Gua Selarong, Basis Perjuangan Pangeran Diponegoro yang Melegenda

7 Min Read
Nighttime entrance with decorative gate, lit by street lamps and a 'Selamat Datang' sign in front of a building courtyard.
Gua Selarong, bersumber dari Selarong, nama dari Pangeran Haryo Selarong. Anak dari Prabu Hanyakrawati atau cucu Panembahan Senopati. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co– Masyarakat di Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta, banyak yang mengenakan baju surjan pada Jumat (24/7/2026) malam. Mereka menggelar Sarasehan dan Doa Memperingati Dua Abad Perang Diponegoro, bertempat di area Gua Selarong.

Group of people sitting cross-legged on a paved surface at night, arranged in rows with a large sign behind them.
Masyarakat Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta mengenakan surjan, Jumat (24/7/2026) malam, menggelar Sarasehan dan Doa Memperingati Dua Abad Perang Diponegoro di Gua Selarong. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Pemerhati adat budaya Selarong, Muhammad Ikhwan, menuturkan,  Selarong adalah nama dari Pangeran Haryo Selarong. Ia dikenal sebagai anak dari Prabu Hanyakrawati atau cucu Panembahan Senopati.

“Tempat ini dulu Kembang Putihan, bukan Selarong (Gua Selarong). Kalau yang namanya Selarong asli itu yang sebelah timur sungai. Sekarang jadi Selarong Duko, Selarong Gandean, Selarong Gemahan, Selarong Gejawan atau Nderesan,” katanya yang juga merupakan keturunan Pangeran Haryo Selarong ke-11.

Man wearing a yellow traditional outfit with patterned sash, standing at night outdoors, smiling, with a stone wall, plants, and a motorcycle in the background.
Pemerhati adat budaya Selarong, Muhammad Ikhwan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ikhwan menuturkan, Pangeran Haryo Selarong dibunuh di Mbarengkuel, Delanggu, untuk pemakaman tidak diketahui.

“Karena Pangeran Haryo Selarong pernah tinggal di sini maka di sini (Gua Selarong), beliau disebut Panembahan Selarong. Panembahan Selarong kemudian punya anak bernama Raden Mas Abdullah yang menjadi Panembahan Selarong Dua. Panembahan Selarong Dua ini besanan dengan trah dari Manggir, kemudian menurunkan anak namanya Raden Mas Wongso Sarkoro yang bisa disebut Panembahan Selarong Tiga. Nama Sarkoro itu berarti dari trah Manggir. Wongso Sarkoro kemudian mempunyai anak yang dikenal sebagai Kentol Soboyo,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, menurut Ikhwan, Kentol Soboyo mempunyai anak bernama Rekentol Resoboyo. Resoboyo punya anak Kentol Wongso Manggolo.

“Sekarang yang menarik adalah dari nama? Wongso Sarkoro itu berarti terkait dengan Manggir. Soboyo Resoboyo itu berarti menjaga dari bahaya. Berarti apa? Karena dikhawatirkan Mataram akan ada serangan dari selatan melalui Kali Progo. Dulu Kali Progo ada ada pelabuhan besar di Manggir. Oleh sebab itu maka namanya Resoboyo yang bergelar Kentol. Kentol itu semacam raja kecil atau pemimpin wilayah yang berdaulat otonom. Sedangkan Wongso Manggolo, artinya Manggolo itu ningrat,” paparnya.

Menurut Ikhwan pula, trah Wongso Manggolo menurunkan banyak demang di Kulon Progo dan sebagainya. Jabatannya besar sekali. Jika sekarang ada kampus Wangsa Manggala, bisa jadi idenya dari nama Wongso Manggolo.

“Nah, Wongso Manggolo punya anak namanya Kentol Ongkojoyo. Saat masa Kentol Ongkojoyo ini hidup, terjadilah perang Diponegoro. Ongkojoyo pun punya anak namanya Joyo Sentono. Lalu, kenapa Pangeran Diponegoro memilih ke Selarong? Ada beberapa hal. Misalnya kekuatan politik Selarong yang sangat luar biasa karena peninggalan Pangeran Haryo Selarong dan trah Manggir. Kemudian secara supranatural di sini ada gua, namanya Gua Selarong, dulu namanya Gua Secang,” katanya.

Tempat Favorit Semedi

Ikhwan mengatakan pula, pada masa itu, ada beberapa tempat yang sangat favorit dan wajib dikunjungi oleh para ningrat untuk bersemedi, di antaranya di Gua Langse. Dua di Imogiri, kemudian yang ketiga di Selarong.

“Selarong pada saat itu karena dikuasai oleh Panembahan Hasyim merupakan wilayah yang sangat maju, sangat makmur dan sangat kuat, juga menjadi wilayah muslim yang taat. Salah satu tandanya ada masjid besar di sini,” katanya.

Dijelaskan Ikhwan juga, di area Selarong ada sawah luas yang menjadi tanah pelungguh dari KRT Sumodiningrat atau yang gugur di Perang Sepehi yang makamnya di Jejeran.

Saat Pangeran Diponegoro muda, ternyata sering mengaji di area Selarong. Termasuk di Masjid Selarong dan juga di Gua Secang untuk bersemedi.

Gua Secang dianggap sama dengan Gua Hiro. Sedangkan kalau ke Gua Langse dianggap bisa ketemu Nyai Roro Kidul.

“Pangeran Diponogoro memilih tempat ini karena sebelum dikuasai Panembahan Haryo Selarong 1, di sini merupakan wilayah namanya Candi Pertapaan. Candi Pertapaan itu syaratnya sulit di antaranya harus di lereng gunung, ada air mengalir, ada air terjun, ada air menggenang, dan ada persawahan yang subur untuk menghidupi,” katanya.

Tentu saja yang memenuhi syarat seperti itu tidak banyak. Di Pundong atau di Selarong cuma ada dua. Candi Pertapaan punya syarat lagi. Secara supranatural harus memenuhi kekuatan metafisis. Dengan perpaduan itu, Pangeran Diponegoro ingin memiliki tanah Selarong.

Oleh sebab itu ketika Kanjeng Raden Tumenggung Sumodiningrat wafat, maka tanah Selarong diwariskan kepada anak angkatnya, yaitu adik bungsu Pangeran Diponegoro yang bernama Pangeran Adinegoro. Karena Kanjeng Raden Tumenggung Sumodiningrat punya istri permaisuri yang tidak punya anak. Istri selir yang punya anak.

Di area Selarong ini pula dibangun pesanggarahan di timur, berbaur dengan masyarakat. Secara politik menyatukan tanah dari wilayah Kewarasan.

Sejak Lahir Diramal Kobarkan Perang

“Ini basis kekuatan karena Pangeran Diponegoro sejak lahir sudah diramal akan mengobarkan perang. Karena sudah diramalkan akan mengobarkan perang dan banyak menerima uang dan sebagainya, beliau berpikir, ‘Aku harus cari tanah untuk membangun kekuatan yang rakyatnya mendukung, yang tempatnya strategis, yang kaya, maka dipilihlah Selarong,” katanya.

Pecah perang Diponegoro sendiri persiapannya 3 tahun atau 2 tahun, intensif di area Selarong. Saat itu Selarong kota besar. Nama sejarahnya Slarong. Kemudian Perang Diponegoro, wilayah Diponegoro banyak. Tapi yang paling militan dari wilayah Mataram, Bantul ke selatan.

Di area Selarong, banyak sukarelawan mudah ditemui. Banyak bantuan. Salah satu orang dekat Pangeran Diponegoro adalah  Raden Joyo Sentono.

Setelah terjadi perang, Selarong diasingkan menjadi wilayah yang merdeka tapi tidak diurusi oleh keraton dan  masyarakat. Selarong dibiarkan menjadi miskin karena menakutkan.

“Kalau orang Selarong berdagang ke Semarang kemalaman enggak punya tempat tinggal, enggak bisa nginep. Nah, dianggap Selarong itu bahaya. Setelah itu Selarong menjadi miskin, banyak begal, dan sebagainya yang lahir dari sini,” katanya.

Setelah itu barulah dibentuk Desa Selarong mulai tahun 1914.

“Desa Selarong meliputi tujuh dusun kemudian dibentuk gabungan. Ada Desa Guosari, gabungan Desa Selarong dan Iroyudan,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar