Mabur.co – Yogyakarta selama ini memang dikenal sebagai Kota Gudeg. Namun jika bicara soal oleh-oleh khas Yogya, justru bakpia adalah ikonnya.
Ya, berkunjung ke Yogya belum lengkap rasanya tanpa membawa pulang bakpia. Kue berbentuk bulat pipih dengan isian manis ini memang telah lama menjadi ikon oleh-oleh khas Kota Gudeg.
Selain simpel dan mudah dibawa, bakpia yang dibuat dari adonan tepung terigu dengan berbagai varian isian rasa ini memang memiliki cita rasa yang bisa diterima siapa saja.
Tak hanya itu, di balik keunikan dan kekhasan cita rasanya, bakpia ternyata juga menyimpan sejarah yang mempresentasikan nilai dan semangat Kota Yogyakarta.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Minggu (28/6/2026), keberadaan bakpia sebagai kuliner khas, tak lepas dari sejarah panjang akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Dibawa Perantau Tionghoa
Secara historis, bakpia berasal dari resep yang dibawa oleh perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok pada era 1940-an.
Saat itu, ia membuka usaha di Kampung Suryowijayan, Mantrijeron, Yogyakarta. Berbeda dengan sekarang, bakpia pertama kali dibuat menggunakan minyak babi sebagai salah satu bahan utamanya.
Agar dapat diterima oleh masyarakat yang lebih luas, resep tersebut kemudian mengalami penyesuaian dengan menghilangkan penggunaan minyak babi.
Perubahan itu menjadi titik penting yang menjadikan bakpia sebagai kuliner yang dapat dinikmati semua kalangan sekaligus mencerminkan proses akulturasi budaya di Yogyakarta.
Setelah Kwik Sun Kwok pindah, usaha bakpia diteruskan oleh Niti Gurnito dan berkembang dengan nama Bakpia Tamansari atau lebih dikenal sebagai Bakpia Niti Gurnito.
Tak lama kemudian, muncul pelaku usaha lain, seperti Liem Bok Sing, yang pada 1948 mulai memproduksi bakpia setelah mempelajari cara pembuatannya.
Ketika keluarganya pindah ke kawasan Pathuk pada 1955, usaha tersebut berkembang pesat hingga melahirkan Bakpia Pathuk 75.
Sejak saat itu, kawasan Pathuk tumbuh menjadi sentra industri bakpia yang kini identik sebagai pusat oleh-oleh khas Yogyakarta.
Di era modern saat ini, produksi bakpia tak hanya ada di pusat Kota Yogyakarta. Tingginya permintaan bakpia sebagai oleh-oleh, membuat sejumlah pelaku usaha bakpia juga tumbuh dan bermunculan di berbagai pelosok desa termasuk Kulon Progo.
Tak hanya mempertahankan rasa orisinalnya, kini bakpia juga terus bertransformasi mengikuti perkembangan dan selera masyarakat sebagai konsumen.
Varian Rasa
Hal itu terlihat dari munculnya berbagai varian jenis maupun rasa dari bakpia. Salah satunya seperti diungkapkan seorang produsen bakpia asal Kulon Progo, Rahmat Sugianto, asal Pengasih, Kulon Progo.
Untuk menarik minat konsumen, ia mengaku membuat 2 jenis varian bakpia. Yakni bakpia basah dan bakpia kering yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
“Kita sedia bakpia kering dan basah. Kalau bakpia kering itu kulitnya lebih renyah. Sementara bakpia basah tekstur kulitnya lebih lembut,” ungkapnya.
Ya bakpia kering memang dibuat dengan proses pengovenan lebih lama, sehingga memiliki kadar air rendah.
Hal ini pun membuat kulitnya lebih renyah, isian yang padat, dan memiliki daya tahan atau keawetan yang lebih lama.
Sementara itu, bakpia basah dibuat dengan tekstur kulit maupun isian yang lebih lembut. Meski cita rasanya lebih segar, namun masa simpan bakpia basah relatif singkat dibanding bakpia kering.
Selain jenisnya, saat ini bakpia juga telah dimodifikasi dengan berbagai macam varian isian yang membuatnya lebih kaya cita rasa. Jika dulu isian hanya sebatas pada kacang hijau, kini isian bakpia bisa berupa cokelat, keju, durian, stroberi, dan sebagainya.
Dengan berbagai inovasi itulah, bakpia meski merupakan kuliner tradisional yang sudah ada sejak lama, namun hingga kini tetap bisa bertahan sebagai oleh-oleh khas Yogya yang digemari berbagai kalangan termasuk generasi muda.

