Peristiwa super spektakuler Isra Mikraj dalam blantika karya seni menyisakan pencapaian estetika yang pantas untuk diapresiasi. Sastrawan dan perupa Danarto, misalnya, adalah salah satu homo sapiens kreatif yang mampu menerjemahkan tafsir visual buraq.
Dalam imajinasi Danarto, buraq ternyata memang makhluk hidup. Bentuknya kuda dengan kepala manusia cantik, berambut panjang, berombak. Boleh jadi maksudnya adalah seperti patung Spinx di Mesir, berupa patung singa berkepala manusia.
Saya bersyukur di hari Jumat yang mulia ini, saat menuliskan kolom ini, masih diberi kesempatan menuliskan pendekatan tafsir visual buraq dalam Isra Mikraj melalui bentang karya seni.
Karena tema ini adalah tema unik yang berhasil menyatukan ragam kebudayaan di berbagai belahan dunia. Tema yang juga membentuk peradaban estetika, para seniman bisa menafsirkan dengan bebas seperti apa pendekatan visual terbaiknya.
Benar memang, seperti kata budayawan Wahjudi Djaja, peradaban adalah di atas kebudayaan. Oleh sebab itu benar juga bahwa karya seni, berupa keris atau apa pun bentuknya, dalam sudut pandang estetika adalah berupa cinderamata peradaban.
Tentu saja Danarto, sebagaimana seniman lain yang pernah mengulik tafsir visual buraq, ingin mempersembahkan cinderamata yang monumental sebagai bagian peninggalan peradaban.
Beruntung Danarto adalah seniman yang berkelas mentereng sehingga apa pun yang dilakukan mendapatkan sorotan publik.
Lukisan tentang buraq itu pun masih ikut dipamerkan dalam pameran arsip Sanggarbambu yang digelar di Jakarta awal Oktober 2025. Selain itu juga pernah menjadi sampul depan karya buku kumpulan cerpen Danarto.
Tentu saja, Anda, para homo sapiens yang jika membaca kolom saya ini masuk dalam klaster seniman, bisa saja tidak bersetuju dengan pencapaian pendekatan visual mengenai buraq seperti yang dibuat Danarto.
Boleh jadi Anda ingin membuat bentuk lain yang lebih eksperimental. Itulah ruang kreatif yang masih bisa dikembangkan oleh para homo sapiens lainnya.
Masih terbuka jalan dan ruang dialektika estetika untuk mengisi interaksi kehidupan ini. Bukankah isi dunia ini esensinya hanya bersenda-gurau dan orang Jawa pun mengingatkannya dengan kalimat urip mung mampir ngombe (hidup hanya mampir untuk minum)?
Dalam dunia yang fana dan penuh dengan kesementaraan ini pastilah tantangan kita adalah menciptakan monumen. Betapa hidup harus diisi dengan monumen pencapaian karya seni atau apa pun karya itu sesuai bidang disiplin ilmu yang para homo sapiens tekuni.
Danarto hanya contoh ikonik yang mewakili aspirasi estetik kita sebagai homo sapiens yang belum sempat menuangkan gagasan dengan tema yang sama. Pastilah telaah yang menyertai karya Danarto macam-macam. Ada yang pendekatannya spiritual ekspresionistik, dan lain sebagainya.
Penelusuran saya, para homo sapiens yang membuat tafsir visual buraq dalam karya seni adalah berbasis makhluk hidup. Bukan merupakan benda mati seperti kayu, batu, atau pesawat terbang.
Karena tuntunan agama memang memberikan gambaran tunggal bahwa buraq adalah binatang surga yang dikirim Tuhan untuk Nabi Muhammad. Buraq adalah binatang bersayap serupa kuda atau lebih besar dari keledai. Namun lebih kecil dari bagal.
Makhluk itu bergerak secepat kilat. Wussss… ***



