113 Burung Liar Hidup di Kawasan Hutan Rakyat Perbukitan Menoreh 

4 Min Read
Two photographers with cameras on tripods crouch on a jungle path among dense green foliage.
Sejumlah wisatawan tengah mengamati burung liar di hutan rakyat TKH Wanapaksi, Jatimulyo, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Tak hanya memiliki keindahan panorama yang menawan, kawasan perbukitan Menoreh di Kabupaten Kulon Progo juga menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. 

Hal itu salah satunya bisa ditemui di kawasan hutan rakyat Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.

Dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi, jika berkunjung ke hutan ini kita akan menemui beragam satwa burung hidup liar di kawasan hutan yang masih sangat asri dan alami.

Tak heran kawasan ini dianggap sebagai salah satu surga tersembunyi bagi para pecinta wisata alam khususnya pengamat burung di Yogyakarta.

Tak sedikit pecinta burung, fotografer satwa, hingga peneliti datang ke tempat ini untuk melakukan pengamatan sembari menikmati suasana alam hutan hujan tropis ini. 

113 Jenis Burung Liar Hidup

Pihak pengelola mencatat sedikitnya 113 jenis burung liar hidup dan berkembang secara alami di tempat ini. Baik itu jenis burung endemik maupun burung migran. 

Di antaranya seperti burung sikatan cacing, madu Jawa, madu kelapa, hingga berbagai jenis burung lainnya yang menjadi bagian penting dari ekosistem Perbukitan Menoreh.

Wakil Ketua KTH Wanapaksi sekaligus Ketua Desa Wisata Jatimulyo, Suhandri, mengatakan keberadaan ratusan spesies burung tersebut tidak terlepas dari komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan secara bersama-sama. 

“Sekarang tercatat ada lebih dari 113 jenis burung yang hidup di kawasan ini. Mayoritas merupakan burung endemik lokal,” ujarnya.

Konservasi Dilakukan Konsisten

Menurut Suhandri, upaya konservasi dilakukan secara konsisten oleh anggota KTH Wanapaksi bersama masyarakat sekitar.

Mereka menerapkan larangan penebangan pohon secara sembarangan, menolak aktivitas perburuan liar, serta mengajak seluruh warga untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.

Bahkan, mantan pemburu burung yang dahulu menggantungkan hidup dari hasil perburuan kini dilibatkan dalam berbagai kegiatan konservasi dan pelestarian alam.

“Konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Kami mengajak masyarakat, termasuk mantan pemburu, agar bersama-sama menjaga hutan dan satwa yang ada di dalamnya,” katanya.

Keberhasilan menjaga ekosistem tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi flora dan fauna, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. 

Aktivitas wisata minat khusus seperti pengamatan burung atau bird watching semakin berkembang dan menarik kunjungan wisatawan maupun peneliti dari berbagai daerah.

Selain itu, kawasan hutan rakyat Jatimulyo juga menjadi bagian penting dalam menjaga sumber mata air dan keseimbangan lingkungan di wilayah Perbukitan Menoreh.

Atas keberhasilannya mengelola kawasan hutan berbasis masyarakat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati, KTH Wanapaksi pada 2024 berhasil meraih penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kerja panjang masyarakat Jatimulyo dalam merawat alam di sekitar desa mereka secara berkelanjutan. 

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan berkurangnya habitat satwa liar di berbagai daerah, hutan rakyat yang dikelola KTH Wanapaksi menjadi bukti bahwa upaya konservasi tetap bisa dilakukan dan justru mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kini, kawasan hutan di Jatimulyo tak hanya menjadi rumah bagi ratusan spesies burung liar, tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi ratusan warga desa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment