Pekan Budaya Difabel, Rayakan Keberagaman dalam Ruang Inklusif

2 Min Read
Speaker in a pink shirt presenting on a decorated stage under a white tent to an audience seated on red carpeted area
Pengunjung sedang mengikuti pengenalan difabel di Pekan Budaya Difabel. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta resmi membuka Pekan Budaya Difabel (PBD) 2026 yang berlangsung pada 28–30 Juli 2026 di SLB Negeri 2 Bantul, Selasa (28/7/2026).

Mengusung tema “MURAKABI” yang bermakna merayakan keberagaman dalam ruang yang inklusif, penyelenggaraan tahun ini menghadirkan inovasi melalui kolaborasi Pekan Budaya Difabel dengan Mobil Keliling Terapi (Moekti).

Kolaborasi tersebut memadukan layanan terapi, seni, edukasi, dan pendampingan keluarga dalam satu ekosistem guna mendukung tumbuh kembang anak-anak difabel.

Peran Kebudayaan sebagai Media Pemberdayaan

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan, integrasi PBD dan Moekti menjadi langkah strategis untuk memperluas manfaat program sekaligus memperkuat peran kebudayaan sebagai media pemberdayaan.

Jika sebelumnya Moekti hanya berfokus pada layanan terapi dan melibatkan dua Sekolah Luar Biasa (SLB), tahun ini program tersebut diperluas dengan menggandeng 10 SLB melalui berbagai kegiatan seni, budaya, dan edukasi.

“Melalui tema MURAKABI, kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman difabel memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk berprestasi, berkarya, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Keterbatasan fisik maupun mental bukanlah penghalang untuk maju, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Talenta yang Patut Diapresiasi

Ketua Panitia PBD 2026, Broto Wijayanto, mengatakan, Pekan Budaya Difabel bukan sekadar ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga sarana membangun kesadaran masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki talenta, kreativitas, dan kemampuan yang patut diapresiasi.

“Kami berharap ke depan Pekan Budaya Difabel semakin inklusif. Teman-teman difabel tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat menjadi pelaku utama dalam penyelenggaraan kegiatan. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat secara langsung kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka,” katanya.

Menurut Broto, Pekan Budaya Difabel 2026 menghadirkan layanan terapi, pameran karya, pentas seni, workshop, dan diskusi parenting.

“Melalui rangkaian ini, saya berharap semakin banyak anak difabel memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi, memperluas kesempatan berkarya, serta memperkuat budaya inklusif di DIY sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan yang terbuka bagi semua,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar