Benarkah Kawasan Mataram Islam di Kotagede Bercorak Kerajaan Patirtan atau Daerah Perairan?

3 Min Read
Stone temple gate with layered pagoda-style towers, brick walls, and a clear blue sky behind.
Gapura pintu masuk kompleks makam Pasarean Mataram di Kotagede, Yogyakarta. (Foto: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Mabur.co – Jika Majapahit dan Demak dikenal sebagai kerajaan maritim, maka Mataram Islam yang berpusat di Kotagede selama ini dikenal sebagai kerajaan bercorak agraris. 

Hal itu tak lepas karena Mataram Islam didirikan sekitar tahun 1586 oleh Panembahan Senopati di kawasan yang jauh dari wilayah pesisir, yaitu di wilayah pedalaman tepatnya di kawasan hutan Mentaok atau kini dikenal Kotagede. 

Namun, sejarawan Islam sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga, Yaser Arafat, menyebut, kawasan Mataram Islam dengan pusat pemerintahan di Kotagede memiliki karakter yang lebih kompleks.

Menurut Yaser, hal itu tak lantas membuat kerajaan yang mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Agung tersebut bisa begitu saja disebut kerajaan bercorak agraris. 

Sejumlah Sungai Hubungkan Antar-Wilayah

Menurutnya, kawasan selatan Yogyakarta pada masa itu tidak hanya mengandalkan lahan pertanian. Namun, keberadaan sejumlah sungai besar juga memungkinkan aktivitas transportasi air yang menghubungkan berbagai wilayah.

“Kalau di utara ada laut, di sini sungai. Jadi kami tidak sepakat kalau wilayah selatan ini disebut agraris saja,” ujar Yaser.

Ia menyebut setidaknya terdapat sejumlah sungai besar yang menjadi bagian penting dari lanskap kawasan Mataram Islam, di antaranya Sungai Opak, Sungai Kuning, Sungai Oya, Sungai Gajahwong, Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sugai Bedog.

Sungai-sungai tersebut, menurut Yaser, tidak hanya berfungsi sebagai sumber air. Karena pada masa lalu, aliran sungai juga berpotensi menjadi jalur transportasi menggunakan perahu.

Corak Kerajaan Patirtan

Atas dasar itulah ia menyebut kawasan Mataram Islam di sekitar Kotagede lebih tepat dipahami sebagai wilayah yang memiliki corak Kerajaan Patirtan atau “negeri perairan” atau kawasan yang memanfaatkan jaringan sungai.

“Kami menyebutnya bukan negara atau kerajaan agraris tapi negara Patirtan,” katanya kepada mabur.co, belum lama ini.

Pandangan ini pun menurut Yaser dapat membuka perspektif baru dalam memahami perkembangan Mataram Islam. Di mana kehidupan masyarakat pada masa itu kemungkinan juga ditopang oleh aktivitas transportasi dan mobilitas melalui jalur air.

Yaser bahkan mengatakan, pandangan tersebut juga didukung dengan adanya temuan terkait jejak-jejak transportasi air di kawasan tersebut. 

Meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut, jika hal itu terbukti maka dapat diperkirakan sungai-sungai yang kini tampak sebagai bagian dari lanskap Yogyakarta bisa jadi pernah memainkan peran penting dalam membentuk peradaban Mataram Islam di Kotagede.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar