2026, setelah kandas dari Arab Saudi dan juga Iraq di Kualifikasi round 4 zona Asia pada Oktober 2025 lalu.
Padahal, Indonesia sudah tinggal selangkah lagi kembali ke Piala Dunia, setelah terakhir kali terjadi pada 1938 (88 tahun lalu), ketika masih bernama Hindia Belanda.
Bisa dibayangkan bagaimana euforia yang akan tercipta, jika Indonesia bisa menjadi salah satu dari 48 negara yang berpartisipasi di Piala Dunia tahun ini, maka hampir dipastikan pertandingan-pertandingan yang dijalani Indonesia akan menjadi trending nomor satu di seluruh jagad media sosial, dengan jumlah penonton yang selalu menembus jutaan pasang mata.
Akibatnya, “new normal” berupa nobar tadi hanya akan meriah di kalangan negara peserta saja, tapi kurang meriah untuk negara-negara lainnya yang tidak berpartisipasi, termasuk di Indonesia.
Karena tidak bisa dipungkiri, setiap orang pasti ingin melihat negaranya sendiri bertanding di ajang sebesar Piala Dunia, dan membawa nama baik bangsa di dunia internasional.
Sebuah impian besar yang masih harus tertunda, setidaknya hingga empat tahun lagi. (*)

