Mabur.co – Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota sepeda. Hal itu karena sepeda memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah perkembangan masyarakat di Yogyakarta.
Menurut sejumlah sumber literasi, Yogyakarta mulai disebut sebagai kota sepeda sejak era tahun 1950 hingga 1970-an. Saat itu sebagian besar masyarakat di Yogyakarta memanfaatkan alat transportasi berupa sepeda untuk menunjang setiap aktivitas.
Awalnya sepeda jenis onthel yang paling banyak digunakan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.
Sepeda onthel atau juga disebut sepeda onta ini merupakan sepeda warisan zaman pemerintahan kolonial yang memang dibuat untuk kalangan masyarakat Eropa.
Pasca-kemerdekaan, sepeda onthel banyak digunakan masyarakat Indonesia termasuk Yogyakarta. Bahkan saat itu sepeda ini dianggap sebagai simbol status sosial mengingat harganya yang cukup mahal karena dibuat oleh sejumlah pabrikan Eropa.

Pada tahun 1970-an kepopuleran sepeda onthel mulai tergeser oleh sepeda jengki. Tak seperti sepeda onthel yang memiliki ukuran cukup besar, sepeda jengki memiliki ukuran yang lebih kecil sehingga lebih cocok bagi masyarakat Indonesia.
Kala itu sepeda jengki banyak diproduksi oleh pabrikan Asia dengan salah satu merek paling populer adalah Phoenix dari Cina.
Bentuk dan ukurannya yang lebih kompak membuat sepeda ini banyak digunakan baik oleh kaum pria maupun wanita.
Kepopuleran sepeda sebagai alat transportasi favorit bagi masyarakat Yogyakarta tak lepas karena efektivitasnya dari sisi fungsi. Disamping bisa menjangkau berbagi lokasi dengan mudah, harganya yang relatif terjangkau juga membuat sepeda digemari semua lapisan masyarakat baik di kota maupun desa.
Faktor Geografis Mendukung
Penggunaan sepeda secara masif oleh masyarakat Yogyakarta juga tak lepas karena faktor geografis atau topografi kota Yogyakarta itu sendiri. Selain tidak terlalu luas, sebagian besar wilayahnya juga merupakan dataran rendah dengan tipe jalanan yang relatif rata.

Di era tahun 1970 hingga 1990-an masih banyak masyarakat Yogyakarta memanfaatkan sepeda untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Mulai dari sekadar bepergian dari satu lokasi ke lokasi lain, hingga untuk keperluan vital seperti berangkat bekerja.
Kala itu hampir setiap pagi dan sore hari, sejumlah jalan utama menuju pusat kota Yogyakarta selalu ramai dipenuhi orang bersepeda untuk berangkat atau pulang bekerja.
Mereka umumnya adalah para pedagang pasar, buruh ataupun kuli bangunan asal Bantul yang hendak bepergian ke kota Yogyakarta dengan melalui sejumlah rute seperti jalan Bantul, jalan Parangtritis hingga jalan Imogiri.
Populernya penggunaan sepeda di kalangan masyarakat Yogyakarta ini juga bisa dilihat dari banyaknya pasar-pasar tradisional khusus sepeda yang ada di kota Yogyakarta.
Sebut saja seperti pasar sepeda Pakualaman, pasar sepeda Terban, pasar sepeda Pugeran, hingga pasar sepeda Tunjung Pakel. Meski saat ini sejumlah pasar itu telah tutup, namun beberapa di antaranya masih beroperasi hingga kini dan menjadi saksi kejayaan sepeda di masa lalu.

Meski akhirnya penggunaan sepeda sebagai alat transportasi utama mulai tergantikan dengan sepeda motor, namun keberadaan sepeda tak pernah benar-benar hilang di hati masyarakat Yogyakarta.
Aneka Sepeda Hiasi Jalanan Yogya
Hingga kini sepeda masih tetap digunakan masyarakat Yogyakarta baik untuk sekadar sebagai alat olah raga, rekreasi atau pun sebagai barang koleksi. Terbukti dari banyaknya komunitas sepeda yang ada di Kota Yogyakarta saat ini.
Mulai dari komunitas sepeda tua, sepeda gunung atau MTB, sepeda balap, sepeda fixie, sepeda lipat bahkan sepeda tinggi, semua ada di Kota Yogyakarta. Dengan jumlah anggota mencapai ribuan orang, berbagai komunitas ini juga aktif dan rutin menggelar berbagai kegiatan bersepeda.
Lagi-lagi hal itu juga didukung dengan kondisi geografis wilayah DIY yang memiliki rute sangat beragam. Sehingga memungkinkan berbagai jenis komunitas penghobi sepeda terwadahi. Baik itu jalur road bike, mountain down hill, urban down hill, uphill, touring, hingga city tour dan urban bike tour.
Tak hanya menjadi ajang penyalur hobi dalam berolahraga, keberadaan berbagai komunitas sepeda ini juga terbukti turut berkontribusi besar dalam mendorong perekonomian masyarakat. Di antaranya dengan mengenalkan dan mempopulerkan berbagai lokasi wisata di Yogya.
Berbagai Kebijakan Pemerintah
Dalam beberapa periode masa kepemimpinan, pemerintah Kota Yogyakarta sendiri juga selalu aktif turut mendukung budaya dan kegiatan bersepeda di masyarakat. Yakni dengan mengeluarkan kebijakan atau program terkait sepeda.
Seperti misalnya pembuatan jalur khusus sepeda, program Sego Segawe (sepeda untuk sekolah dan bekerja), program Jogja Heritage Cycling atau berkeliling kota dan situs bersejarah dengan bersepeda, hingga program Yogowes Monalisa atau jelajah kampung dan susur sungai dengan bersepeda.
Melihat sejarah panjang tersebut, tak salah rasanya bila menyebut Yogyakarta sebagai kota sepeda. Seolah Yogyakarta memang dilahirkan sebagai kota sepeda.
Tidak hanya karena begitu istimewanya sepeda bagi masyarakat Yogyakarta, namun juga karena sepeda memiliki peran penting dalam perkembangan kota Yogyakarta itu sendiri. (Berbagai sumber)

