Mabur.co – Warga Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, punya cara unik untuk menjaga kelestarian satwa liar di kawasan Perbukitan Menoreh.
Tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanapaksi, mereka mengembangkan program untuk mengajak masyarakat mengadopsi burung liar di hutan.
Lewat program ini siapa pun dapat ikut berkontribusi melestarikan burung-burung langka di Perbukitan Menoreh tanpa harus menangkap atau memeliharanya.
Siapa pun itu baik pecinta alam, pecinta burung, komunitas, lembaga, maupun masyarakat umum dapat memberikan donasi kepada warga untuk memastikan burung liar yang baru lahir bisa hidup hingga dewasa.
Dana donasi yang terkumpul dari masyarakat tersebut kemudian akan digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Konsep Adopsi Berbeda dengan Memelihara Burung
Wakil Ketua KTH Wanapaksi, Suhandri, mengatakan, konsep adopsi yang diterapkan berbeda dengan memelihara burung pada umumnya. Pasalnya burung yang diadopsi akan tetap hidup bebas di habitat aslinya.
“Melalui program ini masyarakat bisa memiliki rasa kepedulian terhadap burung tanpa harus menangkapnya. Kami yang akan memantau dan menjaga keberadaannya di alam,” ujar pria yang akrab disapa Andri itu.
Jika ada masyarakat yang ingin mengadopsi jenis burung tertentu, tim konservasi akan mencari sarang aktif burung tersebut. Lokasi sarang kemudian diberi tanda dan terus dipantau hingga anak-anak burung tumbuh dan mampu terbang.
“Kami memantau perkembangan burung yang diadopsi sampai anak-anaknya bisa terbang. Jadi, yang dijaga bukan hanya induknya, tetapi juga keberlangsungan populasinya,” katanya.
Selain program adopsi, KTH Wanapaksi juga mengembangkan wisata pengamatan burung atau bird watching. Melalui kegiatan tersebut, wisatawan diajak menjelajahi kawasan hutan dengan didampingi pemandu lokal yang telah mengenal karakter berbagai jenis burung.
Paket wisata pengamatan burung ini dibanderol mulai Rp30 ribu hingga Rp80 ribu per orang untuk wisatawan domestik. Sementara wisatawan mancanegara dikenakan tarif lebih tinggi karena membutuhkan pendamping sekaligus penerjamah khusus.
Menurut Andri, wisata pengamatan burung di Jatimulyo cukup diminati wisatawan asing, terutama dari negara-negara Eropa yang memiliki ketertarikan terhadap keanekaragaman hayati.
“Pengunjung dari luar negeri cukup banyak. Mereka datang khusus untuk melihat burung-burung yang hidup bebas di alam,” ungkapnya.
Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut. Mengingat kawasan hutan yang menjadi habitat burung sebagian besar merupakan lahan milik warga, pelestarian tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan masyarakat sekitar.
Bahkan, sejumlah mantan pemburu kini ikut terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi.
Upaya yang dilakukan masyarakat Jatimulyo selama ini terbukti mampu menjaga kelestarian ekosistem di kawasan Perbukitan Menoreh.
Sedikitnya terdapat 113 jenis burung liar yang tercatat hidup di kawasan hutan rakyat yang dikelola KTH Wanapaksi.
Berbagai spesies seperti sikatan cacing, madu Jawa, madu kelapa, hingga burung-burung migran dapat dijumpai di kawasan tersebut.
Untuk menjaga habitatnya, masyarakat juga menerapkan larangan perburuan liar dan penebangan pohon secara sembarangan. Saat ini kawasan hutan yang sejuk dan asri tersebut telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata minat khusus bagi para pengamat burung dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Keberhasilan masyarakat menjaga kekayaan hayati itu pun mendapat pengakuan nasional. Pada 2024, KTH Wanapaksi menerima penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. ***

